Ada Surat Asimilasi di Tangan Faisal

SAAT petugas BNNP Aceh memboyong Faisal untuk diperiksa, ternyata di tangan bos sabu tersebut ada surat

Ada Surat Asimilasi di Tangan Faisal
ASAP pekat mengepul ke udara akibat sejumlah ruangan dan mobil polisi di LP Kelas IIA Banda Aceh di kawasan Lambaro, Aceh Besar, dibakar napi saat terjadi kerusuhan di LP tersebut, Kamis (4/1). 

SAAT petugas BNNP Aceh memboyong Faisal untuk diperiksa, ternyata di tangan bos sabu tersebut ada surat asimilasi (proses pembinaan narapidana dalam masyarakat). Surat asimilisasi tersebut dikeluarkan oleh Kemenkumham RI Kantor Wilayah Aceh Nomor W1. PK.01.05.04-600 Tanggal 7 Agustus 2017.

Namun, asimilasi tersebut dipertanyakan oleh pihak BNNP Aceh, dan Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Drs Faisal Abdul Naser bersama anggota akan melakukan pelusuran lebih lanjut tentang adanya surat asimilasi di tangan Faisal.

“Kita akan mengecek lagi nanti tentang asimilasi yang dia peroleh itu. Faisal divonis 10 tahun, tapi karena dia mendapat asimilasi, dia akan bebes pada bulan Juli 2018. Untuk sementara kita akan periksa dulu soal asimilasi itu,” sebutnya

Seperti diketahui, Faisal, gembong sabu asal Aceh menjalankan bisnisnya sejak 2004 dan ditangkap pada 13 Maret 2013 sekitar pukul 18.00 WIB oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) di lobi barat Plaza Indonesia saat tersangka tengah berbelanja.

BNN telah mengincar Faisal sejak pertengahan 2012 setelah sebelumnya menangkap Murhadi cs dengan barang bukti (BB) sabu 2,27 kg.

Murhadi telah divonis 18 tahun penjara. Lalu tersangka lain yang seluruhnya jaringan Aceh, mulai Afdar, Basyarrullah, M Isa, Imam Suhadi, Imam Karyono, dan beberapa lainnya divonis 1 sampai 12 tahun penjara. Dari pengakuan seluruh tersangka, hanya mengarah ke satu nama bandar, yakni Faisal.

Sebelum ditangkap pada 13 Maret 2013, Faisal sempat terlihat di depan perumahan elite Rafles Hills Cibubur, Depok, mengendarai mobil Porsche B 99 FAI hitam. Kemudian petugas BNN membuntuti Faisal hingga Plaza Indonesia yang akhirnya ditangkap.

Pascapenangkapan Faisal, BNN menggeledah rumah tersangka di Rafles Hills Blok C6 Nomor 22 Depok. Dari penggeledahan itu, BNN pun mengamankan sejumlah barang bukti, mulai beberapa unit hp, ATM, buku rekening, 1 unit mobil Porsche Panamera 3.6L AT tahun 2012 nopol B 99 FAI seharga Rp 2 miliar lebih dengan pajak Rp 120 juta/tahun, satu unit mobil Mercy putih nomor polisi B 64 OI, satu unit mobil Honda V Tel City nomor polisi B 2229 GT, dan satu unit BMW putih 640i tahun 2012 nomor polisi B 99 FAL. Juga ditemukan uang Rp 35.027.000 dan uang Ringgit Malaysia 156 RM. Dalam tatanan pergaulannya, Faisal dikabarkan dekat dengan seorang wanita cantik dari kalangan selebritis.

Pengembangan pun menguak sejumlah aset lainnya yang diakui Faisal itu miliknya dan diperoleh dari hasil penjualan narkotika, berupa 1 unit SPBU di Bireuen, 1 hotel di Bireuen, 4 ruko di Bireuen, sejumlah bidang tanah, 22 sertifikat hak milik atas nama tersangka serta uang yang tersimpan di beberapa bank, kurang lebih Rp 10 miliar.

Data dari BNN menyebutkan nilai aset Faisal mencapai lebih Rp 38,240 miliar dari hasil penyitaan di dalam negeri.

Informasi gembong sabu tersebut tersiar luas di berbagai media setelah Deputi Pemberantasan BNN Irjen (Pol) Benny Mamoto menggelar jumpa pers di Jakarta, Kamis 28 Maret 2013.

Menurut Benny, tidak mudah mencokok Faisal. Tersangka memiliki kekuatan jaringan dan kekuatan uang sehingga sulit disentuh. Sepak terjang jaringan Faisal cukup luas, dengan omset yang tinggi dan terhubung langsung dengan jaringan di Malaysia. “Kita (BNN) juga akan bekerja sama dengan otoritas Malaysia, khususnya untuk penanganan aset yang ada di sana,” lanjut Benny saat jumpa pers waktu itu.(mir/dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help