Jalan Mampree-Tiro Penuh Lumpur

Sepanjang 12 kilometer ruas jalan perkebunan dari Gampong Rinti Mampree (Kecamatan Mutiara Timur) tembus

Jalan Mampree-Tiro Penuh Lumpur
IST
TNI terjun langsung meninjau ruas jalan yang mengalami longsor di kawasan Laweung, Pidie menghubungkan, Desa Leungah, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar, Selasa (2/1/2018) 

* Hasil Kebun Membusuk

SIGLI - Sepanjang 12 kilometer ruas jalan perkebunan dari Gampong Rinti Mampree (Kecamatan Mutiara Timur) tembus ke Gampong Blang Keudah, Kecamatan Tiro/Truseb, saat ini tak bisa dilintasi karena penuh lumpur.

Akibatnya, hasil panen dari kawasan itu seperti pisang, rambutan, dan padi tak bisa diangkut. Sehingga sejumlah besar membusuk. Buruknya infrastruktur ini tentu saja membuat kerugian besar bagi petani di daerah ini.

Keuchik Gampong Rinti, M Adam, Kamis (11/1) mengatakan, pembangunan jalan untuk mendukung aktivitas pertanian dan perkebunan di Gampong Rinti Mampree, butuh perhatian pemerintah. Karena kelancaran akses jalan ini sangat dibutuhkan warga untuk memjual hasil tani dan kebun ke Kecamatan Tiro atau ke Kecamatan Glumpang Tiga.

Menurutnya, petani tidak bisa membawa pulang hasil panen karena jalan berlumpur saat musim hujan. Padahal, hasil perkebunan seperti pisang dan rambutan, menjadi mata pencarian utama warga di daerah ini. Sedangkan tanaman padi ladang, kakao, dan pinang yang juga banyak ditanami di lokasi ini, juga tak terawat karena petani tidak bisa menembus jalan akibat penuh lumpur.

“Kendala terbesar bagi petani di sini adalah buruknya kondisi jalan. Padahal hampir seluruh warga di Kemukiman Ujong Rimba ini bergantung hidup kepada hasil kebun. Pemerintah jangan hanya mendorong petani untuk produktif, tapi mengabaikan pembangunan prasarananya yang merupakan tanggung jawab pemerintah,” tukasnya.

Seorang petani di kawasan itu, Lutdin, menambahkan bahwa kondisi saat ini, jalan tersebut sama sekali tidak bisa dilintasi kendaraan, kecuali berjalan kaki. Untuk mencapai lokasi kebun, petani harus berjalan hingga belasan kilometer setiap harinya. “Jalan ini sebelumnya pernah diperbaiki seadanya, dan kini sudah hancur lagi, karena pembangunan jalan tak disertai pembangunan saluran. Sehingga badan jalan tergenang saat hujan,” ungkapnya.

Ketua Komisi C DPRK Pidie, Drs Isa Alima, Kamis (11/1) mengungkapkan bahwa Pemkab Pidie memang kurang peduli dengan pembangunan jalan tani untuk mendukung peniongkatan produktivitas pertanian di daerah ini.

Padahal, pembangunan infrastruktur yang berdampak luas harus menjadi prioritas pemerintah. Apalagi untuk sektor pertanian yang menjadi andalan kabupaten ini. “Selama ini, pemerintah kurang peka dalam menindaklanjuti kebutuan petani di pedalaman. Sarana pendukung terus dibiarkan rusak dalam waktu yang lama,” ungkapnya.

Padahal, jika petani di pedalaman lebih mudah menjual hasil panennya, tingkat kemiskinan di kabupaten ini akan menurun drastis. Karena menurutnya, sebagian besar masyarakat miskin di daerah ini merupakan petani di pedalaman yang sulit meningkatkan pendapatan keluarga, karena terlalu banyak kendala yang dihadapi dalam hal mencari nafkah.(naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help