Tak Sekedar Pelengkap Riasan, Lipstik Merah Punya Sejarah yang tidak Biasa

Lipstik berwarna merah juga menjadi ciri khas dan pembeda para perempuan terkenal, mulai dari Marilyn Monroe, Gwen Stefani, hingga Taylor Swift.

Tak Sekedar Pelengkap Riasan, Lipstik Merah Punya Sejarah yang tidak Biasa
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

SERAMBINEWS.COM - Barangkali tak ada yang lebih diandalkan untuk memberi kesan glamor dan segar pada penampilan perempuan selain lipstik warna merah.

Sepanjang sejarahnya, warna merah merupakan simbol dari keberanian, kekuatan, feminin, bahkan kekuasaan. Sebuah warna yang klasik dan memberi kesan seksi pada mereka yang berani memakainya.

Lipstik berwarna merah juga menjadi ciri khas dan pembeda para perempuan terkenal, mulai dari Marilyn Monroe, Gwen Stefani, hingga Taylor Swift.

"Ini adalah keajaiban lipstik," kata pendiri Lipstick Queen, Poppy King.

Baca: Kisah Bedak dan Lipstik Mahal di Balik Penangkapan Patrialis Akbar

Meski begitu, 'keajaiban' itu tak selalu bermakna baik, terutama pada warna lipstik dan kosmetik secara umum.

Di awal masa perkembangan gereja-gereja Kristen di Inggris Raya, memakai lipstik akan dianggap sebagai sebuah dosa dan penipuan sehingga bisa dihukum.

Ketika itu, agama Kristen menganggap usaha mengubah penampilan wanita sebagai perlawanan kepada Tuhan.

"Memakai kosmetik juga dianggap sebagai pemalsuan penampilan, pengkhianatan pada kebenaran," jelas penulis buku Compacts and Cosmetics: Beauty from Victorian Times to the Present Day, Madeleine Marsh.

Dijelaskan oleh Rachel Weingarten, ahli sejarah kosmetik, di tahun 1400-1500, masa ketika gereja melarang penggunaan make up, seorang suami bisa menceraikan istrinya karena memakai kosmetik.

Halaman
12
Editor: Fatimah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help