Home »

Opini

Opini

Tebarkan Kedamaian di Nusantara Ini

HARI Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia yang diperingati pada setiap 3 Januari oleh seluruh Aparatur

Tebarkan Kedamaian di Nusantara Ini
SERAMBI/SENI HENDRI
Asisten II Setdakab Aceh Timur, Usman A Rahman, disamping pejabat Kemenag Aceh Timur memotong pita saat pembukaan perlombaan olahraga, seni, dan stan, dalam rangka menyambut HAB Ke-72 tahun 2018. 

(Refleksi HAB Ke-72 Kementerian Agama RI)

Oleh Mukhsinuddin M. Juned Syuib

HARI Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia yang diperingati pada setiap 3 Januari oleh seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama Republik Indonesia di seluruh Indonesia, di kota maupun di pedesaan sampai saat ini sudah berusia 72 tahun pada 2018 ini dengan mengusung tema “Tebarkan Kedamaian di Nusantara Ini”.

Dalam kinerja Kementerian Agama RI selama ini dengan berbagai prestasi yang telah dilakukan oleh Kementerian Agama RI. Maka dari itu berbagai upaya dan kinerja Kementerian Agama RI terus dilakukan dalam memperbaiki pendidikan Agama di madrasah, pelaksanaan Haji dan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan di seluruh Indonesia serta memperbaiki birokrasi lebih baik ke depan. Untuk itu, perlu dilakukan langkah-langkah strategis dalam meningkatkan kualitas dan kinerja Kementerian Agama RI itu sendiri.

Hari ini, banyak pakar pendidikan mengemukakan pendapatnya tentang faktor penyebab dan solusi mengatasi kemerosotan mutu pendidikan di madrasah pada Kementerian Agama RI dan berbagai macam metode dan langkah yang harus dilakukan hari ini. Bahkan pemerintah telah melakukan berbagai upaya secara terencana sejak sepuluh tahun lalu. Hasilnya, cukup membanggakan untuk madrasah tertentu di beberapa kota di Indonesia, khususnya di Aceh. Tetapi belum merata dan masih kurang menyeluruh ke pelosok negeri Nusantara ini.

Langkah ke depan
Berbagai program dan analisa yang perlu dilakukan dalam memberikan dampak yang positif bagi Kementerian Agama RI ke depan di antaranya: Pertama, adanya evaluasi kinerja (reaward and punishment), penghargaan itu sangat perlu diberikan untuk menarik dan mempertahankan sumber daya manusia (SDM). Seorang guru dan dosen akan termotivasi jika diberikan penghargaan ekstrinsik (gaji, tunjangan, dan sertifikasi) maupun penghargaan instrinsik (pujian, tantangan, pengakuan, tanggung jawab, kesempatan dan pengembangan karier).

Guru dan dosen sebagai manusia yang diharapkan sebagai ujung tombak meningkatkan mutu pendidikan kita terutama di madrasah dan perguruan tinggi, bagaimana mengangkat harkat dan martabatnya. Jasanya yang besar dalam dunia pendidikan pantas untuk mendapatkan penghargaan intrinsik dan ekstrinsik agar tidak termarjinalkan dalam kehidupan masyarakat.

Kedua, tingkatkan profesionalisme. Kecanggihan kurikulum dan panduan manajemen madrasah dan pergurun tinggi Islam tidak akan berarti jika tidak ditangani oleh guru dan dosen profesional. Karena itu, tuntutan terhadap profesinalisme guru dan dosen yang sering dilontarkan masyarakat dunia usaha/industri, legislatif, dan pemerintah adalah hal yang wajar untuk disikapi secara arif dan bijaksana.

Konsep tentang guru dan dosen profesional ini selalu dikaitkan dengan pengetahuan tentang wawasan dan kebijakan pendidikan, teori belajar dan pembelajaran, penelitian pendidikan (PTK), evaluasi pembelajaran, kepemimpinan pendidikan, manajemen pengelolaan pendidikan, serta tekhnologi informasi dan komunikasi. Sebagian besar tentang indikator itu sudah diperoleh di perguruan tinggi Islam, dan lain-lain. Fenomena itu, hari ini menunjukkan bahwa kualitas profesionalisme guru dan dosen kita masih rendah. Faktor-faktor internal seperti penghasilan yang belum mampu memenuhi kebutuhan fisikologis dan profesi itu masih dianggap sebagai faktor determinan. Akibatnya, upaya untuk menambah pengetahuan dan wawasan menjadi terhambat, karena ketidakmampuan pendidik secara finansial dalam pengembangan SDM melalui peningkatan jenjang pendidikan.

Hal itu juga telah disadari pemerintah sehingga program pelatihan mutlak diperlukan karena terbatasnya anggaran untuk meningkatkan pendidikan oendidik. Program pelatihan ini dimaksudkan untuk menghasilkan guru dan dosen sebagai tenaga yang terampil (skill labour) atau dengan istilah lain, memiliki kompetensi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help