Mulai Novel Karya Zadie Smith hingga Amy Bloom, Ini 10 Buku yang Patut Dibaca pada 2018

Seekor rubah kecil - seekor rubah betina yang berwarna terang - melintasi Waterloo Bridge pada suatu hari di bulan Februari 2014.

Mulai Novel Karya Zadie Smith hingga Amy Bloom, Ini 10 Buku yang Patut Dibaca pada 2018
Eddie Mullan

SERAMBINEWS.COM - Anda memiliki resolusi untuk membaca lebih banyak buku tahun ini? Mulailah dengan salah satu dari 10 pilihan berikut.

Amy Bloom, White Houses

Untuk novel barunya yang menerangi para pembaca dengan lembut, Bloom menampilkan ribuan surat yang mengungkapkan hubungan antara Eleanor Roosevelt dan Lorena Hickok, mantan reporter Associated Press yang diam-diam tinggal di lorong Eleanor saat dia menjadi Ibu Negara Franklin Delano Roosevelt.

Bloom mengisahkan ceritanya dari sudut pandang "Hick" - seorang perempuan yang mengaku udik, perokok dan peminum yang berterus terang tentang pola asuhnya yang keras, hari-harinya dengan korps pers dan cintanya yang abadi untuk Eleanor.

Baca: Terungkap, 10 Temuan Heboh dalam Buku Baru Mengenai Donald Trump

Eleanor beralih ke Hick pada tahun 1945 setelah pemakaman suaminya FDR, dan dia dihiburkan - minum alkohol, mendengarkan Cole Porter, tidur siang. Sementara itu, Hick menyuguhi kita dengan kisah pertemuan mereka pada tahun 1932, waktu mereka di jalan, pertemuannya dengan FDR dan bahaya serta indahnya mencintai orang yang berkuasa.

Zadie Smith, Feel Free

Smith, salah satu novelis paling terkenal di dunia saat ini, telah membuat lusinan esai yang diletakkan di persimpangan "tiga elemen genting dan tidak pasti: bahasa, dunia, duniawi." Ke-35 esai dalam koleksi barunya ditulis di AS dan Inggris selama delapan tahun kepresidenan Obama - sekarang "produk dari dunia lama", tulisnya.

Dia membukanya dengan membawa anak perempuannya untuk mengunjungi ibunya dan menemukan toko buku Willesden Green yang berharga terancam tutup. Lainnya, dia memperhadapkan Facebooknya Mark Zuckerberg dengan peringatan perintis realitas virtual Jason Lanier bahwa kita harus memperhatikan perangkat lunak yang "mengunci" kita.

Dia mewawancarai Jay-Z ("seniman setua bentuk seninya"), menilai buku dan seni, bepergian jauh, dan berakhir dengan sukacita - "kegilaan manusia seperti itu"

Halaman
1234
Editor: Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help