Cerpen

Sekularis Terakhir Di Mukim X

DALAM suatu perjalanan bisnis: tatkala Teuku Guteldel tengah masyuk membaca kolom berita yang bertajuk Het Nieuwe Turkije

Sekularis Terakhir Di Mukim X

Karya Nanda Winar Sagita

DALAM suatu perjalanan bisnis: tatkala Teuku Guteldel tengah masyuk membaca kolom berita yang bertajuk Het Nieuwe Turkije di Koran De Telegraaf edisi Maret 1924?yang terbit satu tahun terlebih dahulu sebelum sampai ke tangannya?tiba-tiba sepur yang dinaikinya berhenti secara mendadak. Hal itu menyebabkan gerbong paling belakang terjungkal hingga muatan barang yang terdiri dari berpon-pon lateks hasil sadapan dari perkebunan karet yang dimandorinya jatuh berserak di jalanan.

Teuku Guteldel, yang telah lama terjebak dalam perangkap kehidupan palsu yang amat dibencinya, meremas lembaran koran tersebut dengan palak dan kalap. Selama 7 tahun sejak menjadi ulebalang yang memimpin Mukim X dan pewaris tunggal dari segala jenis properti peninggalan ayahnya, dia tak pernah telat sekali waktu pun untuk mengantar hasil sadapannya. Lantaran kerusakan rel yang amat parah, setidaknya, untuk ukuran waktu saat itu, dibutuhkan sekitar satu hari lagi sebelum dia tiba di Kutaraja.

“Dasar inlander!” cercanya. “Mau sampai kapan mereka bertindak senaif ini.”

Benar, dia adalah seorang bumiputra yang mengutuki diri dan bangsanya karena tak setetes darah Kaukasoid pun mengalir dalam nadi mereka. Sejak belia jiwanya telah menjelma menjadi tetesan murni ruh Barat yang terjebak dalam raga manusia Timur. Bahkan, jauh sebelum Sutan Takdir Alisjahbana menulis esai Semboyan yang Tegas dan Jim Morisson bersenandung ria dengan frasa ‘the West is the best’, dia telah menanamkan keyakinan bahwa satu-satunya cara untuk menjadi manusia utuh adalah menjunjung tinggi kebudayaan Eropa, lain tidak! Terlepas dari citra muluk tersebut, Teuku Guteldel sama sekali belum pernah melangkahkan kakinya untuk keluar dari tanah Aceh barang sejengkal pun. Selain tidak punya kesempatan, sebenarnya dia sama sekali tidak punya pilihan.

Sembari menunggu kedatangan para pekerja yang akan memperbaiki rel, dia kembali membaca lembaran De Telegraaf yang sudah remuk diremasnya. Namun, bukannya menghibur, hal itu malah membuatnya semakin nanar. Berkali-kali bibirnya tampak berdesis melafalkan sesuatu yang membuat para kacungnya yang sedang sibuk memunguti bongkahan lateks teringa-inga. Sementara itu, cuaca mendung yang diciptakan oleh balutan awan yang tersusun bancuh di tepi cakrawala mulai menunjukkan gelagat akan turunnya hujan. Dia?yang mulai menyadari bahwa satu-satunya orang yang harus dibenci adalah dirinya sendiri?melampiaskan murka kepada para penghuni penghuni angkasa yang telah lama dia ragukan keberadaannya, seraya merebahkan badan di atas ilalang kering yang aromanya persis nian seperti tumpukan jerami yang ditumbuhi jamur merang. Iris matanya yang berwarna hitam kecokelat-cokelatan (atau cokelat kehitam-hitaman?) menatap langit yang mulai kelabu; hidung peseknya mulai menghidu bau langu yang menebar dari ilalang kering itu, sehingga benaknya menerawang jauh melintasi dimensi maya dan semu, tempat abadi di mana kenyataan masa lalu dan ekspektasi masa depannya bercokol sekaligus. Bau itu mengingatkannya pada momen ketika invasi Van Daelan menggempur kampung asalnya. Saat itu dia bersembunyi di dalam tumpukan jerami langu dan menyaksikan pasukan marsose membantai semua orang. Namun, bukannya dendam atau marah, dia malah terkagum-kagum melihat berbagai jenis senjata yang digunakan oleh pasukan tersebut, yang sejatinya jauh lebih canggih jika dibandingkan dengan senjata yang digunakan oleh orang-orang di kampungnya, seperti parang, pacul, kapak, palu, arit, gergaji, garu, dan perkakas lain yang memang lebih cocok dipakai sebagai alat untuk bercocok tanam dan membangun rumah ketimbang untuk berperang.

