Home »

Opini

Opini

Memasuki Tahun Politik 2018

SAAT petasan dan gema terompet bertebaran memasuki tahun baru di belahan penjuru Indonesia

Memasuki Tahun Politik 2018
net
Ilustrasi

Oleh Erlanda Juliansyah Putra

SAAT petasan dan gema terompet bertebaran memasuki tahun baru di belahan penjuru Indonesia, Aceh memiliki warna yang berbeda, tetap khusuk dan istiqomah menikmati malam pergantian tahun yang penuh dengan khidmat dalam bermunajat kepada sang pencipta.

Bukan tanpa sebab, Aceh sebagai daerah yang melaksanakan syariat Islam, senantiasa membudayakan perayaan pergantian tahun dengan suasana yang hening dan khidmat. Tidak ada selebrasi yang berlebihan di ujung barat pulau Sumatera ini. Yang ada hanya refleksi akhir tahun dengan bertafakur. Kondisi yang telah terjadi setahun belakangan ini, tidak terlepas dari hangatnya suasanya kebatinan para elite politik di nanggroe Seuramoe Mekkah.

Bak petasan yang meletus dengan suara yang sama, persoalan yang lagee sot-sot (itu itu saja) selalu mewarnai provinsi ujung barat Tanah Air ini. Pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) yang selalu terlambat sepertinya menyisakan catatan tahunan yang tak kunjung berakhir.

Entah kapan negeri endatu ini bebas dari keterlambatan pengesahan APBA oleh punggawa politik yang bersemayam di DPRA dan pemerintah Aceh. Yang pasti, rakyat selalu menanti realisasi janji yang selalu dikumandangkan kala tahun politik datang menghampiri. Tak terkecuali 2018 yang sudah kita masuki ini.

Gagasan politik
Tahun ini adalah tahun yang spesial bagi para politisi, tahun yang menentukan berhasil tidaknya politisi meraih suaranya di tahun 2019. Untuk itu, mengapa tidak kita mengucapkan selamat datang tahun politik 2018, tahun yang akan mengantarkan ambisi para politisi menuju parlemen di segala tingkatan. Isu terkait kemaslahatan rakyat seperti kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, prekonomian, dan pengimplementasian MoU Helsinki tentu akan menjadi jualan yang menarik di tahun ini.

Lakon apa yang sedang di dendangkan oleh politisi akan disesuaikan dengan ritme kebutuhan masyarakat Aceh dalam bersyair melantunkan keluhannya. Semua itu akan terasa apik bila tahun politik ini datang siap menyambut pesta demokrasi lima tahunan.

Paling tidak kita akan menemukan para politisi yang mulai kritis menyikapi persoalan sosial di masyarakat. Para pendatang baru yang akan menjadi politisi debutan, menawarkan solusi tanpa harus mencari sensasi. Semua itu dilakukan guna mendapatkan simpati publik di tahun politik ini.

Menjadi politisi adalah satu hal yang sangat mulia, mereka berjuang menyuarakan kepentingan rakyat sesuai dengan aspirasi dan kehendak rakyat, sangat disayangkan bila kepercayaan yang diberikan secara mandatori ini harus senantiasa dibumbui dengan wujud manipulasi politik dalam wujud pencitraan politik.

Kematangan dalam berpolitik seyogyanya harus dilakoni oleh para politisi, implementasi gagasan guna memenuhi hasrat realisasi aspirasi dari rakyat harus lah dimiliki oleh para politisi. Paling tidak, di sinilah rakyat harus bisa menjadi juri yang cerdas mengamati “politisi yang berisi”, baik secara keilmuan dan wawasan serta mampu menawarkan solusi dari pada megobral janji guna dompetnya terisi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help