Buku "Kerawang Gayo" Mengungkap Makna, Ragam, dan Filosofi Motif Gayo

Sejumlah desainer lokal dan nasional memanfaatkan motif Gayo untuk memperindah kain produksinya. Tapi tidak banyak yang tahu sejarah,

Buku
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Buku Kerawang Gayo 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA -- Saat ini banyak diproduksi kain motif Gayo digunakan sebagai hiasan kain sarung, baju, selendang, celana dan sebagainya.

Sejumlah desainer lokal dan nasional memanfaatkan motif Gayo untuk memperindah kain produksinya. Tapi tidak banyak yang tahu sejarah, arti dan makna filosofis motif-motif tersebut.

Menjawab persoalan ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah berinisiatif menerbitkan buku berjudul "Kerawang Gayo," bekerja sama dengan penerbit Mahara Publishing. Editor buku adalah Dr Joni MN MPd BI.

(Baca: Chicco Jerikho Foto Berlatar Kerawang Gayo,Netizen: Ya Allah, Hamba Gak Kuat Liat yang Beginian!)

Buku setebal 100 halaman itu merupakan hasil seminar tentang "Kerawang Gayo" yang diselenggarakan di Takengon, menghadirkan sejumlah pembicara, mulai dari akademisi, pelaku sejarah, dan budayawan Gayo.

Dalam buku itu dijelaskan tentang asal muasal Kerawang Gayo, variasi motif dan makna dan fungsi setiap motif, berikut contoh-contoh motif.

Awalnya, motif Kerawang Gayo hanya lima, lalu seiring perkembangan zaman berkembang hingga 14 motif.

Nama-nama motif itu antara lain "Tapak Seleman, Mata Ni Lo, Cucuk Pengong, Tali PuterTige, Pucuk ni Tuis, Emun Mupesir, Emun Berangkat, Emun Beriring, Emun Berkune, Puter Tali, Tekukur, Tali Mustike, Sarak Opat, dan Peger."

Istilah "kerawang" itu sendiri berasal dari kata "ker" dalam bahasa Gayo berarti "daya pikir, rancangan yang abstrak menjadi spontan.

"Kata "rawang" berarti bayangan fenomena alam. Jadi "Kerawang" bermakna "wujud sepontanitas dari bayangan fenomena alam semesta."

(Baca: DR Mukhlis PaEni Terbitkan Buku Riak di Laut Tawar dengan Kulit Kerawang Gayo)

Selain pada kain, motif-motif Kerawang Gayo ada yang dianyam pada tikar, sumpit, ampang bercucuk, disebut "lintem." Sedangkan apabila digunakan sebagai hiasan logam disebut "ukur," dan pada kayu disebut "pahat kerawang."

Penulis Gayo, Yusradi Usman Al-Gayoni menyebutkan, dengan terbitnya buku "Kerawang Gayo" memberi informasi penting kepada masyarakat tentang kandungan makna motif Gayo tersebut.

"Kita sekarang banyak melihat tampilan-tampilan motif Gayo di berbagai produk, baik kain sarung, baju, celana, kemasan produk, spanduk dan lain-lain. Buku ini memperkaya wawasan para kreator-kreator itu. Jangan sampai mereka tidak paham artinya," ujar Yusradi Usman Al -Gayoni. (*)

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help