Takdir telah membelenggunya hingga tersungkur di titik nadir paling suram. Setelah kampungnya musnah, dia yang saat itu masih bocah, diangkat oleh seorang ulebalang yang memimpin Mukim X dan dengan serta-merta gelar teuku dilakabkan di depan namanya. Ayah angkatnya itu adalah seorang pria majir yang flamboyan dan telah menikahi lima perempuan tanpa memberi mereka satu anak pun. Jadi jika diselisik secara terperinci, Teuku Guteldel tak pernah mau tahu tentang siapakah perempuan yang berhak dipanggilnya ibu, meskipun dia tidak punya alternatif lain perihal pria yang mesti dipanggilnya dengan sebutan ayah.

Meskipun telah menjadi bagian dari keluarga bangsawan, Teuku Guteldel tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Tapi usaha untuk membentuk pola pikirnya memang telah dimulai sejak belia. Ketika ayahnya pergi ke Kutaraja untuk menyerahkan hasil sadapan, dia selalu mengintil seperti seekor kutuk yang takut kehilangan induk. Rutinitas itu membuatnya riang, karena hampir setiap bulan dia mendapatkan hadiah berupa bacaan baru melalui buku-buku berbahasa Belanda dan Inggris yang diberikan secara perdeo oleh para klerek keresidenan kenalan ayahnya. Kepolosannya sebagai seorang bocah tersesat ternyata takluk oleh pengaruh lembaran kusam yang dijejali aksara Latin itu. Lebih parahnya lagi, demi mempelajari bahasa orang-orang pirang itu, dia memutuskan untuk mungkir dari pengajian rutin yang diadakan di menasah sekitar Mukim X.

Setelah beranjak remaja, Teuku Guteldel mulai lihai mengendalikan situasi dan menentukan arah hidupnya sendiri. Dengan menyusup ke tengah-tengah pasukan KNIL, pasukan yang sangat dikaguminya, dia menawarkan diri menjadi pemandu jalan untuk menunjukkan lokasi persembunyian yang dijadikan sebagai markas oleh para pejuang yang masih bergerilya secara sporadis sejak Sultan Muhammad Daudsyah (sang sultan terakhir yang hidup terkatung-katung tanpa istana itu) menyerah. Tentu saja dia telah menghafal rute itu melebihi para pasukan yang hendak dipandunya, sehingga imbalan yang dimintanya bukan cuma demi sekeping gulden dan seteguk jenewer semata, tapi di sempitnya waktu luang medan perang, dia meminta para perwira yang berasal dari Eropa totok murni harus bersedia mengajarinya bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Tidak butuh perdebatan panjang, permintaan itu langsung dipenuhi. Dalam waktu singkat, Teuku Guteldel telah menjelma menjadi sosok bena bagi pengaturan strategi penyerangan KNIL dan, di samping itu, dia juga mahir bercakap-cakap dalam bahasa impiannya sehingga ketika pemuda sebangsanya sibuk menafakuri Hikayat Prang Sabi, dia malah masyuk membaca Robinson Crusoe.

Meskipun sejak muda, dan di sepanjang hidupnya, Teuku Guteldel telah berbaur dengan pasukan KNIL, sebenarnya dia adalah orang yang selektif, kalau bukan rasis. Benar, dia mengagumi kegigihan tentara bayaran itu tapi hanya sebatas pada perwira dan serdadu parlente yang berasal dari daratan Eropa. Dia tidak peduli, walaupun standar Barat telah menimbun jiwa Timurnya, baginya serdadu inlander seperti etnis Jawa, Ambon, Manado, serta segelintir negro dari Elmina (Ghana), hanyalah pasukan kelas dua. Selain tidak memakai sepatu lars laiknya prajurit kelas satu, kebanyakan dari mereka juga buta huruf, sehingga tidak ada alasan untuk mendekati mereka.

Setelah ayahnya meninggal dan dia diangkat menjadi ulebalang yang memimpin Mukim X, Teuku Guteldel mulai menyusun rencana yang terkesan culas dan lengit untuk mempertahankan takhtanya agar tidak runyam. Sebagai seorang pengagum Snouck Hurgronje dan belajar banyak hal secara otodidak soal menaklukkan pribumi?sial! Kaumnya sendiri?dari manuskrip karya orientalis bestari itu, dia mengerti bahwa jika mengandalkan materi maka segudang emas pun tidak akan bisa untuk menaklukkan para pejuang. Jadi langkah pertama adalah menjual nama Tuhan dengan harga yang relatif murah: Teuku Guteldel pura-pura tobat dan menjelma menjadi sosok Tartuffe yang munafik. Sejak saat itulah dia perangkap dalam kehidupan palsu yang amat dibencinya. Langkah selanjutnya dia mulai mendekati para pejuang dan berjanji menyediakan pasokan makanan dan senjata untuk mereka. Tapi sebagai gantinya para pejuang tidak boleh mempreteli rel lagi karena, menurut pengakuan palsunya, dia ingin melawan Belanda dengan tetap menjual karet dan uangnya bisa dipakai untuk membeli makanan dan senjata untuk para pejuang. Kesepakatan itu tetap terjalin hingga tiba saat gerbong belakang sepur yang mengangkut bongkahan lateks yang akan dibawa ke Kutaraja terjungkal karena para pejuang mengingkarinya dengan merusak rel: salah satu penyebab yang membuat Teuku Guteldel nanar dan mengutuki langit sembari berbaring di atas ilalang dan mencari waktu yang hilang.

Alasan kedua yang membuatnya murka adalah kolom berita di koran De Telegraaf yang mengabarkan tentang modernitas Turki pascakeruntuhan Dinasti Usmaniyah. Pada dasarnya, Teuku Guteldel telah berniat sejak lama untuk memodernkan (baca: membaratkan) Aceh, negerinya, tapi setelah membaca kolom tersebut, dia merasa dilangkahi dan terhina lantaran seseorang berada nun jauh di sana telah melakukan gebrakan nyata, sedangkan dia hanya sekadar berencana. Tatkala dia sedang tenggelam dalam amarah yang disulutnya sendiri, tiba-tiba dari arah semak belukar muncul gerombolan orang bersenjata lengkap.

Mereka adalah para pejuang yang mengaku mengingkari kesepakatan dengan Teuku Guteldel, karena merasa dikhianati terlebih dahulu karena menyadari bahwa makanan yang mereka terima telah basi dan senjatanya telah rusak. Dengan amarah yang menggebu-gebu, para pejuang mulai menggencarkan serangan sehingga Teuku Guteldel dan para kacung-kacungnya kalah telak. Sebelum gerombolan peluru menembus jantungnya, mata Teuku Guteldel ditutup oleh seorang algojo dengan sobekan kain sarung yang membelit pinggangnya. Sebagai permintaan terakhir, dia meminta agar dimakamkan di area Kerkhoff, tapi tak ada seorang pun yang sudi untuk mengabulkan permintaan konyol itu. Meskipun demikian, dia menghadapi kematiannya dengan ketenangan yang tak masuk akal sehingga membuat para pejuang semakin jengkel. Ketika seseorang menuntunnya untuk mengucapkan syahadat, dia malah menyenandungkan himne Wilhelmus dengan fasih dan mengalun merdu bak kidung surga. Tak lama kemudian, letupan senapan Beamont hasil rampasan perang terdengar sayu disertai dengan gemuruh takbir yang menggebu-gebu?kebisingan terakhir yang didengarnya sebelum dia benar-benar tewas. Sementara itu rintik hujan turun deras menutupi biru langit, seolah-olah menyambut kematiannya: kematian sekularis terakhir di Mukim X.

* Kisah untuk para guruku, terutama: Arifin Gapi, T. A Sakti, Husaini Ibrahim, Mawardi Umar, Ruslan, Nurasiah, dan alm. Syaiful Mahdi

* Nanda Winar Sagita, lahir di Takengon 24 Agustus 1994. Alumnus FKIP Sejarah Unsyiah. Saat ini bekerja sebagai pengajar lepas.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help