Citizen Reporter
Keagungan Warisan Raja Thailand
KALI ini saya ingin berbagi pengalaman dari kunjungan ke Kota Bangkok, Thailand , pada akhir Desember lalu
OLEH TEUKU REZA FERASYI, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, melaporkan dari Bangkok, Thailand
KALI ini saya ingin berbagi pengalaman dari kunjungan ke Kota Bangkok, Thailand , pada akhir Desember lalu. Kunjungan saya dalam rangka mengikuti kegiatan “One Health International Conference 2017” yang dilaksanakan oleh Thammasat University, Bangkok.
Jika mendengar orang menyebut Thailand, mungkin kita akan terbayang berbagai tempat wisata di sana, seperti istana raja, pantai Pattaya, dan Pulau Phuket. Selain itu, mungkin juga kita masih ingat bagaimana berdukanya rakyat di negeri itu setelah meninggalnya Raja Bhumibol Adulyadej pada Oktober 2016. Raja yang agung bagi rakyatnya tersebut sekarang telah digantikan oleh putranya bernama Maha Vajiralongkorn.
Walau masih dibayang-bayangi oleh keagungan ayahnya, namun raja baru saat ini secara perlahan juga telah mendapat tempat tersendiri di hati rakyat Thailand. Keberadaan raja di mata rakyat Thailand sangat diagungkan dan dihormati. Saya perhatikan ketika tiba di Bangkok, foto atau gambar raja baru tersebut yang gagah dengan baju kerajaan dalam berbagai versi dipasang di berbagai tempat. Sesaat setelah mendarat di Bandara Don Mueang, saya juga melihat stiker foto raja baru di bagian kaca depan bus umum yang kami tumpangi menuju hotel.
Di dalam bus ini saya juga mendapatkan hal unik yang lain, yaitu melihat kondekturnya seorang wanita dengan usianya terlihat tak lagi muda dan memegang kotak tiket. Keunikannya adalah kotak tiket yang dia pegang itu sekaligus berfungsi untuk memotong tiket sesuai pembayaran penumpang tanpa harus menggunakan pisau lipat atau gunting. Jika suatu saat nanti Anda berkunjung ke Bangkok, cobalah menikmati naik bus dan temukan keunikan ini.
Bicara sarana transportasi, di Kota Bangkok tergolong cukup maju. Transportasi umum mulai dari bus, Bangkok Mass Transit System (BTS) skytrain, kereta cepat The Metropolitan Rapid Transit (MRT), dan boat semua dapat saling terkoneksi.
Selain itu tersedia sarana transportasi berbasis aplikasi online dan kendaraan seperti becak yang disebut tuk-tuk. Ketersediaan sarana transportasi ini juga sangat memudahkan para wisatawan dalam mengunjungi tempat-tempat menarik di Bangkok. Di antaranya adalah wisata ke Grand Palace (istana raja) dapat dijangkau menggunakan koneksi transportasi skytrain dilanjutkan boat dengan tiket turis jenis hop-on-hop-off, sehingga kita dapat menaiki boat sepanjang hari dan singgah di delapan tempat tujuan wisata sepanjang Sungai Chao Phraya.
Di sepanjang sungai tersebut kita juga bisa melihat bagaimana setiap orang mengagungkan Raja Maha Vajiralongkorn dengan cara memasang foto-fotonya berukuran besar di bagian bangunan masing-masing. Bahkan ada yang mendesain bangunan puluhan lantai dengan menampilkan gambar ukuran sangat besar dari raja tersebut di bagian dindingnya.
Saat mengarungi Sungai Chao Phraya kita juga bisa melihat berbagai jenis perahu yang pulang dan pergi. Ada perahu terbuat dari kayu atau berbahan fiber dengan laju yang lambat dan ada yang sangat cepat. Sebagian besar perahu-perahu tersebut digunakan untuk mengangkut turis yang dilengkapi dengan pemandu wisata orang Thailand yang cukup ramah serta mampu berbahasa Inggris, Cina, dan Jepang.
Selain itu ada juga perahu pengangkut barang dan perahu pembersih sungai. Jenis perahu yang saya sebutkan terakhir ini sangatlah menarik, dengan warna kuning mencolok, memiliki roda dan alat pengeruk. Ternyata alat pengeruk digunakan untuk membersihkan tanaman enceng gondok yang mengotori sungai, sehingga sungai ini dapat selalu dijaga kebersihannya dan perjalanan perahu setiap hari menjadi lancar. Melihat hal ini membuat saya terbayang seandainya sungai-sungai yang ada di kota-kota di Aceh dengan airnya yang lebih bersih daripada sungai di Bangkok juga mampu menjual wisata demikian.
Pilihan tempat kunjungan lain bagi para turis saat berada di Bangkok adalah pasar-pasar murah yang ada di berbagai sudut kota ini. Salah satu pasar yang cukup terkenal dan sempat kami kunjungi adalah Chatuchak Weekend Market di wilayah Chatuchak. Lokasinya dekat dengan perhentian kereta skytrain di Stasiun Mo Chit. Pasar ini hanya buka hari Sabtu dan Minggu.
Tempat penjualan sudah dibuat peta lokasi sesuai jenis barang yang diperdagangkan, mulai dari makanan kering, souvenir, pakaian, keramik, dan sebagainya. Termasuk juga di dalamnya dijual hasil pengolahan usaha pertanian. Misalnya, produk-produk buah-buahan kering dan olahan lainnya berlabel halal yang saat ini menjadi salah satu pilihan oleh-oleh bagi wisatawan saat berkunjung ke sana.
Jika kita mau mencari langsung ke tempat lokasi penjualan jenis barang yang hendak dibeli, maka bisa melihat di peta pasar ini pada seksi nomor berapa benda tersebut diperdagangkan. Dijamin pengunjung tidak akan tersesat karena dibagikan peta secara gratis.
Di sini juga terdapat sejumlah kedai makanan halal, yang tidak mudah ditemukan jika di kawasan pusat Kota Bangkok. Beberapa kedai halal yang berjualan di sana bernama Medina Halal Noddle Food, Kah Jak, dan Zaman Islam. Saat membaca dua nama kedai terakhir, saya dan kawan seperjalanan juga sempat berpikir jangan-jangan pemiliknya orang Aceh. Bahkan kami sempat menduga kedai Zaman Islam miliknya ayahanda Zakaria Saman. Tapi dugaan kami tidak terbukti setelah bertemu dengan pemilik sebenarnya, hingga membuat kami tertawa di dalam hati.
Kembali kepada kisah keagungan Raja Thailand, kami memperoleh cerita yang menakjubkan dari seorang profesor emeritus saat mengunjungi Chulalongkorn University (CU) di Kecamatan Pathumwan, Bangkok. Kebetulan kami sedang menaiki shuttle bus gratis di lingkungan kampus utama CU menuju Fakultas Sains Veteriner (Ilmu Kedokteran Hewan). Saat itu, setelah berkenalan beliau pun bercerita bahwa tanah kampus bukan milik pemerintah, tetapi adalah milik CU pribadi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/teuku-reza-ferasyi_20180103_120347.jpg)