SerambiIndonesia/

Gunawan Sering Bagi Uang kepada Napi Lain

Beberapa narapidana (napi) di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II Banda Aceh mengaku sering diberi uang

Gunawan Sering Bagi Uang kepada Napi Lain
ANGGOTA Komisi III DPR RI melihat kondisi LP Kelas II Banda Aceh setelah terjadi kerusuhan dan pembakaran yang dilakukan napi setempat, Kamis (11/1). 

BANDA ACEH - Beberapa narapidana (napi) di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II Banda Aceh mengaku sering diberi uang secara cuma-cuma oleh Gunawan, napi narkoba yang menjadi provokator terjadinya kerusuhan dan pembakaran besar di LP itu Kamis pekan lalu. Gunawan sendiri saat ini telah menjadi tersangka karena terbukti sebagai dalang dari kerusahan tersebut.

Pengakuan itu disampaikan napi yang sebelumnya diduga terlibat dalam aksi itu kepada anggota Komisi III DPR RI yang datang ke LP tersebut, Kamis (11/1). Kedatangan mereka untuk mengetahui penyebab terjadinya kerusuhan dan pembakaran dengan menanyakan langsung kepada napi tentang kronologis kejadian yang terjadi pada Kamis (4/1).

Rombongan yang dipimpin Nasir Djamil Msi tu dihadiri sejumlah anggota Komisi III DPR RI seperti Arteria Dahlan, Bambang Heri, Wihadi Wiyanto, Muslim Aiyub, M Toha, dan Hasrul Azwar. Mereka didampingi Kepala Kanwil Kemenkumham Aceh, Yuspahruddin dan Kalapas Banda Aceh, Endang Lintang.

Seperti diketahui, kerusuhan itu berawal dari rencana pihak Kemenkumham Aceh dan Polresta Banda Aceh yang ingin menjemput ketiga napi, yaitu Gun, Bah, dan Muh dari LP tersebut. Ketiga napi yang tersangkut kasus narkoba itu rencananya akan dipindah ke LP Kelas I Tanjung Gusta, Sumatera Utara.

Penjemputan Bah dan Muh berjalan lancar. Namun, Gun yang berada di kamar terpisah menolak dipindahkan ke Sumatera Utara, sehingga ia memprovokasi napi lainnya. Para napi yang terprovokasi pun bereaksi dengan menyoraki dan melempari petugas. Akhirnya, kerusuhan pun terjadi sekitar pukul 10.00 WIB.

Akibat dari kejadian itu, satu unit mobil penerangan Dalmas (pengendalian massa) Polresta Banda Aceh dibakar napi. Selain itu, beberapa ruangan juga dibakar napi misalnya ruang pemeriksaan tamu beserta perangkat X-Ray, ruang binapi data, ruang administrasi, ruang kepala keamanan LP, dan gudang LP.

Amatan Serambi, setiba di LP rombongan Komisi III langsung meninjau kamar napi. Mereka melihat satu per satu kondisi kamar dan berdiskusi dengan napi yang berada di balik jeruji besi. Sekilas penampakan kamar napi biasa saja, hanya ada tempat tidur. Pemandangan ini tentu berbeda sebelum terjadi kerusuhan di mana terdapat kamar mewah di dalam LP.

Setelah itu, para wakil rakyat juga menjumpai sekitar sebelas napi yang sebelumnya diduga terlibat dalam kerusuhan. Kepada para napi yang sudah dikumpulkan di lapangan LP itu, anggota Komisi III menanyakan ikhwal kronologis dan penyebab terjadinya kerusahan hingga pembakaran kepada napi secara acak.

Tetapi, para napi tampak kompak bungkam. Mereka berdalih dengan alasan masing-masing. Ada napi yang mengaku saat rusuh terjadi sedang berada di dapur karena sebagai tahanan pendamping (tamping) dan ada yang mengaku sedang tidur. “Saya ketiduran, bangun tidur mau nyuci. Saya lihat sudah ramai-ramai di luar,” kata salah satu napi.

Anggota DPR tampak tidak puas dengan jawaban napi. Muslim Aiyub bahkan mendesak para napi berkata jujur. Politisi PAN ini mengatakan tidak mungkin terjadi pembakaran tanpa ada penyebabnya. “Karena dia (Gunawan) pindah kan? Apa mungkin,” katanya. “Mungkin, mungkin,” jawab napi bersautan sambil mengangguk.

“Kalau boleh tahu, berapa dia (Gunawan) kasih duit atau kasih fasilitas,” tanya Nasir Djamil. Salah satu napi dengan spontan menjawab. “Dia kasih khusus tidak ada, tapi pribadi ada,” jawabnya. Lalu Nasir menyambung, “Pribadi-pribadi dikasih, lima puluh ribu, seratus ribu dikasih sama dia. Karena itu dia sering keluar-keluar.” Napi tadi hanya mengiyakan.

Seusai meninjau keadaan LP, Nasir Djamil mengatakan kerusuhan dan pembakaran terjadi akibat tidak berjalannya prosedur tetap (protap) dalam LP. Dia menyatakan, dengan tidak berjalannya protap tersebut maka ada napi-napi yang diistimewakan sehingga dengan mudah ke luar masuk LP, bahkan ada napi yang berani menanam ganja di dalam LP.

“Dan napi-napi ini juga `memberikan kontribusi’ untuk napi lainnya. Ketika dia ingin dipindahkan kemudian dia bereaksi dengan mencoba untuk memprovokasi napi-napi lainnya (sehingga terjadi kerusuhan). Karena inilah kami datang untuk melihat akar masalahnya dan bagaimana ke depan mengantisipasi agar kejadian ini tidak terjadi lagi,” ucapnya.

Politisi PKS ini mengatakan, aksi pembakaran yang dilakukan napi tidak boleh dipandang biasa. “Membakar mobil polisi, itu sudah sangat berani dan ini harus diusut. Kepolisian harus tegas dan kita minta kementerian untuk mengevaluasi pejabat terkait terutama yang mengelola LP,” pungkasnya. (mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help