Home »

Opini

Opini

Keluarga Siaga Bencana

KITA menyadari bahwa kita berada pada Lempeng Eurasia, Lempeng Samudra Hindia-Australia, dan Lempeng Samudra Pasific

Keluarga Siaga Bencana
Murid SD Fatih Bilingual School Lamlagang, Banda Aceh, mengikuti simulasi bencana gempa dan kebakaran di sekolah itu, sabtu (26/8). 

Oleh Aswadi

KITA menyadari bahwa kita berada pada Lempeng Eurasia, Lempeng Samudra Hindia-Australia, dan Lempeng Samudra Pasific yang merupakan Lempeng Tektonik. Lempeng-lempeng tersebut sampai sekarang masih terus aktif dan saling bergerak, hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa bumi dan tsunami. Oleh karena itu, kita di Aceh yang hidup di daerah rawan akan bencana tsunami membuat penerapan mitigasi bencana yang baik dan terpadu sangat diperlukan untuk mengurangi risiko dari ancaman gempa dan tsunami.

Mengingat Aceh adalah satu daerah di Indonesia yang sangat tinggi terhadap risiko bencana, maka setiap kepala keluarga harus mempunyai pengetahuan tentang kebencanaan. Satu musibah terbesar dalam sajarah peradaban modern umat manusia pernah terjadi di daerah ini, yaitu gempa bumi dan tsunami pada 2004 lalu yang menghancurkan wilayah pantai Aceh. Kondisi kerusakan infrastruktur yang sangat parah dengan ratusan ribu korban jiwa setidaknya mengisyaratkan bahwa masyarakat Aceh saat itu tidak siap menghadapi bencana.

Bahkan hampir tidak ada pengetahuan yang cukup mengenai bencana tsunami, walaupun kajian para ahli tsunami Aceh menengarai bahwa sudah pernah terjadi bencana tsunami dalam sejarah Aceh sebelum tsunami Desember 2004. Walaupun segelintir masyarakat pernah mendengar atau mengetahui istilah ie beuna atau smong di Simeulue, namun tetap saja pengetahuan masyarakat Aceh secara umum terhadap bahaya gelombang tsunami dan cara meminimalisir korban jiwa saat itu sangatlah minim atau bahkan hampir tidak ada.

Tanggap bencana
Guna membangun kepala keluarga yang tanggap dan tangguh terhadap bencana dan meningkatkan pengetahuan kebencanaan untuk melindungi diri beserta anggota keluarganya, Pemerintah telah menerbitkan UU No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. UU ini disusun dengan paradigma bahwa penanggulangan bencana harus dilakukan secara terencana, terpadu dan terkoordinasi dengan melibatkan para pemangku kepentingan. UU ini telah memberi mandat pada pemerintah untuk memberikan perlindungan pada masyarakat dari ancaman bencana. Sebagai wujud dari pengejawantahan pembukaan UUD 1945.

Unit terkecil dari masyarakat disebut keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang berkumpul di bawah satu atap dan saling ketergantungan. Dari kumpulan berbagai keluarga maka disebutlah masyarakat. Dalam keluarga terdapat dua atau lebih pribadi yang tergabung karena hubungan perkawinan, hubungan darah, dan hubungan sebagai saudara angkat. Setiap keluarga mempunyai pimpinan yaitu disebut sebagai kepala keluarga. Kepala keluarga adalah orang yang utama dan pertama bertanggung jawab terhadap keselamatan anggota keluarga. Seorang ayah mempunyai peranan penting dalam melindungi anggota keluarga, baik keselamatan jasmani maupun keselamatan secara rohaniah.

Penanggulangan bencana berbasis keluarga merupakan serangkaian aktivitas kepala keluarga pada saat pra, emergency dan pascabencana untuk mengurangi jumlah korban baik jiwa, kerusakan sarana/prasarana dan terganggunya peri kehidupan berumah tangga dan lingkungan hidup dengan mengandalkan sumber dan kemampuan yang dimiliki oleh kepala keluarga. Penanggulangan bencana sebagai upaya bersama antara masyarakat, LSM, swasta dan pemerintah. Pada intinya konvensional menempatkan masyarakat dalam arti besar sebagai korban dan penerima bantuan sehingga menimbulkan ketidakberdayaan dan ketergantungan yang akhirnya tanpa disadari akan memperlambat proses pemulihan karena tidak ada keswadayaan.

Dengan pengetahuan kebencanaan yang dimiliki oleh kepala keluarga salah satunya adalah menempatkan keluarga sebagai pusat penanggulangan bencana, tidak hanya menjadi objek, tapi juga subjek. Pengetahuan terkait dengan persiapan menghadapi bencana pada kepala keluarga yang rentan bencana menjadi fokus utama. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi bencana ini seringkali terabaikan pada keluarga yang belum memiliki pengalaman langsung dengan bencana.

Berdasarkan data yang dikeluarkan UN-ISDR (United Nations Intrernational Strategy for Disaster Reduction), yaitu satu badan PBB untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana, menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang paling rawan terhadap ancaman bencana. Di antara jenis bencana dimaksud adalah gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, banjir, tanah longsor, badai, angin topan, wabah penyakit, polusi lingkungan, kekeringan, kecelakaan industri dan lain-lain. Berbagai jenis bencana tersebut terjadi di lingkaran wilayah Indonesia seperti termaktub dalam UU No.24 Tahun 2007.

Selain itu, kompleksitas kondisi demografis, sosial dan ekonomi di Indonesia turut berkontribusi pada tingginya tingkat kerentanan masyarakat dalam menangani bencana menyebabkan risiko bencana di Indonesia menjadi tinggi. Di sisi lain, kebanyakan pembangunan tidak disertai studi kelayakan yang berakibat timbulnya berbagai bencana. Setiap tahun, puluhan bencana terjadi hampir di setiap daerah di Indonesia, terutama di Aceh sebagai satu wilayah yang berada di jalur Patahan Sumatera, yang membentang aktif dari Lampung sampai ke Laut Andaman.

Tempat evakuasi
Berdasarkan kajian para pakar bahwa di Aceh, sesar besar Sumatera terpetakan beberapa segmen, di antaranya sesar Aceh, Seulimeum, dan Tripa. Selain itu, terdapat pula struktur sesar lokal lain, seperti sesar Lhokseumawe dan Sesar Samalanga-Sipopok. Gempa bumi muncul akibat perubahan tiba-tiba pada permukaan bumi di sepanjang sesar. Perubahan dan pergerakan kerak bumi dapat melepaskan energi, yang dirasakan sebagai gempa bumi.

Gempa dapat terjadi di darat maupun di laut. Gempa yang terjadi di bawah laut dapat menyebabkan tsunami. Tsunami dapat dipicu oleh bermacam-macam disturbance berskala besar terhadap air laut, misalnya gempa bumi, pergeseran lempeng, meletusnya gunung berapi di bawah laut. Atau tumbukan benda langit. Namun, yang sering terjadi diakibatkan oleh gempa bumi bawah laut.

Berdasarkan kejadian gempa bumi 11 April 2012 yang lalu banyak masyarakat terjebak di persimpangan jalan karena belum ada SOP gempa bumi berpotensi tsunami pada waktu itu. Seharusnya begitu ada peringatan dini tsunami, kepala keluarga tidak lagi mencari anggota keluarganya dan begitu juga dengan anggota keluarga tidak lagi mencari kepala keluarganya. Sebagaimana pernyataan Prof Dr Srimulyani yang mengatakan bahwa wilayah-wilayah yang terkena dampak bencana tsunami seperti Miyako memperlihatkan awareness yang cukup di kalangan masyarakat, terkait bencana gempa dan tsunami. Awareness ini juga terlihat dari insfrastruktur yang dibangun dan sistem evakuasi bencana. Artinya, masyarakat Jepang sangat siap menghadapi bencana termasuk pengurangan risiko bencana. Sebuah keluarga di Jepang, terkadang memiliki sebuah tempat yang sudah disepakati sebagai tempat evakuasi mereka kalau terjadi bencana, artinya mereka tidak harus saling mencari dan panik ketika tidak menemukan keluarganya. Nah!

Aswadi, S.Pd., M.Si., Kepala Bidang Kebencanaan IPAU, Pengurus FPRB Kota Banda Aceh, dan Ikatan Alumni Mahasiswa Ilmu Kebencanaan (Ikamik) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: aswadilapang@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help