Home »

Opini

Opini

Musibah Tsunami

SEMUA kita masih ingat dan tidak pernah terlupakan, betapa dahsyatnya gempa bumi yang diikuti dengan tsunami

Musibah Tsunami
WARGA berziarah di kuburan massal korban tsunami Aceh, di Siron, Aceh Besar, Selasa (26/12). 

(Renungan Akhir Tahun)

Oleh Abdul Gani Isa

“Tidak ada suatu musibah yang terjadi di bumi dan terhadap dirimu, melainkan sudah ditetapkan di dalam kitab (Lauh Mahfudh), sebelum Allah menciptakan manusia, sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid: 22)

SEMUA kita masih ingat dan tidak pernah terlupakan, betapa dahsyatnya gempa bumi yang diikuti dengan tsunami pada 26 Desember 2004. Musibah yang terjadi 13 tahun silam itu, telah memporak-porandakan sebagian besar wilayah pesisir utara dan barat Aceh, dengan menelan korban jiwa lebih 200 orang, di samping hilangnya harta benda yang tak terkira nilainya.

Peristiwa-peristiwa besar (bencana alam) itu juga menimpa hampir semua kawasan di atas bumi ini, tak terkecuali Negara-negara teknologi maju seperti Jepang, Taiwan, Cina, Eropa, Amerika, dan sebagainya. Yang lebih menyedihkan lagi ialah semua peristiwa besar tersebut dipandang seolah terjadi begitu saja, tanpa ada kaitannya dengan kehendak Tuhan Maha Pencipta alam ini, yakni Allah Swt dan tanpa ada kaitannya dengan pembangkangan manusia melawan syariat Allah Swt.

Hal tersebut dapat kita lihat dari ungkapan dan opini yang berkembang dalam masyarakat yang mengandung semangat melawan bencana-bencana besar tersebut dengan cara membangun rumah dan gedung anti gempa, teknologi pendeteksi tsunami, kanal-kanal raksasa pengendali banjir, hujan buatan untuk mengatasi kekeringan, menciptakan vaksin anti berbagai virus yang menyebar di berbagai penjuru dunia. Apa yang diberitakan, didiskusiakan, dan dilakukan sama sekali tidak mencerminkan hubungan semua peristiwa itu dengan Allah Rabbul ‘alamin.

Cara pandang manusia
Kalau kita mengkaji, ayat-ayat Alquran terkait bencana alam yang menimpa umat-umat sebelum kita, sejak zaman Nabi Nuh as, Ibrahim as, Luth as, Syu’aib as, Shaleh as, Musa as dan sebagainya, kita akan menemukan dua cara pandang manusia terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas bumi ini.

Pertama, cara pandang orang-orang kafir dan ingkar pada Allah dan Rasul-Nya. Cara pandang orang-orang yang sombong pada Allah dan tidak mengenal Tuhan Pencipta alam yang sebenarnya. Cara pandang orang-orang sekuler yang tidak mampu melihat kaitan antara Tuhan dengan hamba, antara agama dengan kehidupan dan antara dunia dengan akhirat. Manusia semacam ini adalah manusia yang tidak pernah mau dan tidak mampu menjadikan berbagai peristiwa alam tersebut sebagai pelajaran, dan sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah.

Mereka bukannya mengoreksi diri dan kembali kepada Allah, melainkan semakin bertambah kesombongan dan melawan syariat Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt berfirman, “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah.” (QS. al-Ghafir: 21).

Kedua, cara pandang orang-orang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya. Apa saja peristiwa alam yang terjadi mereka kembalikan semuanya kepada kehendak dan kekuasaan Allah, mereka hadapi dengan hati yang penuh iman, tawakakal, sabar dan tabah, serta mereka lihat sebagai sebuah ujian dan musibah untuk menguji kualitas keimanan dan kesabaran mereka, atau bisa juga sebagai teguran Allah Swt atas kelalaian dan dosa yang mereka lakukan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help