Tafakur

Penentu Kematian

Umumnya kita menangisi kematian anggota keluarga, sanak saudara, dan lain-lain, termasuk kematian dalam

Penentu Kematian

Oleh: Jarjani Usman

“Kami telah menentukan kematian masing-masing kamu…” (QS. Al Waqi’ah: 60).

Umumnya kita menangisi kematian anggota keluarga, sanak saudara, dan lain-lain. Termasuk kematian dalam jumlah banyak akibat suatu bencana. Sampai-sampai ada yang mengatakan, “Kematiannya begitu cepat.” Ini bermakna bahwa seolah-olah kematiannya belum saatnya. Padahal kalau membaca pesan Allah dalam Alquran, kematian merupakan ketentuan Allah.

Masing-masing kita hamba-hambaNya sudah ditentukan hari kematian, sehingga tak meleset sedikitpun. Sehingga tidak tepat mengatakan kematiannya begitu cepat. Dokter yang tahu seluk-belum penyakit dan tahu bagaimana menyembuhkannya pun, bisa mati muda.

Dengan demikian, sebaiknya kita bukan hanya menangis atau sedih saat mengenang kematian orang lain, tetapi juga menangisi diri sendiri yang belum (maksimal) mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.

Kelalaian diri kita sendiri bukan hanya karena belum cukup ibadah, tetapi juga belum mampu menjaga pahala dari ibadah-ibadah yang telah dilakukan. Bisa jadi sebahagian ibadah kita malah menghasilkan dosa karena mengganggu orang lain. Bisa jadi juga ibadah kita tidak diterima Allah karena masih gemar berpamer riya. Bisa juga ibadah kita habis pahalanya karena suka menzalimi orang lain dengan kata-kata menyakitkan hati, bersikap seolah-olah orang lain tak ada yang benar, dan lain-lain.

Karena itu, bila kita menyadari bahwa semua itu belum betul, sebaiknya segera bertaubat dari hal-hal demikian sebelum kematian tiba. Biarkan air mata berlinang saat mengenang diri yang belum bertaubat dengan sebenar-benarnya, padahal kematian sudah dekat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help