SerambiIndonesia/

Tafakur

Muak .

Allah bukan hanya memberikan apa yang diminta hamba-hambaNya, tetapi juga apa yang tidak belum diminta atau tidak

Muak .

Oleh: Jarjani Usman

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman” (HR. Muslim).

Allah bukan hanya memberikan apa yang diminta hamba-hambaNya, tetapi juga apa yang tidak belum diminta atau tidak disadari pentingnya. Termasuk di antaranya dianugerahkan rasa muak, yang sangat bermanfaat bagi kita dalam menjalani hidup ini.

Muak adalah rasa jemuk, bosan, dan sejenisnya, yang kadangkala muncul pada diri orang-orang terhadap suatu hal yang terjadi berulang-ulang. Seperti seseorang yang sudah sering mendengar janji-janji para pemimpin atau sebahagian wakil rakyat yang katanya mengutamakan kepentingan rakyat dan kemakmuran bersama, tetapi kenyataannya tidak demikian.

Bersyukurlah orang-orang yang masih mengalami rasa muak terhadap hal-hal negatif, karena itu merupakan proses awal menuju perubahan ke arah yang baik. Karena merasa muak, kita akan terdorong untuk tidak memilih lagi pemimpin atau wakil dari kalangan orang-orang yang suka membual dengan janji-janji manis sewaktu kampanye tapi tak mau mewujudkannya atau orang-orang yang menjadikan jabatan sebagai bisnis pribadinya.

Itu semua itu bentuk kemungkaran yang berdampak buruk terhadap rakyat banyak, sehingga wajib dicegah oleh setiap orang. Paling kurang kita muak melihat atau mendengarnya serta membencinya dengan hati. Namun diingatkan bahwa sebatas membenci saja terhadap suatu kemungkaran termasuk perasaan orang-orang yang lemah imannya. Dengan kata lain, rasa muak atau benci perlu ditindaklanjuti dengan lisan dan tangan untuk mengubah keadaan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help