Tahun 2017, 48.000 Bayi Rohingya Lahir di Pengungsian, Lebih 36.000 Anak Telah Jadi Yatim Piatu

Proyeksi angka kelahiran bayi berdasarkan dengan jumlah pengungsi yang sedang hamil saat ini.

Tahun 2017, 48.000 Bayi Rohingya Lahir di Pengungsian, Lebih 36.000 Anak Telah Jadi Yatim Piatu
EPA/STRINGER
Pengungsi Rohingya 

SERAMBINEWS.COM, DHAKA - Organisasi independen, Save The Children, memperkirakan akan ada 48.000 bayi Rohingya lahir di pengungsian, di Bangladesh, pada tahun 2017.

Dilansir dari Associated Press, Jumat (5/1/2018), bayi-bayi kemungkinan akan lahir di tenda dengan kondisi tidak sehat, berisiko terserang penyakit, kurang gizi, dan berpotensi meninggal sebelum usia lima tahun.

"Tenda pengungsian memiliki sanitasi buruk dan sejumlah penyakit berkembang seperti difteri, campak, dan kolera, di mana bayi yang baru lahir sangat rentan," kata Rachael Cummings, penasihat kesehatan di Cox's Bazar, kota terdekat dengan lokasi pengungsian.

(Baca: Diterjang Arus Jembatan Plat Beton Gampong Bukit Pala Ambruk)

(Baca: Disangka Jambret, Ternyata yang Dikepung Pemancing Ikan)

Proyeksi angka kelahiran bayi berdasarkan dengan jumlah pengungsi yang sedang hamil saat ini.

Departemen pelayanan sosial di Cox's Bazar mengidentifikasi lebih dari 36.000 anak telah menjadi yatim piatu dan tinggal di kamp tersebut.

Lebih dari 650.000 etnis Rohingya melarikan diri dari operasi militer yang diluncurkan oleh militer Myanmar pada Agustus 2017.

(Baca: Lagi, Militer Arab Saudi Hancurkan Rudal yang Ditembakkan Kelompok Pemberontak Houthi)

(Baca: Ternyata, Oknum Sipir Ikut Terlibat Pembakaran di LP Lambaro)

PBB menyebutnya sebagai gerakan pembersihan etnis minoritas di negara bagian Rakhine, sebelah barat Myanmar.

Lebih dari 60 persen dari pengungsi Rohingya merupakan anak-anak.

Sebelumnya, Bangladesh telah melakukan negoisasi dengan Myanmar untuk menyiapkan kepulangan Rohingya ke desa-desanya.

Namun, hingga kini belum ada kejelasan mengenai keselamatan mereka apabila kembali ke Myanmar. (Associated Press)

Editor: faisal
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help