Citizen Reporter

Siang Malam Disuguhi Pisang di Uganda

JIKA di negara kita pisang adalah makanan yang diberikan untuk bayi atau sebagai pencuci mulut bagi orang dewasa

Siang Malam Disuguhi Pisang di Uganda

MARTHOENIS, Peneliti di Universitas Syiah Kuala dan Travel Blogger, tinggal di Banda Aceh

JIKA di negara kita pisang adalah makanan yang diberikan untuk bayi atau sebagai pencuci mulut bagi orang dewasa, lain lagi halnya di Uganda. Pisang justru merupakan makanan pokok masyarakat di negara yang terletak di benua Afrika ini.

Ketika saya berkunjung ke sana selama seminggu lebih, sebanyak tiga kali sehari saya mengonsumsi pisang sebagai pengganti nasi.

Sebelum berkunjung ke Uganda, saya berpikir bahwa negara yang pernah dipimpin Idi Amin ini sama seperti negara Afrika lain yang pernah saya kunjungi seperti Mesir, Oman, atau Uni Emirat Arab. Negaranya tandus, penuh dengan padang pasir, sangat panas ketika siang dan dingin di malam hari. Namun, kenyataan yang saya temukan sangat jauh berbeda dengan persepsi saya sebelumnya. Ketika pesawat yang saya tumpangi hampir mendarat di Bandara Internasional Entebbe, sekitar 40 km dari Kota Kampala, ibu kota Uganda, saya bisa melihat hamparan hijau bak permadani di bawah sana. Pemandangan itu mengingatkan saya akan bumi Serambi Mekkah saat pesawat hampir mendarat di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda.

Setelah rehat sejenak di sebuah hotel di Entebbe, saya melanjutkan perjalanan ke Fort Portal, kota kecil yang jaraknya hampir 300 km dari Kampala. Di sepanjang jalan, saya semakin takjub dengan gemburnya tanah Uganda ini. Sayuran dan buah-buahan tumbuh dengan subur di sana. Seorang teman yang berasal dari Gorgia dan ikut dalam rombongan saya mengatakan, “Jika begini suburnya negara Uganda, kenapa rakyatnya hidup dalam kemiskinan ya? Pasti ada yang salah dengan sistem kepemimpinan saat ini.”

Jujur saja, saya tidak tahu-menahu dengan masalah politik dan ekonomi negara ini. Akan tetapi, jika dilihat dari indeks pembangunan manusianya, negara Uganda berada di posisi 163 secara global. Berarti, termasuk dalam kategori rendah, jauh di bawah Indonesia yang berada di posisi 113. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan sumber daya alamnya yang melimpah ruah.

Sepanjang jalan, saya melihat banyak rumah yang dibangun seadanya, bahkan ada beberapa rumah yang dibangun dari tanah liat. Bangunan dari beton masih cukup sedikit, ukurannya kecil-kecil dan terlihat jorok. Jalan yang beraspal hanya jalan utama saja yang saya lalui, sedangkan jalan kecil dari jalan utama hampir semuanya tidak beraspal. Alat berat yang sedang membuat jalan beberapa kali berpapasan dengan mobil yang saya tumpangidan semuanya milik perusahaan Cina yang mendapatkan kontrak pembangunan jalan dari pemerintan Uganda.

Muslimnya ramah
Tidak sulit menemukan masjid di Uganda. Mustafa, sopir yang mengantar saya dan juga beragama Islam, menjelaskan bahwa penduduk muslim di Uganda hanya 12% dan umumnya adalah Sunni. Meski minoritas, tapi mereka tak pernah punya konflik antarumat beragama.

Saat berhenti untuk shalat, penduduk setempat dengan ramah menyapa saya dan mengajak berbicara. Mereka terlihat sangat senang bertemu dengan saudara muslim dari belahan bumi yang lain. Masjid-masjid di sini sangat sederhana, sama seperti meunasah-meunasah yang ada di perkampungan di Aceh.

Ada Takengon
Pagi saya terbangun dengan suara azan subuh. Rasa dingin menusuk kulit. Ketika saya ke luar dari kamar, kabut tebal menyambut saya. Kota kecil ini memang terletak di daerah pegunungan dengan ketingguan 1.480 meter di atas permukaan laut, lebih tinggi dibandingkan Kota Takengon yang ketinggiannya 1,200 meter di atas permuakaan laut. Namun demikian, suasana dan pemandangannya sangat mirip dengan dengan suasana di Takengon. Daerahnya berbukit-bukti dan ke mana pun mata memandang, penuh dengan kehijauan. Pohon alpukat tumbuh subur dengan buah-buah yang sangat besar, begitu juga dengan pohon mangga dan pohon pisang, ukuran buahnya sangat besar. Yang membedakan Uganda dengan Aceh Tengah hanyalah di negara itu tidak ada perkebunan kopi.

Sarapan pagi, saya diberikan menu pisang, begitu juga dengan makan siang dan malam. Saya baru tahu kalau makanan pokok penduduk Uganda adalah pisang. Mereka menyebutnya matoke. Penyajian matoke ini bermacam-macam, kadang direbus, diparut, atau dikukus, tapi belum pernah saya temui pisang goreng selama di sini. Jadinya, selama hampir seminggu saya di Uganda, saya makan pisang hampir tiga kali sehari layaknya makan nasi. Alhamdulillah, saya tetap sehat bugar.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved