SerambiIndonesia/

Tafakur

Menghitung Nikmat

Tahun terus berganti, tetapi umumnya kita jarang mau menghitung dan menilai hal-hal yang telah dinikmati

Menghitung Nikmat

Oleh: Jarjani Usman

“Dan jika kamu menghitung hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar benar maha pengampun lagi maha penyayang” (QS. An Nahl: 18). “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” (QS. Saba’: 13).

Tahun terus berganti, tetapi umumnya kita jarang mau menghitung dan menilai hal-hal yang telah dinikmati. Juga tak mau menghitung seberapa banyak kita telah mematuhi perintah dan larangan Allah sebagai Pemberi kenikmatan. Padahal menghitung kenikmatan, walau tidak semua dan memang tak sanggup, penting dalam menambah rasa syukur kepada Allah.

Kalau mau menghitung sehari saja, kita menikmati kemampuan dan kenikmatan dalam melihat, mendengar, merasa, berbicara, berjalan, bernafas, duduk, dan lain-lain. Belum lagi rasa nikmat di dalam tubuh, mulai dari jantung, hati, ginjal, limpa, urat hingga usus yang bekerja dengan baik. Juga kenikmatan berpikir dan menghasilkan karya yang mahal kalau dijual.

Sungguh semua itu akan terasa bernilai atau berharga lebih dari trilyunan, bila semuanya sakit dalam sehari pakai saja. Berapa uang untuk mengobati jantung hati, ginjal, limpa, urat hingga usus? Berapa uang yang perlu dihabiskan untuk memperbaiki pelihatan, pendengaran, perasaan, kemampuan berbicara, kemampuan berjalan, kemampuan bernafas, kemampuan duduk, dan lain-lain? Sungguh tak terhitung nikmat dari Allah setiap hari. Kalikan saja bagi yang sudah berumur 20 tahun, 40 tahun, 50 tahun atau 60 tahun.

Karena itu, sungguh keterlaluan bila kita tidak bersyukur. Sungguh tak tahu diri bila kita tak mau mematuhi perintah Allah untuk beribadah, melakukan yang makruf dan mencegah yang mungkar.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help