Citizen Reporter

Sri Lanka, Negara Maju tapi tak Jauh Beda dengan Aceh

SAYA diundang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mempresentasikan penelitian tentang kesehatan ibu

Sri Lanka, Negara Maju tapi tak Jauh Beda dengan Aceh
MARTHOENIS

OLEH MARTHOENIS, Peneliti di Unveritas Syiah Kuala dan Travel Blogger, tinggal di Banda Aceh,melaporkan dari Kolombo, Sri Lanka

SAYA diundang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mempresentasikan penelitian tentang kesehatan ibu dan anak yang kami lakukan di Aceh. Penelitian yang sama juga dilakukan di negara-negara lain seperti India, Ghana, Italia, dan tuan rumah, Sri Lanka.

Sebelum berangkat, saya sempat penasaran dengan negara berpenduduk mayoritas Budha ini. Yang membuat saya takjub adalah negara Sri Lanka dikategorikan sebagai negara maju oleh Badan Program Pembangunan PBB atau UNDP. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) negara bekas jajahan Inggris yang dulunya disebut Ceylon ini pada tahun 2016 berada di peringkat 73 dunia, jauh di atas negara-negara besar lain seperti Meksiko (77), Brasil (79), Thailand (87), bahkan Tiongkok (90). Negara tercinta kita Indonesia masih harus puas dalam kategori negara berkembang dan duduk di peringkat 113 secara global. Dan yang membuat saya penasaran adalah kenapa negara tersebut bisa berperingkat jauh di atas negara kita?

Dari Banda Aceh ke Jakarta, saya menumpang pesawat Garuda Indonesia, selanjutnya dari Jakarta ke Kolombo, saya naik Srilankan Airlines. Meski Garuda sekarang peringkatnya jauh lebih tinggi (peringkat 10) dibandingkan Srilankan airlines (peringkat 81), pelayanan yang saya rasa tidak jauh berbeda. Selain itu, yang membuat pesawat ini lebih menarik adalah karena pelayanan yang diberikan tidak terlepas dari pendekatan lokal. Pramugari menggunakan baju sari, makanan yang diberikan khas Sri Lanka dan petunjuk di dalam pesawat dipadukan antara bahasa lokal dengan bahasa Inggris.

Tiba di Bandaranaike International Airport, saya merasa layanan yang diberikan justru di bawah standar layanan yang kita dapatkan di Indonesia. Tidak usah dibandingkan dengan imigrasi di Bandara Soekarno- Hatta, pelayanan imigrasi di Bandara Sultan Iskandar Muda masih lebih bagus. Bedanya, setelah keluar dari bandara, tidak banyak supir taksi yang terus mengejar menawarkan jasanya. Ketika sekali saya bilang “no, thanks”, sopir taksi lain juga mundur, tidak lagi menawarkan jasa angkutannya.. Untuk menuju ke kota Colombo dari bandara, saya dari awal ingin naik transportasi umum berupa bus. Bus Bandara – Kota Kolombo memang tidak bagus-bagus amat, tetapi selalu tersedia dan jalan tepat waktu.

Tiba di Kota Colombo, saya harus menumpang bemo untuk menuju ke penginapan. Meski sopir bemo yang saya tumpangi masih menggunakan kain sarung, mereka umumnya bisa Bahasa Inggris. Ongkos bemo juga standar, tidak dilebih-lebihkan untuk turis.

Keesokan paginya, saya berangkat lebih awal dari tempat penginapan saya ke hotel di mana pertemuan WHO dilakukan. Saya memilih untuk jalan kaki, selain karena jaraknya yang dekat, saya juga bisa melihat aktivitas warga secara langsung. Di depan pertokoan yang saya lewati, saya temukan banyak orang yang mungkin tidak punya rumah dan bermalam di depan toko orang. Setiap hari saya melewati jalan yang sama dan saya menemukan orang-orang yang sama pula yang tidur disana. Yang saya kagumi adalah cara si pemilik toko membangunkan orang yang tidur di emperan tokonya. Meski saya tidak mengeti bahasanya, tetapi dari cara mereka membangunkan orang tersebut terlihat sangat santun. Yang dibangunkan pun langsung bangkit, membungkus peralatan tidurnya dan pergi.

