Opini

Muak terhadap Praktik Politik Haram

SAYA ber-husnuz-zan dan memberi apresiasi kepada Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) yang telah menunjukkan kriativitas

Muak terhadap Praktik Politik Haram
Ghazali Abbas Adan

Oleh Ghazali Abbas Adan

SAYA ber-husnuz-zan dan memberi apresiasi kepada Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) yang telah menunjukkan kriativitas, kepolosan, tidak tendensius dan mendeklarasikan “Muak” terhadap beberapa hal yang memang benar adanya, merupakan hal-hal yang harus dimuakkan oleh siapapun yang menghendaki kemajuan dan kehebatan Aceh.

Namun berdasarkan pengalaman dan bukti nyata selama ini, pasca-penandatanganan MoU Helsinki ada hal lain yang saya anggap sebagai sesuatu yang merupakan “endatu”, yang sejatinya harus lebih utama dimuakkan oleh nasyarakat beradab (madani) demi kemajuan dan kehebatan Aceh, yakni muak terhadap perilaku politik haram, praktik ketika memburu dan mempertahankan kekuasaan dengan malakukan 5-P.

Pertama, PEU YO, yakni melakukan intimidasi dan mebebar teror, baik terhadap kompetetor maupun terhadap rakyat dengan berbagai modus oprandi, sekaligus mengedepankan isu-isu primordialis sempit/picik, serta ungkapan-ungkapan yang menakutkan ke tengah-tengah masyarkat.

Kedua, PEUREULOH, yakni merusak alat-alat peraga, kantor, posko dan kendaraan dan lain-lain pihak-pihak yang dianggap nenjadi batu sandungan dalam upaya memuluskan jalan menuju dan/atau mempertahankan kekuasaan.

Ketiga, PEUNGEUT, yakni dengan berbagai cara, halus, licik, lihai, kasar bahkan brutal memanipulasi angka-angka perolehan suara sejak di TPS sampai terminal akhir rekapitulasi suara.

Keempat, PENG, yakni mebebar uang, niscaya dengan uang yang ditebarkan itu dapat keuntungan perolehan suara rakyat.

Dan, kelima, POH MOPOH, yakni tidak segan-segan menumpah darah, bahkan merasa tidak berdosa membunuh manusia dalam upaya memenangkan persaingan politik yang dari kemenangan itu mendapatkan kekuasaan politik, yang dalam waktu bersamaan dapat meningkatkan status sosial, materi dan sebagainya.

Tak ada khilafiyah
Terhadap paling kurang 5-P ini tidak ada khilafiyah di kalangan insan-insan beradab termasuk insan yang mendambakan Aceh jaya dan hebat, bahwa sesungguhnya perilaku 5-P ini merupakan praktik politik haram, sehingga menurut saya dan saya yakin semua insan beradab di manapun dan kapanpun wajib dan pasti muak terhadapnya.

Oleh karena itu, saya menyarankan kepada YARA yang merupakan inisistor deklarasi “Muak” juga manambah nomenklatur “muak terhadap praktik politik haram”, apalagi menghadapi Pemilu Legislatif 2019 yang akan datang.

Insya Allah apabila dalam Pemilu Legislatif 2019 nanti tidak ada lagi praktik politik 5-P tersebut. Sebaliknya, akan lahir dan muncul anggota parlemen yang merupakan elite politik berkualitas, cerdas, beradab, berintegritas, dan pro-rakyat.

Sehingga dengan demikian bermodalkan karakter terpuji tersebut akan menjalankan tugas dan amanah rakyat dengan penuh tanggung jawab, dan apabila ada keyakinan pembahasan dan pengesahan APBA tepat waktu sebagai satu modal utama mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat menuju Aceh yang jaya dan hebat. Maka dengan elite politik dengan kualitas demikian, insya Allah jaya dan hebat akan tercapai.

Dengan kata lain, bahwa dengan menunjukkan sikap muak sebagaimana dideklasrikan YARA, plus muak terhadap praktik politik haram 5-P yang saya usulkan itu, serta menampilkan perilaku politik halal sebagai antitesis perilaku politik haram itu, Aceh jaya dan hebat akan terwiujud. Insya Allah.

* Ghazali Abbas Adan, Senator Aceh (Anggota DPD RI). Email: ghazali.adan@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help