Tafakur

Kepentingan Pribadi

Bersumpah sudah bagaikan suatu syarat wajib untuk melariskan dagangan, termasuk memperdagangkan

Kepentingan Pribadi

Oleh: Jarjani Usman

“Tiada seorang hamba yang diberi amanat rakyat oleh Allah, lalu ia tidak memeliharanya dengan baik, melainkan Allah tidak akan merasakan harumnya surga kepadanya” (H.R. Bukhari).

Bersumpah sudah bagaikan suatu syarat wajib untuk melariskan dagangan, termasuk memperdagangkan diri sendiri. Tak sedikit orang yang mengampanyekan diri sebagai orang amanah, baik, jujur, berkemampuan tinggi, punya komitmen untuk mengutamakan kepentingan rakyat banyak di atas kepentingan pribadi, dan berbagai janji lain, saat mencalonkan diri sebagai kepala daerah atau wakil rakyat. Namun pada waktu sudah terpilih dan sedang memegang jabatan, lebih mengutamakan kepentingan pribadi.

Hal itu bahkan dilakukan oleh orang-orang yang sebelumnya relijius, aktivis, dan idealis. Meskipun sangat memahami bahwa perbuatan demikian salah, megkhianati sumpah, menghasilkan dosa dan bersifat mengkhianati amanah, tetap saja dilakukan. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya hawa nafsu dalam melumpuhkan benteng pertahanan idealisme dan agama seseorang hamba. Lebih-lebih kalau sudah berada dalam kelompok orang-orang yang sudah terbiasa mementingkan hawa nafsu.

Namun demikian, sepatutnya berusaha mengajak diri ke jalan yang diridhai Allah. Apalagi kesempatan untuk menduduki kekuasaan tertentu adalah suatu cobaan, yang pasti akan berakhir dan menyisakan penyesalan dahsyat bila tak dijalankan sesuai dengan sumpah atau amanah. Dosa terhadap rakyat banyak tak mudah untuk terampun

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help