Opini

Bijak Mengakhiri Masehi

AYAT di atas seharusnya dapat menjadi warning bagi kita bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian

Bijak Mengakhiri Masehi
Meskipun diguyur hujan, para jamaah tetap mengikuti acara Zikir Akbar Gemilang dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 H, di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Kamis (21/9) malam. SERAMBI/BUDI FATRIA 

(Refleksi Akhir Tahun 2017)

Oleh Sri Rahmi

“Demi massa. Sesungguhnya manusia itu benar-banar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3)

AYAT di atas seharusnya dapat menjadi warning bagi kita bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian, apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Imam Al-Ghazali dalam bukunya Khuluqul Muslim menerangkan bahwa waktu adalah kehidupan. Karena itu, Islam menjadikan kepiawaian dalam memanfaatkan waktu termasuk di antara indikasi keimanan dan tanda-tanda ketakwaan seseorang. Orang yang mengetahui dan menyadari akan pentingnya waktu berarti memahami pula nilai hidup dan kebahagiaan.

Membiarkan waktu terbuang sia-sia dengan anggapan esok masih ada waktu merupakan salah satu tanda tidak memahami pentingnya waktu, padahal ia tidak pernah datang untuk kedua kalinya atau tidak pernah terulang. Dalam pepatah Arab disebutkan “Tidak akan kembali hari-hari yang telah lampau.” Menutup hari atau mengakhiri tahun dengan suka cita yang terlalu berlebihan adalah cerminan dari orang yang tidak memahami bahwa ada hal yang akan meninggalkannya.

Mengelola waktu
Jika berbicara mengelola waktu, maka kita berbicara tentang bagaimana merencanakan, mengorganisir, dan bahkan sampai pada bagaimana mengevaluasi waktu yang sudah kita habiskan. Rasulullah saw bersabda, “Ada dua nikmat, di mana banyak manusia tertipu di dalamnya, yakni kesehatan dan kesempatan.” (HR. Bukhari). Hadis ini menjelaskan pentingnya memanfaatkan kesempatan (waktu), karena tanpa disadari banyak orang terlena dengan waktunya. Waktu memiliki beberapa tabiat yang membuatnya menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan manusia. Pertama, cepat berlalu. Rasanya baru saja kita mengakhiri 2016, namun beberapa saat lagi kita akan kembali meninggalkan 2017. Perputaran waktu yang semakin cepat, menuntut kita untuk lebih menghargai waktu yang kita lewati dengan hal-hal yang bermanfaat; Kedua, mustahil kembali. Waktu yang telah kita lewati, baik setiap detik, setiap menit, setiap jam, maupun setiap saat yang telah terlewatkan dalam 2017 mustahil untuk dapat terulang kembali. Oleh sebab itu, jangan pernah menyia-nyiakan waktu yang telah diberikan oleh Allah Swt. Gunakanlah waktu dan kesempatan yang diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya sehingga tidak ada penyesalan dikemudian hari;

Ketiga, harta termahal bagi manusia. Waktu merupakan harta termahal bagi semua manusia dan tak ternilai harganya. Waktu lebih mahal daripada emas maupun berlian. Waktu adalah kekuasaan Allah Swt, maka jangan pernah menyia-nyiakan waktu, karena bisa jadi, esok atau lusa bukanlah milik kita lagi. Demikian beberapa tabiat waktu yang perlu kita ketahui, agar kita bisa lebih menghargai waktu, tidak menyia-nyiakannya, dan menggunakannya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Baik bermanfaat untuk diri sendiri, orang tua, bangsa, negara maupun agama.

Dalam mengisi akhir tahun Masehi ini, ada banyak hal yang dapat kita lakukan agar efektif dalam menjalani hari-hari akhir dari tahun Masehi dan awal hari di tahun baru Masehi, di antaranya: Pertama, isi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat. Memang banyak kegiatan yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu luang diakhir tahun seperti ini karena bertepatan dengan libur sekolah. Namun tidak sedikit orang yang mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang kurang bermanfaat. Jadi, inilah tugas kita sebagai muslim yang baik, yaitu memanfaatkan waktu luang yang kita miliki untuk mengerjakan hal yang bermanfaat;

Kedua, menggunakan satu waktu untuk banyak kegiatan. Ada pepatah yang mengatakan “Sekali mendayung dua atau tiga pulau terlampaui”. Artinya kita bisa belajar memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan seefektif dan seefisien mungkin. Sehingga waktu yang kita miliki mempunyai banyak manfaat;

Ketiga, mengerjakan pekerjaan pada waktunya. Sebenarnya yang paling penting dalam bekerja dan beramal bukanlah bekerja sebanyak-banyaknya, akan tetapi harus dilihat juga waktu dan tempatnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa amalan yang paling utama adalah amalan yang dikerjakan menurut waktunya. Ketika datang waktu sholat, maka yang paling utama adalah melakukan sholat, ketika datang waktu Ramadhan, maka amalan yang paling utama dikerjakan adalah puasa, ketika datang waktu haji, maka yang paling utama dikerjakan adalah haji, dst;

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help