Jamil Meraup Rupiah dari Budidaya Lele di Pekarangan Rumah

DI tangan orang kreatif, pekarangan rumah dapat menghasilkan rezeki melimpah

Jamil Meraup Rupiah dari Budidaya Lele di Pekarangan Rumah
Wakil Bupati Aceh Barat Daya, Muslizar MT bersama sejumlah LSM dan muspida melakukan penaburan 67.500 ekor benih ikan di sungai Babah Lhung, Kecamatan Blangpidie, Sabtu (20/1) 

DI tangan orang kreatif, pekarangan rumah dapat menghasilkan rezeki melimpah. Itulah yang dilakukan Jamil, penduduk Gosong Telaga Barat, Singkil Utara, Aceh Singkil. Dengan modal minim serta perlengkapan sederhana ia menyulap pekarangan belakang rumahnya menjadi lokasi budidaya lele sangkuriang. Menggunakan terpal pelastik yang dipaku ke pagar batang kayu kecil, jadilah kolam ukuran 3x4 meter itu tempat budidaya lele.

Ada lima kolam yang dibuat ayah tiga anak ini. Empat kolam ukuran 3x4 meter sebagai lokasi budidaya lele. Satu lagi ukuran 1x10 meter untuk tempat memisahkan lele besar dan kecil. Hanya butuh waktu sekitar 60 hari, lele tersebut sudah bisa dipanen.

Pada panen pertama Jamil berhasil mengumpulkan uang Rp 2,2 juta. Ia tidak memanennya sekaligus. Hanya lele ukuran 1 ons per ekor yang dijualnya, ini dilakukan sesuai permintaan pelanggan sekaligus menghindari dari kerugian. “Dua bulan sudah bisa dipanen. Panen pertama sekitar 110 kilo kami jual ke rumah makan Rp 20 ribu per kilo,” kata Jamil, Minggu (21/1). Selanjutnya dalam setiap pekan lele hasil budidaya Jamil, bisa dijual ke rumah makan sebagai pelanggan utamanya. Memang pelangganya ada yang minta beli seluruhnya.

Namun menjaga kualitas agar ukurannya sama, permintaan itu ditolaknya. Modal budidaya lele sangkuriang dengan memanfaatkan lahan tidur di belakang rumah yang dilakukan Jamil menghabiskan modal sekitar Rp 6 juta selama dua bulan. Dengan rincian membeli benih lele 7.500 ekor x Rp 200 per ekor total Rp 1,5 juta. Sisanya biaya membeli terpal, kayu, paku, jaring penutup serta pakan. Setiap 1 kilo lele berjumlah 10 ekor, artinya Jamil telah menjual 1.100 ekor lele dengan harga Rp 2,2 juta pada panen pertama. Masih tersisa 6.400 ekor atau sekitar 640 kilo lagi.

Jika dikalikan harga penjualan Rp 20 ribu per kilo, maka Jamil akan meraih Rp 12,8 juta dari penjualan lele sisanya. “Total penghasilan dari penjualan lele selama dua bulan Rp 15 juta. Dikurangi modal Rp 6 juta dan mati sekitar 20 persen, maka keuntungan bersih Rp 6 juta,” jelas Jamil.

Menurut Jamil, budidaya lele di pekarangan dipelajarinya secara otodidak dengan membaca di internet. Agar lele cepat besar selain memberi pakan cukup, campuran pelet dan daun pepaya. Dia juga rutin melakukan pergantian air dan memisahkan lele besar dengan kecil. “Lele ini kalau tidak dipisah yang besar makan yang kecil. Rajinlah memisahkan, maka tingkat kematian rendah. Kami upayakan yang mati di bawah 20 persen agar untung,” ujarnya.

Sementara itu, kendala yang dihadapi masalah tingginya harga pakan. Jamil berharap dinas terkait dapat memberikan perhatian terhadap warga yang memiliki kemauan untuk melakukan budidaya lele. “Jangan yang ada kemauan tidak diperhatikan, sementara yang malas dibantu,” tukasnya.(dede rosadi)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved