SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Membangun Pariwisata Aceh

SATU sektor pembangunan yang mendapat perhatian serius Gubernur Irwandi Yusuf dan Wakil Gubernur Nova Iriansyah

Membangun Pariwisata Aceh
SERAMBINEWS.COM/NURUL HAYATI
Gua Sarang di Sabang. 

Oleh Miswar Fuady

SATU sektor pembangunan yang mendapat perhatian serius Gubernur Irwandi Yusuf dan Wakil Gubernur Nova Iriansyah dalam periode lima tahun ke depan adalah pembangunan dan pengembangan sektor kepariwisataan Aceh. Sektor ini menjadi bagian dari program Aceh Kreatif, satu dari 15 program Aceh Hebat. Sebagai turunannya sektor kepariwisataan ini masuk sebagai satu dari 10 program prioritas Pemerintah Aceh pada 2018 ini.

Kebijakan Irwandi-Nova ini tentu sangat relevan bagi Aceh. Mengikuti trend global, sektor kepariwisataan kini menjadi sektor unggulan dan menjadi satu sumber pemasukan devisa utama di banyak negara. Di dunia, banyak negara berlomba-lomba menggenjot sektor kepariwisataan sebagai satu sumber utama perekonomian mereka, termasuk Indonesia. Artinya, di level daerah, komitmen Irwandi-Nova ini juga sejalan dengan program pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi yang sangat getol menggenjot ekonomi pariwisata di Tanah Air.

Pergeseran paradigma
Pada level global, trend lonjakan miliaran dolar nilai investasi dan devisa yang dihasilkan oleh sektor kepariwisataan, yang menjadikan sektor ini berkembang menjadi industri global, tidak terlepas dari pergeseran paradigma pembangunan di dunia. Jika kita cermati, paradigma pembangunan negara-negara di dunia dalam empat dekade terakhir, telah mengalami pergeseran yang cukup progresif. Bermula dari paradigma ekstraktif dengan mengeksprolasi bahan-bahan mineral isi perut bumi berupa minyak, gas, dan beragam hasil tambang, lalu bergeser ke ekstensifikasi perkebunan berskala besar yang mengakibatkan konversi lahan besar-besaran, yang karena cost ekologinya sangat serius kemudian sering dikritik karena mengabaikan titik keseimbangan antara manfaat ekonomi dengan degradasi alam dan lingkungan.

Indonesia adalah satu negara utama yang sangat intens terlibat dalam dialektika ini, ketika pemerintah kita sangat ambisius dengan program ekstensifikasi sawit untuk memperoleh predikat sebagai penghasil CPO (crude palm oil) atau minyak sawit mentah terbesar di dunia.

Ketika paradigma perkebunan berskala besar ini di Indonesia masih menjadi primadona, beberapa negara maju dan berkembang di Asia, telah berinvestasi dengan serius menapaki ekonomi jasa dan pariwisata. Jepang, Korsel, Taiwan, Thailand, Malaysia, dan Singapura, juga beberapa negara di kawasan Timur Tengah, sebagai contoh, mulai beranjak maju dengan menggenjot dua sektor ini, dan berhasil menjadikan pariwisata sebagai satu sektor utama penghasil devisa mereka. Berkat perkembangan teknologi dan globalisasi, trend ini pun mengglobal menjadi industri berbarengan dengan munculnya apa yang kita sebut sebagai ekonomi atau industri kreatif, yang kemudian diadopsi di Indonesia.

Terakhir, yang kini sedang menghentak adalah ekonomi digital. Diperkirakan geliat ekonomi digital yang ditandai dengan kehadiran mata uang digital ini, meski masih mengundang respon pro-kontra namun ke depan diperkirakan akan mentranformasi secara drastis sistem perekonomian dunia. Kita telah, sedang, dan mau tidak mau secara simultan akan terus menghadapi dialektika pergeseran paradigma pembangunan dunia ini.

Momentum tepat
Fokus pada paradigma pembangunan kepariwisataan, dalam konteks Aceh maka kita sesungguhnya memiliki momentum untuk memberi perhatian lebih terhadap sektor ini. Aceh baru saja ditetapkan sebagai satu destinasi wisata halal di Indonesia di samping Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Barat. Lalu, Sabang yang sebelumnya memang sudah sangat dikenal dengan pesona wisata baharinya hingga ke mancanegara, kini menjadi satu spot persinggahan kapal-kapal pesiar dunia.

Berikutnya peluang untuk agrowisata poros tengah yang sudah mulai diintervensi oleh pemerintah pusat berbarengan dengan masterplan yang juga sudah disiapkan oleh Pemerintah Aceh. Lalu, keindahan bahari dan wisata minat khusus di Singkil-Pulau Banyak dan Simeulue yang sudah tumbuh dan mulai dilirik oleh turis mancanegara. Bahkan, ada info yang menyebutkan ada sebuah agency kapal pesiar dunia yang meminta izin untuk dapat masuk dan menjadikan gugusan Pulau Banyak sebagai satu spot kunjungan kapal-kapal pesiar dunia.

Demikian pula wisata sejarah-budaya Banda Aceh-Aceh Besar dan sekitarnya yang sudah tumbuh dan menunjukkan trend positif. Semua ini adalah potensi sekaligus peluang yang betul-betul harus dimanfaatkan dan dikelola dengan baik untuk memajukan industri kepariwisataan di Aceh, sehingga setara dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help