Mahasiswa Kembali Demo Tolak Monumen Patung

Seratusan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai organisasi kembali melakukan demonstrasi ke Polres Agara

Mahasiswa Kembali Demo Tolak Monumen Patung
Seratusan mahasiswa yang tergabung dalam elemen Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kutacane, Pemerintahan Mahasiswa Universitas Gunung Leuser (UGL), Himpunan Ulama (HUDA) Aceh, Badan Eksekutif Mahasiswa STAISES, LDK, Alhuda STAISES, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, dan ormas Islam serta tokoh masyarakat, demo Polres Agara, Selasa (2/1). Demontran menolak berdirinya monumen patung keluarga di Desa Kampung Nangka, Kecamatan Lawe Bulan. SERAMBI/ASNAWI LUWI 

KUTACANE - Seratusan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai organisasi kembali melakukan demonstrasi ke Polres Agara, Kutacane pada Selasa (2/1). Mereka menolak pendirian monumen patung keluarga di Desa Kampung Nangka, Kecamatan Lawe Bulan.

Organisasi itu terdiri dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bersama Pemerintahan Mahasiswa Universitas Gunung Leuser (UGL), Himpunan Ulama (HUDA) Aceh, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAISES, LDK, Alhuda STAISES, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan ormas Islam serta tokoh masyarakat.

“Kami minta patung monumen di Kampung Nangka diturunkan, karena diduga tidak sesuai dengan Qanun Syariat Islam Aceh,” ujar Fajriansyah dalam orasinya. Dia menyatakan patung itu ikut mencoreng marwah Syariat Islam dan dapat merusak kerukunan umat beragama serta dapat merusak kearifan lokal.

Para demontran juga mengusung berbagai poster yang berisikan penolakan atas pendirian patung itu, milik keluarga Palmer Situmorang. Poster lainnya bertuliskan: “Bupati dan DPRK Agara harus segera melahirkan qanun dan Perbup tentang pelarangan pendirian patung.”

Dalam demo, pendemo juga memaksa masuk untuk ikut serta dalam musyawarah pendirian patung monumen yang melibatkan Muspida Plus dan pihak terkait. Eko Prasetyo, seorang demontran mengatakan dalam rapat belum ada keputusan.

Sedangkan arus transportasi sempat macet dan diblokir aparat kepolisian Satlantas Polres Agara dan demontran dikawal ketat. Arus transportasi kembali lancar setelah massa membubarkan diri dengan tenang dan damai sekitar pukul 17.00 WIB. Kegiatan itu dihadiri oleh Muspida Plus, ormas Islam, FKUB Agara dan pihak keluarga pembuat patung.

Sementara itu, rapat koordinasi seluruh stakeholder yang terdiri dari Muspida Plus, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Aceh Tenggara, MAA, dan pihak terkait lainnya tentang pendirian patung monumen Kampung Nangka, Kecamatan Lawe Bulan, Agara, telah melahirkan tiga kesepakatan. Tetapi, tidak ada yang disepakati.

Pilihan itu yakni patung dipindahkan dari Aceh Tenggara, patung ditutup pagar tembok tinggi agar tidak kelihatan dari jalan, serta patung tidak boleh didirikan. Dari tiga opsi ini belum ada satupun disepakati sehingga keputusan ini harus menunggu Bupati Agara, Raidin Pinim MAP kemvali dari Medan.

Wakil Bupati (Wabup) Aceh Tenggara, Bukhari mengatakan soal patung itu seharusnya tidak dibenturkan dengan hal lain, apalagi agama, karena murni ide Palmer Situmorang yang membuat patung keluarganya. “Mari kita jaga kerukunan antar umat beragama dan mari kita jaga keanekaragaman suku di Agara yang menjadi miniaturnya Indonesia,” katanya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh Tenggara juga menyatakan hal yang sama, dimana kerukunan antar umat beragama dan saling menghargai serta menghormati harus tetap dijaga. Sednagkan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tenggara, Ustad M Abbas LC mengatakan, persoalan patung monumen ini harus dicarikan solusinya.

Dia beralasan, masyarakat Agara masih awam dengan patung monumen tersebut dan hal ini telah menjadi kepentingan orang banyak. “Apapun ceritanya, kita harus mencari solusi persoalan patung itu agar tidak berlarut-larut,” katanya.(as)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help