Komunitas muslim
Penduduk Sri lanka berjumlah empat kali lebih besar dari penduduk Aceh, yaitu sebanyak 21 juta orang. Dari jumlah tersebut, penduduk yang beragama Islam hanya 9,7%. Meskipun begitu, makanan halal sangat mudah kita temukan di Colombo. Label halal biasanya tertulis di kedai yang menjual makanan halal. Dan harganya sama saja dengan harga untuk penduduk lokal. Saya pernah membeli sepotong kue yang jenisnya juga ada dijual di Banda Aceh. Dan setelah saya bayar, untuk kue yang serupa harganya lebih murah di Colombo dibandingkan di Banda Aceh.

Berdasarkan catatan dari The Telegraph, Sri Lanka menduduki ranking ke empat dari 20 “most religious country” dan Indonesia tidak masuk dalam list ini. Hal ini terlihat dari keseharian mereka yang memang sangat religjus untuk agama apa pun yang dianut oleh masyarakat Sri Lanka.

Suatu malam saya berkeliling kampung untuk mencari masjid atau setidaknya mushala untuk shalat Magrib dan Isya. Bermodalkan sebuah peta digital, saya bebas keliling di Sri Lanka tanpa ada yang menganggu sama sekali. Mungkin wajah saya yang mirip mereka sehingga saya dianggap orang lokal. Bahkan di halte bus ada orang yang bertanya ke saya dalam bahasa lokal, untung saya tidak goyang-goyang kepala ala India. Mushala kecil akhinya saya temukan. Ketika memasuki mushala keci itul, suasananya terlihat sepi karena memang waktu shalat Magrib sudah selesai. Usai shalat Magrib, saya menunggu masuknya jadwal shalat Isya. Di dalam mushala ini saya lihat ada beberapa pengajian kecil. Anak-anak diajarkan sama seperti kita belajar di balee atau meunasah di kampung dengan teungku memakai kain sarung dan kopiah putih. Saya ingin mendengar lebih jauh, tapi sayangnya saya tidak mengerti bahasa Sri Lanka.

Waktu shalat Isya tiba. Salah seorang dari mereka berdiri dan mengumandangkan azan, kemudian shalat Rawatib Iqamat. Kagetnya saya, ketika selesai shalat Rawatib, mushala kecil nan sederhana ini langsung penuh. Mereka mungkin benar-benar ikut dengan pesan Rasullullah, menghiasi masjid dengan shalat berjamaah, bukan dengan membangun mesjid yang megah tetapi jamaahnya hanya dua saf.

Di tempat pertemuan, peserta mempresentasikan keadaan kesehatan ibu dan anak di masing masing negara peserta. Saya hanya mempresentasi tentang keadaaan di Aceh, karena memang penelitian kami lakukan di Aceh. Dengan berat hati saya harus sampaikan bahwa kematian ibu dan bayi di Aceh masih sangat tinggi, terlepas dari berbagai usaha pemerintah untuk menekan angka ini. Angka kematian ibu di Aceh tahun 2015 adalah 134 per 100.000 kelahiran hidup, jauh lebih tinggi jika bandingkan dengan Sri Lanka yang hanya 30 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Begitu juga dengan kematian bayi, di Aceh angka kematian bayi mencapai 12 kematian per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan di Sri Lanka hanya 8.4 orang bayi meninggal per 1.000 kelahiran hidup.

Dari berbagai fakta dan pengalaman yang saya rasakan saat berkunjung ke Kolombo, setidaknya sebagian rasa penasaran saya terjawab sudah. Mereka memang layak dinyatakan sebagai negara maju dari Aceh atau Indonesia, karena memang IPM itu oleh UNDP dinilai dari tiga kategori, yaitu indeks harapan hidup, termasuk dalam ini adalah masalah kesehatan, indeks pendidikan dan iIndeks pendapatan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved