Home »

Opini

Opini

Penggunaan Obat Bebas dan Dampaknya

PERGANTIAN musim seperti sekarang ini biasanya membuat tubuh lebih rentan terhadap gangguan kesehatan

Penggunaan Obat Bebas dan Dampaknya
SERAMBI/HARI MAHARDHIKA
Kepala BPOM Banda Aceh, Sjamsuliani menggelar konferensi pers terhadap temuan makanan, minuman dan obat yang tidak memiliki izin edar, di kantor BPOM Banda Aceh. SERAMBI/HARI MAHARDHIKA 

Oleh Wardah

PERGANTIAN musim seperti sekarang ini biasanya membuat tubuh lebih rentan terhadap gangguan kesehatan, hal ini disebabkan karena tubuh dipaksa beradaptasi dengan suhu dan kelembaban udara yang berbeda daripada sebelumnya. Kondisi ini menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan, sehingga berdampak pada berkembangnya berbagai jenis penyakit. Saat mengalami sakit, sebagian masyarakat akan berusaha melakukan swamedikasi (mengobati dirinya sendiri tanpa bantuan tenaga medis).

Satu tindakan swamedikasi yang paling sering dilakukan adalah penggunaan obat-obatan secara bebas, tanpa melalui petunjuk dokter. Hal ini didorong oleh beberapa faktor, seperti tingkat pengetahuan yang kurang tentang kesehatan dan dampak penggunaan obat-obatan, asumsi masyarakat terhadap akses ke pelayanan kesehatan yang sulit dan mahal, serta mudahnya mendapatkan obat-obatan yang dijual secara bebas.

Penggunaan obat tanpa resep dalam upaya swamedikasi telah dilakukan secara luas oleh masyarakat. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Republik Indonesia pada 2013 menunjukkan bahwa sebanyak 35,2% rumah tangga di Indonesia menyimpan obat untuk swamedikasi.

Menolong diri sendiri
Berkaitan dengan hal tersebut, untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri dan untuk mengatasi masalah kesehatan dasar secara tepat, aman dan rasional, maka pemerintah menetapkan keputusan Menteri Kesehatan No.919/MENKES/PER/X/1993, Pasal 2 tentang obat tanpa resep yang terdiri dari obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat wajib apotek (OWA) yang dapat diberikan oleh apoteker kepada pasien di apotek tanpa resep dokter.

Pada dasarnya bila dilakukan dengan benar dan sesuai dengan petunjuk tersebut, penggunaan obat yang digunakan dalam swamedikasi sangat membantu masyarakat untuk memelihara kesehatannya dan mengobati berbagai kondisi penyakit ringan yang terjadi di masyarakat.

Fenomena dan akibat penggunaan obat bebas di masyarakat
Opini yang berkembang di masyarakat apabila sakit adalah cukup dengan membeli obat di apotek atau depot obat, serta tidak perlu ke dokter. Hal ini sudah dianggap biasa dan menjadi budaya di masyarakat. Di sana mereka mendapatkan obat yang diracik oleh penjual obat, terkadang termasuk obat berbahaya dan untuk penggunaannya harus dalam pengawasan dokter.

Dan, mirisnya sebagian penjual obat tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup dalam bidang farmasi untuk memberikan informasi tentang obat-obatan dan hanya berdasarkan pengalaman semata. Mereka mencampurkan obat-obatan secara bebas sesuai keluhan atau permintaan pembeli tanpa menjelaskan aturan yang harus dipatuhi dalam penggunaannya, dan oleh pengguna obat tersebut hanya digunakan saat ada keluhan saja.

Satu golongan obat yang paling sering digunakaan untuk swamedikasi adalah antibiotik. Pada saat ini, dunia sudah sampai pada tahap menuju ke era pasca-antibiotik, di mana infeksi biasa akan dapat membunuh. Hal ini disampaikan oleh Dr Margaret Chan, Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia WHO pada pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), April 2017 lalu.

Kemujaraban antibiotik dunia dengan cepat menurun - obat yang kita gunakan untuk menangani infeksi kinerjanyasemakin berkurang. Jika kecenderungan ini terus berlanjut tanpa kita melakukan intervensi, kita mungkin akan mendapati bahwa tidak ada satu antibiotik pun yang tersisa untuk menangani semua tipe infeksi bakteri.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help