Citizen Reporter

Brunei, Kota Zikir

SEBUAH kehormatan bagi saya dapat kembali mengunjungi Negara Brunei Darussalam, dalam rangka

Brunei, Kota Zikir
DR SAIFULLAH ISRI MA

OLEH DR SAIFULLAH  ISRI  MA, Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Direktur Lentera Aceh Institut, melaporkan dari Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam

SEBUAH kehormatan bagi saya dapat kembali mengunjungi Negara Brunei Darussalam, dalam rangka mengikuti “International Conference on Research in Islamic Education and Arabic Language 2018” di Kolej University Pendidikan Ugama Seri Begawan (KUPU-SB) Brunei Darussalam sejak 24-27 Januari 2018.
Ini adalah kunjungan kedua saya setelah tahun 2015 kami mengunjungi “Negara Syariat” ini memenuhi sebuah undangan resmi Kerajaan Brunei.

Dalam lawatan tahun ini saya mendampingi Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA yang menjadi pembicara utama (keynote speaker) pada konferensi tersebut. Beliau berbicara tentang “Kebangkitan Peradaban Islam Dunia Melalui Penguasaan Pendidikan Agama dan Bahasa Arab”.

Seperti kita ketahui bersama, Brunei Darussalam adalah sebuah negara kecil yang terletak di Asia Tenggara yang memiliki luas lebih kurang 5.765 km2. Letaknya di bagian utara Pulau Borneo (Kalimantan) dan berbatasan dengan Malaysia. Negara ini terkenal dengan kemakmurannya dan ketegasan umaranya dalam melaksanakan syariat Islam, baik dalam bidang pemerintahan maupun kehidupan bermasyarakat.
Negara Brunei terbagi atas empat daerah, yaitu Trunei dan Muara, Tutong, Belait, dan Tempurung, keempat daerah ini sama seperti standar provinsi di Indonesia. Di setiap daerah itu terdapat beberapa mukim dan gampong yang mengingatkan kita seperti di Aceh dengan istilah “mukim” dan “gampong”.

Sejak mendarat di Bandara Internasional Bandar Seri Begawan Brunei, ketika kami memasuki ruang bandara langsung disambut dengan asma-asma Allah dan lafaz-lafaz zikir, Mulai dari pintu kedatangan sampai pintu keberangkatan bahkan di sepanjang jalan utama selalu ada baliho, simbol, dan petunjuk dengan lafaz-lafaz zikir. Barangkali inilah destinasi wisata islami di Brunei yang bertujuan mengingatkan warganya agar tetap mengingat Allah Swt selama berkendaraan.
Hal lain yang sangat menarik adalah dalam setiap petunjuk arah jalan, nama toko, nama jalan, nama kantor, dan sejumlah simbol resmi pemerintahan selalu tertulis dengan tulisan Arab Jawi dan ini ternyata merupakan aturan pemerintah setempat. Setiap malam setelah shalat Magrib seluruh masjid terdengar gema zikir sampai memasuki waktu Isya. Jadi hampir seluruh pelosok negeri Brunei mengingatkan kita seperti berada di negara-negara Timur Tengah yang sangat islami dan sejuk dengan nilai-nilai syar’i.

Seluruh warga Brunei sangat welcome pada pendatang. Mereka sangat ramah dan santun dalam bertutur dan memuliakan tamu. Hal ini terlihat pada saat kami berkesempatan menunaikan shalat Jumat di Masjid Agung Raja Sultan Hasnoel Bolqiah di Bandar Seri Begawan. Jamaah begitu ramah, ukhuwah islamiah jelas sekali terimplementasikan di sini yang tanpa memandang strata kehidupan satu sama lain.
Hampir semua pejabat negara shalat di masjid ini dan bersilaturahmi dengan warganya bahkan dengan orang asing yang berkunjung ke negara ini. Inilah negara makmur dan kaya akan silaturahmi.

Dimensi lain
Ada begitu banyak fakta menarik lainnya di negara syariat ini. Di antara yang saya amati adalah: 1) Tempat parkir unik dan bebas biaya. Uniknya, ada beberapa lokasi parkir yang saya lihat menyediakan kipas angin untuk mobilnya, walaupun di loksi parkiran umum. Ini hal yang sangat luar biasa dibandingkan dengan daerah kita. Terutama karena tidak ada lokasi parkir di Brunei yang mengutip biaya parkir, sehingga tidak ada sama sekali terlihat tukang parkir yang memakai rompi kuning/orange/biru bahkan peluit parkir.

2) Kota sepi/tertib dan nyaman. Saya sangat terksesan sejak landing di Brunei International Airport, kompleks bandara tidak begitu besar, semua ruas jalan raya mulus, sepi, rapi, dan tertib bahkan untuk highway antarnegara sekalipun tetap juga sama. Namun yang sangat dapat diapresiasi adalah para pengemudi di Brunei sangat menghormati penyeberang jalan, hal ini membuat saya teringat pada budaya di Jepang. Selama kita menyeberang di zebra cross, mau sekencang apa pun mobil melaju pasti mereka berhenti untuk memberi kesempatan kepada penyeberang.

3) Ketatnya aturan syariat dari pemerintah, misalnya, larangan jual beli saat shalat Jumat. Pada saat azan berkumandang, seluruh pertokoan sudah harus tutup. Ini semua aturan kerajaan yang termaktub dalam peraturan pemerintah negara Brunei yang wajib dilaksanakan oleh seluruh warga dan penduduk Brunei, termasuk pendatang/turis. Dan masih banyak hal menakjubkan yang dapat kita temukan di Brunei. Kiranya pengalaman ini menjadi inspirasi edukasi untuk kita semua. Wasalam.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved