SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Jantung Kebencanaan

AKHIR tahun lalu Program Studi Antropologi Uiversitas Malikussaleh (Unimal) melakukan kegiatan review kurikulum

Jantung Kebencanaan
Gelondongan kayu berserakan di sungai Sulampi, Desa Bulu Sema, Suro, Aceh Singkil, sebelum diamankan Kesatuan Pemangku Hutan Aceh (KPHA) Regional VI Kota Subulussalam, Rabu (7/6) sore. 

Oleh Teuku Kemal Fasya

AKHIR tahun lalu Program Studi Antropologi Uiversitas Malikussaleh (Unimal) melakukan kegiatan review kurikulum. Beberapa pakar dari luar Prodi Antropologi Unimal dilibatkan untuk mempertajam dan memberikan kekuatan argumentasi dan nalar akademis.

Latar belakang kegiatan ini adalah upaya memutakhirkan kurikulum agar lulusan antropologi Unimal siap pakai di dunia kerja yang semakin kompleks dengan didasarkan manajemen kurikulum yang tepat, untuk konteks Aceh pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Atas dasar itu, ada tiga perspektif yang dijadikan alasan kritis: Pertama, kurikulum harus berisi konsep utama antropologi yang menjadi paradigma kanonik yang ditemukan di mana pun prodi antropologi berdiri; Kedua, kompetensi dan spesifikasi terkait aspek lokalitas dan keperluan pembangunan Aceh. Contohnya, Antropologi Perdesaan dan Antropologi Maritim lebih tepat dimasukkan dan dipertahankan di Aceh mengingat konteks Aceh yang masih dipenuhi problem rural dan pesisir, dibandingkan Antropologi Perkotaan atau Etnografi Asia Tenggara yang agak jauh aplikasinya;

Ketiga, aspek dampak atau kuratif sosial-budaya. Pada dimensi ini, pengetahuan itu bisa digunakan lulusan antropologi untuk merespons problem-problem mitigasi sosial, yaitu konteks kebencanaan. Antropologi bencana (Anthropology of disaster) yang dimatrikulasi melalui mata kuliah Antropologi Ekologi, Antropologi Kekerasan dan Terorisme, dan Antropologi Konflik dan Rekonsiliasi sedikit banyak bisa menjawab problem kuratif itu. Dimensi kerusakan (catasthrope) harus dilihat tidak hanya pada dampak, tapi juga proses yang berhubungan dengan aspek kultural, baik merespons dan menyelesaikannya.

Antropologi bencana
Demi melihat Aceh yang saat ini mulai surut “bencana buatan manusia” (hand-made disaster), tapi pada saat yang sama meninggi pada bencana alam (natural disaster), menunjukkan ada problem ekologi yang akut. Meskipun sesungguhnya tidak cukup banyak yang bisa kita anggap sebagai masalah “natural” dalam kebencanaan, karena bencana alam pun saat ini adalah sumbangan manusia. Demikian pula, bencana yang terjadi di sebuah lokal tidak bisa dinilai dari secara struktural atau perilaku global semata, tapi ada unsur masyarakat sekitar (anthropocentrism).

Contohnya, kasus banjir berulang yang terjadi di Aceh menunjukkan ada sakit ekologis akut yang perlu diantisipasi melalui kebijakan terpadu. Bencana banjir di Kabupaten Aceh Singkil hingga empat kali pada tahun 2017 menunjukkan buruknya pengelolaan lingkungan di negeri tanah aulia itu. Demikian pula bajir berulang yang terjadi di Aceh Utara dan Bireun. Pada awal Desember lalu banjir di Aceh Utara merendam 16 kecamatan, yang berati lebih separuh kecamatan terperangkap banjir (Kompas.com, 3/12/2017).

Namun di awal tahun ini, hanya dengan hujan seharian kembali banjir berburai-burai (Banjir Rendam Tujuh Kecamatan: 5 di Aceh Utara, 2 di Bireuen, Serambi, 4/1/2018). Jelas menunjukkan adanya kerusakan lingkungan, sebagian besar simptomnya ialah alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan lahan terbuka, serta tidak adanya perencanaan maksimal dan kebijakan preventif menangani masalah kebencanaan ini.

Dalam perspektif antropolog ekologi, Julian Steward, ada aspek evolusi kultural di kalangan masyarakat tradisional-tribal terkait perilaku pengelolaan lingkungan. Jika sebelumnya --tanpa campur tangan kuasa industri global dan “teknologi perontok lingkungan”-- penguasaan lahan oleh masyarakat tidak berdampak pada kerusakan. Namun sejak neoliberalisme masuk ke dalam wilayah rambahan hutan dan lingkungan adat, kerusakan oleh pemanfaatan alam berdampak luka ekologis akut (Benjamin Orlove, Ecological Anthropology, 1980).

Kerusakan yang ditimbulkan dari perilaku “evolusionis-kultural” itu pun hanya dapat disembuhkan dengan pendekatan neo-evolusionisme juga. Bagi masyarakat Aceh atau Melayu Sumatera pada umumnya, sungai, hutan, rimba, dan gunung adalah alam kaya yang dikarunai Tuhan untuk dimanfaatkan.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help