Balita dan Pelajar Korban Kebakaran Butuh Perhatian

Kebakaran puluhan rumah toko (ruko) di Desa Simpang Empat, Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara

Balita dan Pelajar Korban Kebakaran Butuh Perhatian
FOTO udara lokasi puluhan ruko di Desa Simpang Empat, Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara, yang terbakar Sabtu (27/1). SERAMBI/ZAKI MUBARAK

LHOKSEUMAWE - Kebakaran puluhan rumah toko (ruko) di Desa Simpang Empat, Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara, membuat 65 kepala keluarga (KK/bukan 75) atau 216 jiwa harus mengungsi.

Dari jumlah total yang mengungsi tersebut, 17 orang di antaranya adalah bayi di bawah lima tahun (balita) dan 32 pelajar baik tingkat SD ataupun SMP, sehingga perlu adanya kepedulian dari berbagai pihak terkait kebutuhan balita dan para pelajar tersebut.

Untuk balita, yang diperlukan, misalnya, pampers dan lainnya, termasuk susu dan makanan. Sedangkan untuk pelajar dibutuhkan pakaian sekolah dan perlengkapan sekolah lainnya. Saat kejadian itu, dipastikan seluruh peralatan dan pakaian sekolah para korban kebakaran habis dilalap si jago merah.

Keuchik Simpang Empat, M Romi, Minggu (28/1) menyebutkan, pada malam pertama pascainsiden kebakaran, sebagian pengungsi memang pulang ke rumah keluarganya dan sebagian lainnya tinggal di tenda darurat yang dibangun di halaman meunasah desa setempat.

Di lokasi pengungsian itu juga dibuka dapur umum. “Untuk kebutuhan dapur umum memang sudah ada bantuan dari Pemkab Aceh Utara, yakni bantuan untuk masa panik. Diperkirakan, stok bantuan sembako berupa beras dan lainnya akan bertahan hingga tiga hari kedepan,” ujarnya.

Di sisi lain, M Romi menjelaskan, saat terjadi kebakaran tersebut, para korban mayoritasnya tidak dapat menyelamatkan harta benda, termasuk pakaian mereka. Jadi, diharapkan adanya perhatian dari semua pihak untuk membantu terkait hal ini. “Termasuk yang paling penting adalah kebutuhan balita dan para pelajar,” katanya.

Disebutkan juga, sekarang ini seluruh korban kebakaran sudah kehilangan tempat usaha dan sekaligus modal usaha. Jadi pihaknya meminta adanya peran aktif Pemkab Aceh Utara terkait pengembangan ekonomi para korban kebakaran kembali. “Seperti memberi bantuan modal usaha,” harapnya.

Sedangkan pada hari kedua setelah kebakaran, para korban mulai membersihkan bekas-bekas bangunan ruko mereka yang terbakar, dengan harapan adanya sisa-sisa harta benda meraka yang bisa ditemukan.

Sementara itu, Anggota DPRK Aceh Utara daerah pemilihan Simpang Keuramat, Tgk Fauzan Hamzah, sangat menyayangkan sikap Pemkab Aceh Utara yang sampai saat ini belum juga membuat pos pemadam kebakaran di wilayah tengah, yakni di Desa Blang Adoe (Simpang Jalan Line Pipa) Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Padahal, penambahan pos pemadam kebakaran di lokasi tersebut sudah lama diusulkan pihaknya. Karena dengan adanya pos pemadam kebakaran di Blang Adoe, maka setiap adanya kebakaran di Kecamatan Simpang Keuramat, Kuta Makmur, Geurudong Pase, Syamtalira Bayu, termasuk sebagian Nisam, akan cepat datang pemadam kebakaran. Sedangkan pos pemadam milik Pemkab Aceh Utara sekarang ini hanya ada di Panton Labu, Lhoksukon, Krueng Mane dan Lhokseumawe.

“Kita ambil pengalaman kebakaran di Simpang Keuramat, yang pertama datang ke lokasi kebakaran adalah pemadam Kota Lhokseumawe yang posnya di kawasan Cunda. Itu pun setelah kebakaran berlangsung belasan menit. Coba saja ada pos di Blang Adoe, mungkin dalam hitungan menit sudah datang pemadam ke lokasi kebakaran,” paparnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved