PAA dari Ayam Petelur Rp 170 Juta

Pendapatan Asli Aceh (PAA) 2017 dari industri ayam petelur milik Pemerintah Aceh di Blangbintang, Aceh Besar

PAA dari Ayam Petelur Rp 170 Juta
Wakil Ketua I DPRA, Sulaiman Abda meninjau kawasan industri peternakan ayam petelur milik pemerintah Aceh, di Perbukitan Blangbintang, Aceh Besar. Serambi/Herianto 

BANDA ACEH - Pendapatan Asli Aceh (PAA) 2017 dari industri ayam petelur milik Pemerintah Aceh di Blangbintang, Aceh Besar Rp 170 juta. Tahun ini, ditargetkan akan jauh lebih besar, karena selain industri ayam petelur yang dikelola terbuka ini, Pemerintah Aceh juga akan mengoperasikan industri ayam petelur secara tertutup di Saree, Aceh Besar.

Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Aceh, drh Zulya Zaini menyampaikan hal ini kepada Serambi di ruang kerjanya di Banda Aceh, Senin (22/1). Menurutnya, kedua unit usaha ini, untuk sementara dikelola Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dan tahun 2018 ini rencananya akan diusul menjadi Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD) agar lebih mandiri tak tergantung dengan APBA.

“Hal ini sesuai keinginan Gubernur dan Disnak Aceh, jika melalui BLUD, maka pengadaan bahan operasionalnya, seperti untuk pakan, obat-obatan, dan pendukung, serta peningkatan produksi telur dan lainnya bisa menggunakan hasil penjualan telur tersebut,” kata Zulya.

Zulya mencontohkan industri ayam petelur di Blangbintang yang saat ini berisi 45 ribu dari 100 ribu kapasitas ayam yang targetnya akan diisi semua tahun ini. Dari 45 ribu ayam kini, 3.000 ekor di antaranya mulai bertelur. “Artinya setiap pagi ada penjulan telur 3.000 butir, bila satu butir harganya sekarang Rp 1.000, maka sudah ada penghasilan Rp 3 juta per hari, satu bulan Rp 90 jut,” sebut Zulya.

Sedangkan untuk industri ayam petelur secara tertutip di Saree, kata Zulya baru akan dimulai tahun ini dan akan dikembangkan 20 ribu ayam. Di samping gedung tertutup itu, juga sudah ada dibangun kandang ayam petelur, yang total keduanya nanti mencapai 45 ribu kapasitas ayam.

“Jadi dari industri di Blangbintang dan Saree, jika saja nanti 140 ribu ekor saja bertelur aktif, maka dalam setahun bisa menghasilkan 54 juta butir. Artinya target produksi 45 juta butir telur ayam ras setahun itu bisa kita capai, sehingga setoran PAA sektor ini nantinya tak lagi Rp 170 juta, seperti pada 2017, melainkan bisa tiga kali lipat lebih banyak,” ujar Zulya.

Dikonfirmasi terpisah, Asisten II Setda Aceh, dr Taqwallah yang ikut meninjau kedua lokasi indutri ayam petelur itu, menyatakan optimis target Disnak Aceh tersebut bisa tercapai. “Namun, untuk mencapai target itu, semua industri ayam petelur itu harus dikelola profesional dan berkelanjutan,” kata Taqwallah.

Taqwallah menyebutkan industri ayam petelur di Blangbintang dibangun Pemerintah Aceh pada 2013 menggunakan APBA Rp 36 miliar. Luasnya 10 hektare dan lima hektare di antaranya sudah dipagar tembok. Sedangkan untuk industri ayam petelur di Saree yang dikelola tertutup, kata Taqwallah sudah dibangun sejak 2017.

Menurutnya, ada beberapa kelebihan industri ayam petelur dikelola tertutup. Di antaranya pencemaran bau sangat kecil, produktivitas lebih tinggi dibanding pola terbuka dan lahan yang dibutuhkan tidak terlalu lebar. Tapi, lanjut Taqwallah, butuh modal lebih besar karena gedung dan tempatnya harus nyaman bagi ayam. (her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved