Salam

Monyet vs PLN di Aceh Tamiang

Kita mencatat, ada beberapa gangguan serius yang sering menyebabkan layanan PLN ke masyarakat terputus

Monyet vs PLN di Aceh Tamiang
SERAMBI/JAFARUDDIN

Kita mencatat, ada beberapa gangguan serius yang sering menyebabkan layanan PLN ke masyarakat terputus. Antara lain petir, tanah longsor, banjir, dan gempa yang sering menyebabkan jaringan PLN terganggu. Misalnya, kabel putus, tiang listrik patah, atau bahkan gardu terbakar.

Selain faktor alam itu, yang paling menjengkelkan masyarakat tentu faktor ketidakbijakan pihak PLN dalam mengelola distribusi daya. Misalnya, karena listrik Aceh disuplai dari Sumatera Utara, banyak pelanggan listrik daerah ini merasa dianaktirikan. Pelanggan di Aceh merasa lebih sering dipadamkan ketimbang pelanggan di Sumatera Utara. Kemudian, soal pemeliharaan jaringan dan rusaknya pembangkit juga menjengkelkan. Terkadang, tanpa pemberitahuan, tiba-tiba listrik padam berjam-jam.

Nah, yang paling aneh adalah gangguan-gangguan yang juga sering dikeluhkan para pejabat PLN ketika berhadapan dengan komplain pelanggan. Gangguan “menggelikan” itu antara lain layang-layang, tuna wisma yang tinggal di gardu listrik, kelelawar, tupai, burung, dan terakhir yang sedang heboh adalah monyet.

Manager PLN Rayon Kualasimpang (Aceh Temiang), Amiruddin, mengungkapkan, dalam tiga bulan terakhir, arus listrik di sana sering padam karena gangguan monyet. Monyet-monyet itu menyerbu kawasan pemukiman penduduk di sana setelah habitatnya menjadi kawasan perkebunan.

Gerombolan monyet ini sering memanjat tiang listrik, menduduki gardu listrik, dan meraih kabel terbuka. “Memang, saat kabel listrik disentuh monyetnya terpental. Tapi bersamaan dengan itu listrik juga padam di kawasan dimaksud,” ujarnya.

Sebagai upaya antisipasi, pihak PLN mulai memasang pelindung gardu dan penutup kabel. Warga diimbau, jika melihat monyet atau binatang lainnya duduk di atas gardu hubung, agar melapor kepada pihak PLN, supaya bisa cepat dihalau agar listrik tidak padam.

Monyet, kelelawar, tupai, burung, dan lain-lain mestinya tak terus-terusan dianggap sebagai pengganggu PLN. Harusnya, PLN sudah sejak lama bisa menanggulangi gangguan-gangguan semacam itu.

Dulu, kabel listrik jaringan dalam rumah sering dimakan tikus. Tapi, kemudiannya ditemukan teknologi kabel dan pipa yang antigigitan tikus. Jadi, kabel-kabel bertegangan tinggi itu sesungguhnya juga bisa diformula agar tak disukai binatang seperti burung, kelelawar, monyet, dan lain-lain. Kalau layang-layang, tampaknya tak menjadi masalah lagi, sebab anak-anak zaman now sudah tak suka lagi main layang-layang.

Yang jelas, sesuai dengan Pasal 29 Undang-Undang (UU) No 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan yang menyatakan bahwa masyarakat berhak mendapatkan energi listrik secara baik dan berkelanjutan. Undang-undang itu juga menegaskan, masyarakat berhak memperoleh listrik dengan harga yang wajar. Kemudian, mendapatkan pelayanan untuk perbaikan apabila ada gangguan listrik. Dan, pelanggan mendapat ganti rugi apabila terjadi pemadaman akibat kesalahan PLN. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help