Citizen Reporter

Sepenggal Cerita dari Rusia

KOTA Makhachakala adalah satu-satunya kota dengan jumlah penduduk Islam terbanyak di Rusia

Sepenggal Cerita dari Rusia

OLEH HANIFAH HASNUR, Penerima Beasiswa S3 Pemerintah Aceh untuk studi di Rusia, melaporkan dari Moskow, Rusia

KOTA Makhachakala adalah satu-satunya kota dengan jumlah penduduk Islam terbanyak di Rusia. Sebanyak 90 persen penduduknya penganut Islam sunni. Tidak asing apabila kemudian azan terdengar pada setiap waktu shalat di Makhachkala.

Masjid Imam Shamil Avenue yang merupakan masjid pusat kota di Makhachkala tergolong masjid yang besar dan mewah di antara masjid lainnya yang terdapat di Eropa. Bahkan masjid ini disebut-sebut menyerupai “Blue Mosque”-nya Istanbul. Masjid ini menjadi semakin besar dan bisa menampung sampai 17.000 jamaah.

Kota Makhachkala juga sangat jauh dari kesan yang diutarakan orang-orang mengenai orang Rusia yang berhati dingin dan susah tersenyum. Orang-orang Makhachkala sangat ramah, berbelanja di pasar tradisional Makahachkala layaknya sedang berbelanja di pasar Peunayong Banda Aceh. Sselalu dibarengi dengan senda tawa penjual yang menawarkan dagangannya, bahkan mereka senang sekali memberikan sesuatu yang lebih untuk pembeli terutama pembeli seorang mahasiswa seperti saya.

Orang-orang di jalan juga mudah sekali membeli pertolongan, misalkan suatu waktu saya tidak tahu cara mengisi pulsa di kartu handphone saya di ATM, seorang cewek cantik Makhachkala tidak segan-segan mengajari, padahal di waktu itu saya berbicara dengan bahasa tubuh, karena belum bisa Paruski (bahasa Rusia -red ) sama sekali. Begitu pun di Bus umum, orang-orang begitu mudah tertawa dengan gelagat anak kecil yang sedang merengek ke ibunya untuk bisa pindah ke bagian depan bus karena ingin bertemu ayahnya. Gelagat anak ini spontan mengundang tawa seluruh penumpang di dalam bus.

Di Makhachkala banyak sekali ditemui bangunan tua yang catnya terkelupas. Sekilas terlihat seperti tidak terurus, tapi tidak dengan suasana di dalamnya. Kalau kita sudah memasuki ke dalam bangunan-bangunan tersebut. Bangunan-bangunan dengan cat terkelupas ini adalah sebagian besar tempat tinggal penduduk pribumi, bangunan ini hampir menyerupai rumah susun yang hanya terdiri atas satu kamar tidur, dapur, dan kamar mandi.

Kondisi seperti inilah yang membuat kebanyakan mereka harus memarkirkan mobilnya di jalan besar, sehingga tak asing kita akan temukan pemandangan banyak mobil yang diparkir di jalan pada malam hari, dan baru dikemudikan lagi oleh si pemilik keesokan harinya. Sehingga dapat disimpulkan Makhachkala termasuk kota yang aman meskipun terlihat sedikit kumuh dan padat penduduk.

Cuaca di Makhachakala juga termasuk yang paling hangat dibandingkan bagian Rusia lainnya, di musim winter seperti saat ini antara bulan Desember sampai akhir Juni cuaca berkisar antara 4 sampai 5 derajat Celcius di saat beberapa daerah lain seperti Yakuts mencapai -43 derajat Celcius dan Moskow 0 derajat Celcius. Tdak heran jika banyak warga yang mengatakan Kota Makhackala termasuk kota yang diberkahi karena cuacanya yang sedikit hangat dengan orang-orangnya yang ramah dan religius.

Salah satu kampus terkenal di Makhachkala adalah Dagestan State Medical University yang seperti namanya adalah salah satu kampus dengan mayoritas mahasiswanya adalah medical student atau mahasiswa kedokteran, sebagaian kecil lainnya adalah mahasiswa farmasi dan keperawatan. Mahasiwanya berdatangan dari berbagai negara dan yang paling banyak adalah dari India dan beberapa negara dari Afrika seperti Namibia, Nigeria, South Africa, dan Zimbabwe.

Mahasiswa Indonesia yang belajar di Rusia dari tahun ke tahun juga terus mengalami peningkatan, ada beasiswa Pemerintah Rusia yang disediakan untuk mahasiswa Indonesia yang hendak melanjutkan studi di Rusia, kerja sama antara Indonesia dan Rusia selama ini pengurusannya melalui Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia di Jakarta, salah satu institusi resmi yang telah banyak membantu mengirimkan mahasiswa Indonesia ke Rusia. Mulai dari pengurusan visa sampai kepada pengurusan pendaftaran di kampus-kampus yang ada di Rusia, mungkin ini bisa jadi peluang juga untuk mahasiswa Aceh yang ingin melanjutkan studi ke Rusia.

Setelah lulus dari seleksi beasiswa ini, biasanya Pemerintah Rusia akan memberikan ekstra satu tahun dari waktu belajar setiap jenjang untuk mengambil kelas bahasa Rusia. Setelah itu, barulah mahasiswa yang bersangkutan bisa memilih main course studinya nanti untuk studi dengan bahasa Inggris atau bahasa Rusia sebagai bahasa pengantarnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved