Relawan Aceh Bantu Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Konflik di Myanmar terhadap etnis muslim Rohingya telah memantik solidaritas masyarakat dunia untuk memberikan bantuan kemanusiaan

Relawan Aceh Bantu Pengungsi  Rohingya di Bangladesh
SEORANG relawan asal Aceh, dr Aslinar SpA (tiga kiri) dari MuhammadiyahAid yang bergabung dalam Indonesian Humanitarian Alliance (IHA) foto bersama dengan anak-anak pengungsi Rohingya di kamp Jamtoli, Bangladesh, Rabu (10/1). FOTO IST 

COX’S BAZAR - Konflik di Myanmar terhadap etnis muslim Rohingya telah memantik solidaritas masyarakat dunia untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Sejumlah lembaga kemanusiaan dari Indonesia yang berhimpun dalam wadah Indonesian Humanitarian Alliance/Aliansi Kemanusiaan Indonesia/IHA) sejak September 2017 mengirimkan relawan ke kamp pengungsian etnis Rohingya di Bangladesh.

IHA merupakan gabungan beberapa lembaga kemanusiaan seperti MuhammadiyahAid, Dompet Duafa, Rumah Zakat, Darut Tauhid, PKPU, Nadhdatul Ulama, Lazis Wahdah, Laznas LMI yang mendapat dukungan dari Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Aliansi ini bertujuan mengoptimalkan fungsi pemberian bantuan layanan kemanusiaan untuk korban terdampak konflik Myanmar. Untuk layanan kesehatan dikoordinatori oleh tim medis dari MuhammadiyahAid.

Seorang anggota tim medis MuhammadiyahAid yang saat ini di Bangladesh adalah dr Aslinar SpA asal Aceh. Aslinar juga Wakil Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Aceh dan Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana PW Aisyiyah Aceh.

“Insya Allah kami akan bertugas memberikan pelayanan kesehatan selama 15 hari sejak 9 sampai 24 Januari 2018,” kata Aslinar yang melaporkan kepada Serambi dari kamp Jamtoli, berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Cox’s Bazar, salah satu kota di Bangladesh.

Aslinar mengatakan, kamp Jamtoli dihuni lebih 50.000 pengungsi Rohingya yang 60 persen di antaranya adalah anak anak. Jenis penyakit yang saat ini diderita pengungsi adalah infeksi saluran napas, diare, masalah perut dan juga kulit.

Saat ini di kamp pengungsian sedang terjangkit wabah penyakit difteri. Ketika pendaftaran serta triase, pasien yang dicurigai dengan difteri dimasukkan ke ruang terpisah. Selanjutnya dokter akan memeriksa untuk memastikan diagnosisnya. “Apabila memang betul terdiagnosis sebagai difteria maka pasien tersebut akan dirujuk ke RS Lapangan yang ada di lokasi kamp,” kata Aslinar.

Untuk menanggulangi penyebaran penyakit mematikan ini, menurut Aslinar sudah dilakukan tindakan segera memberikan vaksinasi massal difteri kepada semua pengungsi yang ada di semua kamp pengungsian. Hingga kini sudah 27 orang meninggal dunia dan 2.700 terinfeksi penyakit difteri. Jumlah total seluruh pengungsi Rohingya di Bangladesh mencapai 1,2 juta jiwa. (sal)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help