Home »

Opini

Opini

Ini Momentum Muhasabah

WAKTU berjalan begitu cepat, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan

Ini Momentum Muhasabah
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIR
Suasana malam tahun baru di salah satu ruas jalan di Kota Sabang, Senin (1/1/2018) dinihari. 

Oleh Agustin Hanafi

WAKTU berjalan begitu cepat, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, hingga tanpa terasa saat ini kita telah berada di tahun baru 2018 Masehi. Rasanya baru saja kemarin kita memasuki tahun baru, namun kini sudah memasuki tahun baru lagi, alangkah cepatnya pertemuan.

Begitulah siklus kehidupan ini, seakan-akan baru saja kemarin kita menginjak remaja, bahkan mungkin sebagian besar di antara kita masih memiliki ingatan segar tentang bagaimana indahnya bermain di masa kecil. Ketika muda terlihat begitu gagah perkasa, cantik jelita, dan memiliki rambut hitam mempesona. Namun kini telah menjadi seorang kakek dan nenek tua yang kulitnya telah keriput, penglihatan yang kabur, rambut telah memutih, dan tubuh membungkuk hingga terkadang untuk berjalan pun harus dibantu dengan tongkat atau kursi roda.

Waktu tidak dapat diputar ke belakang, hingga banyak yang menyesali diri, mengapa sebelumnya tidak begini dan begitu. Agar manusia tidak menghabiskan umur secara sia-sia, Allah Swt telah memperingatkan secara tegas agar manusia tidak lalai, dan selalu berjalan pada koridor yang tepat dengan firman-Nya, “Demi masa (demi waktu ashar) sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3).

Disebut “waktu ashar” dalam ayat tersebut karena ketika inilah umat manusia baru menyadari betapa cepatnya perjalanan waktu. Mungkin sebelumnya, sejak pagi hari lalai tanpa banyak berbuat dan mengisi hari-harinya dengan pekerjaan yang bermanfaat, sehingga tidak terasa kalau hari telah senja. Sedangkan persiapan bekal belum apa-apa. Begitulah jika ditamsilkan kepada kepribadian kita.

Tidak sedikit orang tua yang merasa prihatin terhadap sikap anaknya yang tidak mau berjuang dan bekerja keras --memperingatkan bahwa penyesalan itu selalu datang di akhir-- dengan harapan agar sang anak tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama seperti pengalaman pahit orang tuanya. Yaitu, tidak memiliki prospek masa depan yang cerah, karena di masa muda tidak bersungguh-sungguh dalam belajar hingga terkatung-katung di masa tua. Saat tubuh masih sehat dan bugar tidak termotivasi untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan saat ini, telah berada di ujung kehidupan yang serba sakit-sakitan dan kepayahan.

Yang perlu disadari oleh kita semua bahwa kehidupan ini hanya bersifat sementara, tak ubahnya seperti transit, menunggu beberapa saat lalu berlabuh kembali, dan akhirat adalah tempat abadi. Bagi yang menyadarinya, mereka akan mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya.

Namun sebaliknya, bagi yang kurang menyadari akan bersikap cuek dan tak acuh, selalu merasa muda, seolah-olah mereka hidup di pentas dunia ini untuk selamanya. Dirinya penuh dengan lumuran dosa, tidak mau melaksanakan salat, enggan berzakat dan bersedekah, bahkan memiliki dan memupuk sifat congkak dan angkuh dalam dirinya, sehingga ketika maut datang menjemput, mereka kaget bukan kepalang dan meminta penangguhan waktu walaupun sesaat, agar bisa melaksanakan perintah Allah. Namun tidak akan ada penangguhan sama sekali.

Momentum muhasabah
Pergantian tahun adalah sesuatu yang biasa, tak ubahnya seperti pergantian siang dengan malam. Dengan bergantinya tahun berarti jatah hidup kita di dunia ini semakin berkurang. Maka secara akal dan jiwa yang sehat jika umur dikurangi tentu akan bersedih, serta lebih berhati-hati dalam melangkah. Untuk itu, sangat aneh jika seseorang yang tahu umurnya berkurang, malah merasa girang dan antusias dalam merayakan pergantian tahun. Mereka berfoya-foya, bersikap mubazir, berpesta minuman keras, jingkrak-jingkrak, joget, meniup terompet sambil membakar kembang api. Na’uzubillah.

Sejatinya, dengan berjalannya waktu dan bergantinya tahun, dijadikan sebagai momentum muhasabah dan refleksi diri, yaitu merenungi segala hal yang pernah kita lakukan selama ini; apakah tinta emas yang kita goreskan di atas kanvas kehidupan atau noda-noda hitam yang lebih banyak mewarnai kanvas tersebut?

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help