Mihrab

Masjid Jama, Karya Terakhir Shah Jahan

SALAH satu sebab mengapa Masjid Jama India, yang dibangun tahun 1644 (10 Syawal 1060 Hijriah), sangat terkenal

Masjid Jama, Karya Terakhir Shah Jahan
MASJID Jama, New Delhi, mapsofindia-com. 

SALAH satu sebab mengapa Masjid Jama India, yang dibangun tahun 1644 (10 Syawal 1060 Hijriah), sangat terkenal, adalah karena ia menyimpan sejarah abad pertengahan, masa pemerintahan Sultan Shah Jahan. Masjid Jama adalah karya mahakarya (khususnya interior) terakhir Shah Jahan. Setelah itu tak ada menomen apapun lagi karena Shah Jahan wafat.

Sejarah mencatat pula bahwa Jama yang lebih besar dari bangunan Taj Mahal itu dibangun selama enam tahun, oleh sekitar lima ribu tukang batu terbaik, dengan biaya sekitar 10 lakhs rupee atau setara dengan 1 juta rupee, yang berasal dari kekaisaran Mughal, Agra.

Secara keseluruhan, baik denah ataupun struktur bangunan, Masjid Jama ini punya kemiripan dengan Masjid Fathepuri Sikhri (MFS) yang berada tak jauh dari Masjid Jama. Hanya saja Masjid Jama (dikenan juga sebagai Masjid Jumat), punya ukuran dan luas lebih besar (berdaya tampung 2500 jamaah) dari pada MFS.

Ketentuan
Majid yang disebut juga Masjid I-Jahan-Numa yang dalam bahasa Persia berarti Masjid Cermin Dunia ini, ramai oleh wisatawan lokal, bahkan wisatawan asing harus antre masuk masjid, walau hanya untuk mengagumi keindahannya saja.

Ketentuan lain, soal jam berkunjung dan busana. Pakaian semua pengunjung harus menutup aurat, pria harus memakai celana panjang, wanita pakaiannya tertutup minimal dari batas leher sampai ke bawah mata kaki. Tidak punya pakaian sesuai aturan? Pihak masjid menyediakan sarung untuk pria, dan kain jubah untuk wanita. Pengunjung harus melepas alas kaki, dan menitip di tempat penitipan alas kaki. Demi menghormati waktu ibadah umat Islam, kunjungan bagi nonmuslin harus di luar waktu-waktu ibadah lima waktu.

Lanscape
Awal mula berdiri hingga disempurnakan 14 tahun kemudian, tahun 1658, lanscape Masjid Jama sebenarnya sangat artistik. Ada puluhan anak tangga di tiga penjuru pintu masuk (pintu utara 39 anak tangga, selatan 33, dan pintu masuk dari timur beranak tangga 35 buah). Konon ada juga pintu masuk khusus untuk keluarga kerajaan. Kesemua anak tangga terbuat dari pualam hitam dan batu bata.

Apa yang agak mengganggu estetika pandang Masjid Jama? Ternyata anak tangga tersebut digunakan para pedagang dan pengamen, bahkan pengemis jalanan. Lalu bakda petang hari, anak tangga pada pintu timur, menjadi bazaar ternak, khususnya ayam dan burung.

Masjid Jama juga memiliki tiga pintu gerbang yang masing-masing memiliki menara. Sedangkan dua menara utama (dengan ketinggian 41 meter) khusus mengumandangkan azan. Dari menara dengan 130 anak tangga ini kita bisa menikmati lanscape kota Old Delhi. Tak lupa memperlihatkan hamparan benteng merah di sudut utara.

Ada pula tiga kubah besar bentuk silindris menyerupai drum yang dihiasi pualam hitam dan putih, yang puncaknya berhiaskan emas.

Warna ini juga menghiasi mihrab yang memiliki ceruk ke dalam, dilengkapi kaligrafi berbahasa Arab yang berpadu dengan pola bentuk geometris. Mihrab pun sengaja dibuat Sultan lebih tinggi dari singgasananya sendiri, berfilosofi betapa tinggi dan dihormatinya Islam.

Bagian lantai dilapisi dengan batu pualam berornamen garis mirip sajadah, masing-masing berukuran 95 x 45 cm. Sedikitnya 899 ornamen yang sama dipasang di lantai dalam masjid, sekaligus penanda bagi shaf shalat.

Dari masjid ini terdapat pintu akses menuju kota. Antara lain Khasmiri Gate, Delhi Gate, Ajmeri Gate, Turkman Gate. Awalnya, ada sepuluh pintu lagi yang ada di tembok kota Shahjahanabad (kota baru Delhi masa itu), di sepanjang tepi timur Sungai Yamuna, dengan pusat pemerintahan bagian timur laut, bernama Red Fort.

Mau berkunjung ke Masjid Jama? Lokasinya tak jauh dari The Red Fort, sekitar 2 km sebelah barat, tepatnya disisi jalan Chadni Chowk. Yang “memilukan”, Masjid Jama memang sudah berusia renta. Mungkin harus direnovasi lagi? Minimal mempertahankan situs budaya.(*/dbs)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved