Citizen Reporter

Menariknya Pendidikan Karakter Anak di Rusia

KARAKTER yang baik akan menjadi modal utama bagi seorang anak untuk sukses di masa depan

Menariknya Pendidikan Karakter Anak di Rusia
ABDILLAH IMRON

OLEH ABDILLAH IMRON NASUTION, Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala, sedang studi S3 di Northern (Arctic) Federal University, Arkhangelsk, melaporkan dari Rusia

KARAKTER yang baik akan menjadi modal utama bagi seorang anak untuk sukses di masa depan. Oleh karena itu, pembentukan karakter dalam bidang pendidikan yang terorganisir menjadi kurikulum yang utama di suatu negara, demikian pula di Rusia. Tidak ada matematika dan sains yang rumit. Apalagi pengenalan bahasa-bahasa asing. Anak-anak yang usianya diyakini berada dalam fase golden age di Rusia ini, akan berkutat dengan berbagai pembelajaran yang simpel, namun disusun agar dapat memberi dampak yang besar di kemudian hari.

Mereka akan lebih banyak belajar agama, seni, sejarah, dan bahasa. Semua itu tentu saja berkenaan dengan bangsa mereka sendiri, Rusia.

Tidak terkecuali, ketika saya mengikuti dan menyaksikan bagaimana anak-anak berumur 6-8 tahun belajar dalam cuaca minus 22 derajat Celcius sembari berjalan-jalan di kota. Kita akan temukan anak-anak ini bagaimana beretikanya mereka di jalan raya. Anak-anak ini dididik bagaimana menggunakan haknya sebagai pejalan kaki dan mengetahui kewajiban pengendara di jalan raya ketika berhadapan dengan penyeberang jalan di zebra cross.

Kontras sekali, jika kita perhatikan di jalanan di Aceh dan Indonesia. Di sini, setiap zebra cross adalah zona aman untuk pejalan kaki. Jika kita temukan zebra cross tanpa ada traffic light, maka pejalan kaki yang akan melewati zona tersebut akan sangat leluasa menyeberang tanpa harus takut ditabrak mobil ataupun sepeda motor. Setiap pengendara yang akan melewati zebra cross dan mendapati ada pejalan kaki yang hendak menyeberang, sang sopir akan segera menghentikan laju kendaraannya untuk memberikan waktu bagi si penyeberang untuk melintas.

Tak jarang pula guru yang mendampingi anak-anak ini menjelaskan dengan memperlihatkan bagaimana kendaraan ini wajib berhenti ketika ada penyeberang yang melintasi zona ini; setiap kendaraan harus segera berhenti dan pengemudinya mempersilakan orang menyeberang. Lain halnya ketika mereka ingin menyeberang di zebra cross yang terletak pada traffic light, guru-guru ini memperlihatkan sebagai penyeberang mereka hanya dapat dipersilakan menyeberang dalam waktu yang ditunjukkan oleh waktu dan tanda yang penunjung pada traffic light.

Setelah melewati persimpangan traffic light, tampak anak-anak tetap teratur untuk menuju supermarket. Pendidikan karakter yang diberikan pada lokasi ini adalah bagaimana anak-anak mengenal berbagai hasil bumi baik negaranya sendiri atau yang didatangkan dari negara lain. Baik yang telah diolah maupun yang masih alami.

Anak-anak juga dipersilakan memilih jajanan yang mereka inginkan. Sepertinya anak-anak ini sudah diinstruksikan sebelumnya untuk membawa uang yang ditentukan jumlahnya. Setelah itu, mereka diharuskan sabar mengantre menunggu gilirannya untuk membayar di kasir yang tersedia. Sesekali anak-anak laki-laki terlihat mengganggu teman wanitanya. Di sini jelas sekali, budaya antre menjadi pelajaran bagi anak-anak Rusia sejak dini.

Lalu, rombongan yang disupervisi oleh empat orang guru ini menuju tempat bersejarah, yaitu museum. Anak-anak ini akan menemukan anak-anak seusia mereka yang membuat berbagai karya di sini. Dalam museum yang mereka kunjungi, terdapat beberapa kelas keterampilan yang diikuti oleh anak-anak seusia mereka hingga orang dewasa. Ada kelas membuat boneka, merajut, melukis, mengukir, dan membuat karya dari tanah liat seperti tembikar, mainan anak-anak, dan lain sebagainya. Semua kelas kerajinan tangan ini dibuka untuk umum. Dalam penjelasan penjaga museum, jelas bahwa kerajinan tangan dan hasil karya seni yang mereka saksikan di dalam museum adalah karya seniman-seniman dari kota mereka.

Mereka juga akan diperlihatkan dengan slide dan film pendek yang diputar di satu ruangan. Sebuah tampilan yang memperlihatkan bagaimana penduduk kota di masa lalu berinteraksi dengan berbagai pedagang dari berbagai negara. Anak-anak juga secara langsung mengetahui bagaiamana nenek moyang mereka menyimpan makanan dan air di dalam wadah yang dibuat dari kulit kayu. Sepintas anyaman wadah ini memang mirip dengan ketupat di Indonesia, perbedaannya wadah ini lebih keras, kaku dan tentu saja kedap air.

Anak-anak juga dapat memilih beberapa hasil karya pendahulu-pendahulu kota di masa lalu untuk mereka tiru dan coba buat kembali dalam versi mereka sendiri. Seluruh hasil karya mereka akan dipajang di museum, hingga mereka dapat melihatnya kembali saat mereka sudah dewasa dan dapat menceritakannya kembali kepada anak cucu mereka di kemudian hari.

Pola pembelajaran yang telah memadukan seni dan pengetahuan mereka pada sejarah, kultur, agama, humanisme, dan sosial disamping meningkatkan kecerdasan mereka. Pola ini telah berhasil menciptakan karakter generasi-generasi Rusia yang sangat menghormati budaya, sejarah, dan tentu saja mencintai kota dan negaranya. Kita di Aceh tentunya saja bisa menjadikan pola pendidikan ala Rusia ini sebagai sumber inspirasi.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved