Nostalgia Titisan Malahayati  

PAGI itu, Kamis (12/1), Meuligoe Wali Nanggroe terlihat tak biasa. Seorang perempuan yang sudah sepuh dengan tangan

Nostalgia Titisan Malahayati   
PEWARIS Malahayati, Bunda Putro.

PAGI itu, Kamis (12/1), Meuligoe Wali Nanggroe terlihat tak biasa. Seorang perempuan yang sudah sepuh dengan tangan menopang pada tongkat tertatih menapaki lantai meuligoe nan megah.

Diapit oleh sanak kerabat yang datang dengan iring-iringan mobil dan dikawal polisi. Di muka pintu masuk, tuan rumah, Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al Haytar menyambut hangat tamunya. Ya, dialah sang pewaris Malahayati, Sulthanah Teungku Putro Safiatuddin Cahya Nur Alam (86).

Trah keluarga sulthanah kesultanan Aceh Darussalam itu terbang dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tempat selama ini sang pewaris terakhir kerajaan menghabiskan hari-harinya.

Ia melepas rindu dengan napak tilas pusara para pahlawan Aceh. Termasuk nostalgia rasa dengan kuliner Aceh, dalam jamuan oleh wali nanggroe pada sebuah rumah makan di kawasan Batoh, Banda Aceh.

“Saya rindu Aceh. Jadi selama di sini saya ziarah ke makam Raja Kerajaan Pase dan raja-raja, termasuk ke makam Malahayati,” terang perempuan yang akrab disapa Bunda Putro ini dengan suara bergetar dalam wawancara khusus dengan Serambi.

Ia mengungkapkan kerinduan kepada tanah kelahirannya ini. Selama tiga pekan lebih, perempuan yang lahir 86 tahun silam ini melakukan napak tilas ke pusara-pusara raja diraja Aceh, termasuk makam sang nenek, Laksamana Malahayati. Merasakan suasana keacehan, hingga bernostalgia rasa dengan kuliner warisan indatu.

Di kediaman Wali Nanggroe, Bunda Putro juga berbagi kisah dan pengalaman. Menuturkan pembabakan sejarah, tatkala Aceh menjadi daerah modal bagi republik ini. Romantisme masa lalu dua tokoh Aceh, pewaris Malahayati dan Wali Nanggroe yang sudah hidup sejak masa perang kemerdekaan bergolak.

“Ini adalah ruangan tempat peninggalan barang-barang Teungku Hasan Tiro. Rencananya, suatu saat akan dijadikan museum, sehingga bisa dipamerkan,” tutur Malik Mahmud kepada para tamu di kediamannya.

Sekitar dua jam, anggota trah keluarga sulthanah terakhir itu berbincang-bincang akrab dengan pemangku adat Aceh tersebut. Malik Mahmud yang dipanggil ayahanda oleh kerabat pewaris kerajaan itu, menyerahkan plakat sebelum melepas tamunya.

“Kami kecewa dengan Pemerintah Aceh karena setelah penganugerahan gelar pahlawan nasional tidak ada apresiasi apa-apa. Malah di Lombok kami lebih dihargai oleh warga di sana,” terang Pocut Meurah Neneng, anak dari Bunda Putro.

Diakuinya, trah terakhir sulthanah Aceh itu sudah tidak memiliki aset apa-apa lagi. Namun ia mengungkapkan, harapannya untuk bisa kembali bermukim di tanah kelahiran tempat srikandi ke-13 negeri ini berasal.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved