MAF Akhiri Layanan Ambulans Udara di Aceh

Mission Aviation Fellowship (MAF), lembaga sosial yang bergerak di bidang penerbangan, khususnya layanan evakuasi medis

MAF Akhiri Layanan  Ambulans Udara di Aceh
AMBULANS 

BANDA ACEH - Mission Aviation Fellowship (MAF), lembaga sosial yang bergerak di bidang penerbangan, khususnya layanan evakuasi medis ‘ambulans udara’ dari daerah terpencil, mulai Januari 2018 tidak beroperasi lagi di Aceh. Diakhirinya program ambulans udara di Aceh, merupakan keputusan internal lembaga tersebut setelah melalui evaluasi panjang.

Hal itu diungkapkan Office Manager MAF Aceh, Kasimo L Gultom kepada Serambi, Jumat (12/1). Dia mengatakan, ditutupnya program di Aceh tanpa intervensi dari pihak manapun, dan merupakan hasil evaluasi internal atas Program YMAF Aceh dari tahun sebelumnya. “Kami sangat menghargai setiap masukan dan saran yang baik selama kami melayani masyarakat di Provinsi Aceh,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, kemajuan transportasi udara di wilayah Provinsi Aceh sudah memasuki kategori baik, jauh berbeda dari provinsi lainnya. “Kondisi yang baik ini menjadi pertimbangan kami lainnya untuk menutup program di Aceh. Kami ingin memfokuskan dukungan layanan transportasi di daerah yang lebih tertinggal dan lebih membutuhkan,” jelas Kasimo.

Memulai layanan penerbangan di Aceh pada masa tsunami tahun 2004, lanjut Kasimo, MAF Aceh mengawali penerbangan dengan menyuplai makanan dan alat medis, tim medis, hingga relawan ke wilayah pesisir Barat. Namun sejak tahun 2007, seiring dengan pembangunan Aceh yang telah rampung, pemerintah provinsi meminta MAF untuk menyediakan ambulans udara menggunakan peswat kecil.

MAF juga mengucapkan terima kasih serta memohon pamit kepada Gubernur Aceh, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Direktur RSUZA, dan lembaga lainnya yang telah bekerja sama selama ini. “Kami menyadarai bahwa apa yang telah kami berikan tidaklah sempurna. Namun kami sangat bangga telah bisa berbagi selama ini,” jelas Kasimo.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr Hanif mengatakan, kabar pemutusan program ambulans udara MAF Aceh sudah diterimanya sejak Desember 2017. Karena itu sejak awal Januari 2018, pihaknya menyurati instansi terkait soal penghentian program tersebut. “Pemutusan itu memang dari MAF. Setahu saya mereka tidak dapat izin lagi dari pusat, jadi ini masalah internal mereka,” katanya.

Meskipun mengaku keberadaan ambulans udara sangat penting, Hanif mengaku pihaknya sudah menerima keputusan MAF itu dan mulai menjajaki kerja sama dengan perusahaan lain. “Kami sedang mencari maskapai lain yang mau bekerja sama dalam evakuasi medis. Tapi sejauh ini belum jumpa,” akunya.

Menurut dr Hanif, ambulans udara adalah layanan gratis yang sangat diperlukan bagi pasien emergency yang tinggal di daerah terpencil seperti Singkil, Simeulue, Aceh Tenggara, hingga Gayo Lues. “Selama ini ambulans udara mengevakuasi pasien dengan kasus darurat seperti ibu bersalin, kecelakaan, stroke, dan sakit jantung,” ujarnya.(fit)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help