Opini

Indonesia Darurat Akidah

PERMASALAHAN dan musibah yang dihadapi Indonesia akhir-akhir ini seakan tiada habisnya

Indonesia Darurat Akidah
SERAMBI/MUHAMMAD NASIR
Seratusan perwakilan ormas Islam dan masyarakat umum menghadiri deklarasi Gerakan anti LGBT Aceh (GALA) di Gedung Evakuasi Bencana, Gampong Lambung, Ulee Lheue, Banda Aceh, Sabtu (23/12/2017) 

Ketiga, faktor biologis. Faktor biologis atau hormon orang tua juga berpengaruh, namun bisa diterapi dengan pendidikan moral dan agama; Keempat, faktor moral dan akhlak, karena terjadi pergeseran norma-norma susila yang dianut oleh masyarakat, semakin menipisnya kontrol sosial yang ada dalam masyarakat, lemahnya iman, banyaknya rangsangan seksual melalui media sosial, yang kesemua itu bisa membuat seseorang menyimpang; Kelima, faktor pendidikan agama yang minim. Kurangnya pengetahuan agama merupakan faktor internal terjadinya penyimpangan. Agama merupakan benteng pertahanan dalam melindungi diri dan generasi dari berbagai maksiat termasuk LGBT.

Dengan mengetahui sebab-sebab seseorang bisa menyimpang, diharapkan kita bisa waspada dan menjaga keluarga dan orang-orang terdekat kita dari jerat bejat kaum LGBT. Keberadaan kaum LGBT ini ibarat racun sianida di tengah-tengah masyarakat. Bedanya kalau racun sianida dapat mematikan seseorang, virus LGBT ini malah membuat semakin subur berkembang dan populasinya terus bertambah. Ini semua terjadi karena dangkalnya akidah, yang kita takutkan malah tidak mengenal akidah sama sekali. Jadi penanaman nilai-nilai akidah yang kuat sejak dini teramat sangat penting.

Taubat dan cegah maksiat
Kesemrawutan bumi di akhir zaman ini sudah sepantasnya kita melazimkan diri untuk selalu bertaubat dan ber-istighfar kepada Allah Swt. Bisa jadi kita, keturunan kita atau sanak saudara kita salah satu pelaku maksiat di bumi. Manusia didaulat sebagai makhluk pembuat kerusakan di muka bumi, tentunya tidak terlepas dari khilaf dan dosa. Begitu pun kaum LGBT yang ada di Indonesia, termasuk di Aceh, mereka adalah manusia-manusia yang melampaui batas.

Untuk itu penulis menyarankan bagi kaum LGBT supaya bertaubat dan kembalilah ke jalan yang lurus, mudah-mudahan Allah mengampuni kalian semua. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat. Penulis mengajak kita semua untuk mencegah maksiat dan mengawasi pergerakan aktivitas kaum LGBT di lingkungan kita masing-masing.

Penulis juga menghimbau kepada saudara-saudara dan pengusaha di bidang perhotelan atau usaha lainnya agar menyadari bahwa bisnis yang mereka bangun berada di atas bumoe Serambi Mekkah. Jangan sampai meraup keuntungan dengan cara-cara yan bathil dan menghalangi proses penerapan syariat Islam yang sedang gencar diterapkan oleh pemerintah.

Menurut penulis, ada beberapa hal yang bisa ditempuh untuk membersihkan Serambi Mekkah dari virus-virus LGBT. Tentu penulis tidak menyarankan untuk ditenggelam pelaku LGBT tersebut, juga bukan dibakar seperti yang disarankan Imam Ali bin Abi Thalib ra pada masa kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq ra, juga bukan seperti yang disarankan oleh Ibnu Abbas ra, yaitu dilempar dari gedung yang paling tinggi yang ada di daerah itu, kemudian dilempar batu kalau belum mati.

Beberapa hal yang penulis sarankan antara adalah: Pertama, memperingatkan (memberikan warning) terlebih dahulu, kemudian dibuat Qanun khusus untuk mengatur kaum LGBT. Entah di dalam Qanun tersebut pelaku dikenakan hukuman cambuk atau apapun yang penting mampu memberi efek jera dan sesuai fatwa ulama; Kedua, melakukan razia intens terhadap kaum LGBT. Di sini mungkin tugasnya bapak-bapak WH dan Satpol PP;

Ketiga, melakukan pembinaan moral, mental dan dakwah, serta penanaman nilai-nilai akidah Islam. Di sini mungkin tugas para psikolog dan ulama atau aktivis dakwah; Keempat, apabila setelah di tempuh tiga langkah di atas pelaku LGBT belum juga taubat, baru dijerat dengan hukum yang diatur dalam Qanun khusus tadi, dan; Kelima, kalau setelah dihukum sesuai Qanun pun pelaku LGBT belum juga jera, langkah terakhirnya adalah di usir dari Aceh.

Dengan cara-cara ini diharapkan pelan-pelan kaum LGBT akan terbasmi dari Serambi Mekkah sampai ke akar-akarnya. Dengan diusirnya kaum LGBT dari Aceh diharapkan Aceh terbebas dari virus-virus seks menyimpang itu. Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menegakkan syariat Islam secara kaffah di bumoe Serambi Mekkah ini. Sehingga, Aceh lon sayang yang kita cintai ini tidak terkena murka dan azab Allah Swt.

Devi Susanti, pecinta dunia literasi, peminat kajian agama, zikir dan budaya, lahir di Sabang dan kini berdomisili di Banda Aceh. Email: devisusanti241290@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved