Hutan Lindung Terus Ditebang
Aksi penebangan pohon di kawasan hutan lindung dan produksi pada ruas jalan Jantho (Aceh Besar)-Lamno (Aceh Jaya)
* Di Lintas Jantho-Lamno
BANDA ACEH - Aksi penebangan pohon di kawasan hutan lindung dan produksi pada ruas jalan Jantho (Aceh Besar)-Lamno (Aceh Jaya), pada Km 20-40 terus berlangsung dan tidak ada pihak yang mencegahnya. Kini kerusakan hutan di lintas tersebut kian parah dan berdampak buruk bagi lingkungan.
Menurut sumber Serambi, aksi perambahan hutan di kawasan itu masih terus berlangsung. Bahkan hingga Sabtu (27/1) kemarin, raungan chainsaw masih terdengar. Tumpukan balok dan kayu yang sudah dibelah terlihat menumpuk di sisi jalan di kawasan itu.
Tak cuma raungan chainsaw yang terdengar, sumber Serambi itu juga sempat melihat sebuah truk hercules bermuatan penuh kayu melintas di jalan lintas tersebut. Jika tak segera dihentikan, dikhawatitkan kerusakan ekosistem di kawasan itu dapat mengancam keberadaan tiga jembatan rangka baja yang menghubungan lintas Jantho-Lamno yang ada di kawasan itu.
Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) Aceh, Ir Saminuddin BTou, yang dimintai tanggapannya terkait maraknya aksi penebangan liar di kawasan hutan lindung dan produksi lintas Jantho-Lamno, Senin (29/1), mengatakan, pada September 2017 lalu, memang ada pengusaha yang mengajukan izin pemanfaatan kayu hasil pembukaan ruas jalan tembus Jantho-Lamno, yaitu CV Fadillah.
Namun, kata Saminuddin, izin tersebut hingga kini belum dikeluarkan. Jadi, kalau ada pihak-pihak tertentu yang mengangkut kayu di lintasan tersebut, baik kayu balok dalam bentuk bulat maupun tem, itu adalah hasil ilegal logging.
Diungkapkan, pada 2016 lalu pihaknya pernah melakukan razia terpadu di lintas Jantho-Lamno tersebut. Dari razia itu pihaknya menemukan dua unit jonder penarik kayu dan kemah-kemah berupa tenda biru di tengah hutan lindung.
“Kedua jonder itu kemudian dirusak dan didorong ke dalam jurang dan sungai. Sedangkan kemah tenda biru yang dijadikan sebagai tempat penginapan sementara para pembalak liar dibakar,” ujarnya.
Dikatakan Saminuddin, tujuan pengrusakan alat kerja dan kemah para pembalak hutan itu agar mereka tidak kembali lagi untuk menebang pohon di kawasan hutan lindung dan produksi. “Tapi belakangan, berdasarkan laporan masyarakat aksi pembalakan hutan lindung itu kembali marak. Kami segera turunkan tim razia terpadu untuk menangkap pelakunya,” tegas Kadis KLH Aceh itu.
Pada Desember 2017 lalu, banjir sempat melanda sungai di kawasan tersebut, yaitu Krueng Beutong, Cumcum I dan Sumcum II. Luapan air sungai tersebut hingga menggenangi badan jalan. Banjir tersebut menyusul rusaknya bukit Krueng Beutong, Cumcum I dan Cumcum II akibat pembalakan hutan.
Seorang pekerja jembatan Krueng Beutong yang tak mau disebutkan namanya mengungkapkan, jembatan rangka baja Krueng Beutong yang ada sekarang, pernah jatuh ke sungai karena tiang penyangganya rubuh akibat tersapu air bah.
Pekerja itu juga mengakui, selama mengerjakan jembatan tersebut dirinya hampir setiap hari mendengar raungan chainsaw dari tengah hutan lindung yang berada tidak jauh dari lokasi pembangunan jembatan. “Pohon yang telah ditebang, digulingkan ke pinggiran hulu sungai Krueng Beutong, Cumcum I dan Cumcum II. Jarak lokasi ketiga sungai itu, berdekatan, antara 800 meter hingga 1,5 Km,” jelasnya.(her)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/aktifitas-pembalakan-liar-di-kawasan-hutan-lindung-jalan-lintas_20180130_093612.jpg)