Tafakur

Menggunakan Akal

Kalau disebut tak berakal, kita marah. Namun kalau mau diakui, sesungguhnya banyak di antara kita yang tak mau mempergunakan akal

Menggunakan Akal
Tafakur

Oleh: Jarjani Usman

 “Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya sebuah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal” (QS. Al-Ma’idah: 58).

Kalau disebut tak berakal, kita marah. Namun kalau mau diakui, sesungguhnya banyak di antara kita yang tak mau mempergunakan akal, sebagaimana disindir oleh Allah. Sindiran itu ditujukan untuk orang-orang yang mengabaikan panggilan untuk shalat.

Saat azan dikumandangkan untuk memanggil orang-orang beriman untuk menunaikan ibadah shalat, tak sedikit di antara kita tak menggubrisnya. Yang berada di warung kopi terus berkelakar, tertawa besar-besar, dan tak mau bangkit untuk menunaikan kewajibannya. Itulah di antara ciri orang-orang lupa kepada Allah, sehingga lupa terhadap dirinya sendiri atau nasibnya di akhirat kelak.

Yang mengelola warung pun merasa senang dengan banyaknya orang yang masih belum beranjak dari tempat duduknya, melalaikan kewajibannya karena bercengkerama ria saat azan menggema. Demikianlah perasaan seseorang yang hatinya sudah terkontaminasi dengan nafsu mencari uang sebanyak-banyaknya dan menghitung-hitungnya.

Perilaku demikian tak akan berhenti hingga ajal tiba, kecuali kita mau menyadarkan diri dan berusaha untuk kembali menggunakan akal sehat. Dalam keadaan sehat akalnya, seseorang akan bergetar hatinya apabila disebut nama Allah dan bersegera bangkit untuk menunaikan shalat.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help