Citizen Reporter

Ujian di Negara Ratu Elizabeth

DESEMBER dan Januari menjadi bulan penuh tantangan bagi mahasiswa di Inggris. Meskipun pada bulan tersebut

Ujian di Negara Ratu Elizabeth
KHAIRISMA ZAINUDDIN

OLEH KHAIRISMA ZAINUDDIN, alumnus IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Awardee LPDP, mahasiswa MBA Islamic Banking and Finance di Bangor University Wales, United Kingdom, melaporkan dari London

DESEMBER dan Januari menjadi bulan penuh tantangan bagi mahasiswa di Inggris. Meskipun pada bulan tersebut temperatur bisa mencapai 0 derajat Celcius hingga minus yang bisa mendatangkan angin kencang dan hujan es hingga salju, toh ujian tetap dilaksanakan sesuai dengan ketentuan.

Bagi saya yang melanjutkan program magister di Bangor University, ujian dimulai pada tanggal l8-19 Januari 2018. Tidak berbeda dengan mahasiswa pada umumnya, mahasiswa di sini pun sudah mempersiapkan diri jauh sebelum ujian dimulai, mengingat susahnya ujian di negeri Ratu Elizabeth ini. Pustaka menjadi tempat yang paling favorit untuk dikunjungi, selain banyak referensi yang bisa ditemukan, suasananya nyaman, hening dan hangat.

Ada beberapa fasilitas gratis yang diberikan pihak universitas untuk mahasiswa pada masa ujian, seperti kopi dan the yang disediakan di perpustakaan. Uniknya, pihak kampus juga memberikan pelayanan spa gratis atau lebih dikenal dengan pijat yang bertujuan untuk mengurangi rasa stres dan ketegangan bagi mahasiswa dalam menghadapi ujian.

Berbeda dengan momen-momen ujian yang saya alami sebelumnya, liburan dijadwalkan sebulan sebelum ujian dimulai. Dengan kata lain, mahasiswa tidak memiliki waktu untuk bersenang-senang karena liburan digunakan sebagai waktu belajar dan kelas akan kembali aktif seperti biasa, begitu ujian selesai diselenggarakan.

Ada tiga bentuk ujian yang yang dihadapi oleh mahasiswa di sini. Pada umumnya mahasiswa di Inggris ditugaskan untuk menulis esai sebanyak 3.500 kata dengan satu topik yang waktu pengumpulannya bisa mencapai seminggu hingga sebulan. Terlihat mudah, tetapi sebenarnyna ini ialah ujian yang sangat sulit karena mahasiswa dituntut untuk menjadi peneliti di setiap esai yang mereka kerjakan dan harus disertai dengan kutipan akademik, baik dari buku, koran,website, artikel maupun jurnal.

Esai tersebut akan dikumpulkan melalui “Turnitin”, yaitu website yang dapat mendeteksi tindakan plagiasi. Kesulitannya ialah kutipan yang diambil dari setiap referensi harus diubah kata dan struktur bahasanya karena bisa terdeteksi sebagai plagiat meskipun kita menyebutkan nama penulisnya .Ada pula ujian yang disebut ujian “take away” oleh mahasiswa, yaitu ujian yang dikerjakan di rumah. Dalam ujian ini, dosen akan mengirimkan soal ujian melalui email universitas. Mahasiswa diberikan waktu satu sampai dua hari untuk menyelesaikannya dan kemudian akan dikumpulkan melalui Turnitin. Konsepnya sama dengan ujian menulis esai, hanya saja jumlah katanya lebih sedikit dan soalnya jauh lebih sulit. Bisanya dosen akan memberikan dua soal yang harus dijawab sebanyak 1.000 kata untuk masing-masing soal.

Adapun bentuk ujian yang ketiga sama dengan ujian yang biasanya dilaksanakan di Indonesia, “classroom exam”, ujian di kelas. Hampir semua dosen di Bangor University menerapkan bentuk ujian yang ketiga ini. Classroom exam dipersiapkan dengan sangat baik oleh para staf universitas. Ada sepuluh ruangan besar yang digunakan dalam ujian kali ini, dan ruangan-ruangan tersebut biasanya dimanfaatkan untuk acara-acara besar seperti wisuda dan seminar. Ruangan sudah disusun rapi lengkap dengan kursi, meja yang berukuran kira-kira 1x1 meter (bukan meja yang digunakan untuk belajar), dan dua jam besar yang diletakkan di depan ruangan.

Ruangan tersebut bisa diisi lebih dari 1.000 mahasiswa dari 2 atau 3 jurusan yang berbeda. Sebelum memasuki ruang ujian, mahasiswa diwajibkan untuk menunjukkan kartu mahasiswa dan mengisi daftar kehadiran di selembar kertas yang sudah disediakan panitia. Mahasiswa tidak diizinkan untuk menggunankan jaket meskipun dalam keadaan dingin, dengan alasan akan terjadi keributan karena gesekannya dan juga dikhawatirkan terjadi kecurangan dengan cara menyelipkan catatan-catatan kecil sebagai contekan.

Jadi, mahasiswa sudah mempersiapkan diri dengan menggunakan dua sampai empat lapis pakaian agar nyaman dalam menjalani ujian. Bukan berarti ruangan ujian tidak ada penghangatnya, tetapi karena ruangan yang sangat besar dan cuaca yang benar-benar dingin membuat ruangan jauh dari rasa hangat bagi mahasiswa yang berasal dari negara beriklim tropis.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved