Opini

Indonesia Darurat Akidah

PERMASALAHAN dan musibah yang dihadapi Indonesia akhir-akhir ini seakan tiada habisnya

Indonesia Darurat Akidah
SERAMBI/MUHAMMAD NASIR
Seratusan perwakilan ormas Islam dan masyarakat umum menghadiri deklarasi Gerakan anti LGBT Aceh (GALA) di Gedung Evakuasi Bencana, Gampong Lambung, Ulee Lheue, Banda Aceh, Sabtu (23/12/2017) 

Oleh Devi Susanti

PERMASALAHAN dan musibah yang dihadapi Indonesia akhir-akhir ini seakan tiada habisnya. Negeri ini seolah tampak bak satu tubuh ringkih yang sedang digrogoti berbagai macam penyakit kronis, komplikasi akut dan mematikan. Penyakit-penyakit bangsa ini seakan kian hari semakin parah dan sulit disembuhkan. Penyakit yang penulis maksud adalah mulai dari korupsi, narkoba, pedofilia (kejahatan seksual terhadap anak), perceraian, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, seks bebas (zina), utang negara (riba), bencana alam hingga LGBT.

Dari daftar panjang rentetan masalah-masalah bangsa ini, pada kesempatan ini penulis hanya akan membahas soal LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). LGBT adalah komunitas orang yang melakukan orientasi seks sesama jenis atau berperilaku menyimpang. LGBT merupakan suatu penyakit dan masalah bagi ummat yang sudah semestinya harus dituntaskan sebelum murka Allah mendahului kita dan azab Allah menimpa kita dan negeri kita.

Dalam sejarah dunia, manusia yang pertama sekali melakukan aktivitas seks menyimpang (LGBT) adalah kaum Nabi Luth as. Kaum Nabi Luth as tercatat dalam Alquran sebagai kaum yang berprilaku terbejat. Perilaku ini menyalahi kodrat dan dikutuk oleh Allah, sehingga Allah menjungkirbalikkan kota mereka yang bernama Sodom beserta penduduknya, lalu Allah tenggelamkan mereka ke dasar Laut Hitam (Laut Mati) sebagaimana firman-Nya, “Maka tatkala datang azab kami (Allah), kami jadikan negeri kaum Luth itu yang atas ke bawah (kami balikkan), dan kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82).

Belum lama ini, Indonesia juga Aceh dihebohkan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap keberadaan komunitas LGBT. Saat sebagian pihak memohon ditetapkan hukum pidana untuk komunitas kaum LGBT, MK malah menolaknya. Semua orang tahu bahwa hukuman akan diberlakukan kalau orang-orang melakukan pelanggaran. Namun sayangnya, ini malah ditakutkan sebagai bentuk kriminal terhadap pelaku LGBT tersebut. Padahal LGBT jelas-jelas dikecam oleh Allah dan Rasul-Nya, juga oleh ulama manapun. Sungguh miris ketika ada pihak-pihak yang berusaha melindungi pihak yang menyimpang ini.

Komunitas LGBT
Pascaputusan MK tersebut, komunitas LGBT seolah mendapatkan tempat, kemudian beraksi tidak lagi sembunyi-sembunyi. Bahkan, di Aceh sendiri, sebagai daerah bersyariat, ternyata juga ada komunitas sisa-sisa kaum Nabi Luth itu. Seperti akhir 2017 lalu, misalnya, Tanah Rencong sempat dihebohkan oleh komunitas waria yang mulai unjuk gigi. Mereka, seperti dilaporkan banyak media, mengadakan Kontes Ratu Waria di satu hotel berbintang di Banda Aceh, walaupun ada juga sebagian pihak yang mengatakan itu “cuma” acara perayaan ulang tahun. Mungkinkah acara ini sebagai bentuk perayaan komunitas mereka menyangkut keputusan MK?

Tapi apa pun itu, kontes waria atau cuma perayaan ulang tahun, tetap saja ini merupakan penyimpangan akidah, karena masalah sebenarnya adalah keberadaan mereka itu sendiri sebagai waria. Lain halnya kalau mereka mengaku laki-laki tulen atau perempuan tulen, mungkin tidak ada yang perlu dipersoalkan. Jadi laki-laki yang berpakaian dan bertingkah seperti wanita, juga sebaliknya tanpa melakukan aktifitas sodom pun mereka sudah menyimpang. Lantas, apa pasal ada pihak yang mengatakan, “itu cuma perayaan ulang tahun saja, jadi tidak perlu ditindak”?

Memang tindakan hukum di provinsi bersyariat ini terkesan lamban dan tebang pilih, kadang-kadang malah terasa begitu tumpul ke atas dan sangat runcing menusuk ke bawah. Ada beberapa kasus yang lalu begitu sangat heboh, tapi kemudian menguap begitu saja, seolah-olah tidak pernah terjadi pelanggaran. Contoh kasus yang terasa runcing menikam ke bawah adalah kasus membasmi maksiat beberapa waktu lalu yang dilakukan oleh aktivis FPI, yang ternyata begitu cepat selesai dan akhirnya berakhir dijeruji besi untuk pihak pembasmi maksiat.

Sedangkan contoh kasus yang seolah menguap begitu saja, yaitu kasus artis “mobil goyang” yang tertangkap basah di SPBU Aneuk Galong, Aceh Besar. Hukuman cambuk yang digaungkan oleh beberapa aktivis dakwah dan sebagian besar masyarakat tidak digubris. Apakah hukuman cambuk tidak berlaku untuk seorang artis lokal yang berbuat mesum? Kemudian kasus prostitusi online, tidak terdengar lagi ke mana kasus ini bermuara. Entah online di mana lagi, tidak ada yang tau. Dan masih banyak kasus lainnya yang kiranya belum ditangani sesuai hukum syariat.

Kembali ke kasus LGBT, ada beberapa faktor mengapa kemudian seseorang terjerumus ke dalam aktivitas penyimpangan LGBT, di antaranya: Pertama, faktor Keluarga. Seseorang pernah mengalami kekerasan fisik,mental dan seksual dari kedua orang tua atau orang terdekat kerap terjerumus ke penyimpangan LGBT; Kedua, faktor pergaulan dan lingkungan. Lingkungan dan teman bergaul yang buruk menyumbang kepada kekacauan seksual. Keluarga yang tidak pernah menjelaskan tentang seks karena di anggap tabu, hubungan keluarga yang renggang, kurang kasih sayang, serta tidak mendapatkan pendidikan agama yang benar sejak kecil;

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved