Kepala Puskesmas Batee Bantah Temuan Pansus

Kepala Puskesmas Batee, dr Marzuki, membantah temuan Pansus V DPRK Pidie yang menyebutkan bahwa atap Puskesmas

Kepala Puskesmas Batee Bantah Temuan Pansus
SERAMBINEWS.COM/DEDI ISKANDAR
Kotoran ternak di selasar Puskesmas Lueng Keubeu Jagat, Kecamatan Kuala Tripa, Nagan Raya, Jumat (19/1/2018). 

SIGLI - Kepala Puskesmas Batee, dr Marzuki, membantah temuan Pansus V DPRK Pidie yang menyebutkan bahwa atap Puskesmas Batee bocor dan tidak terurus. Marzuki merasa perlu membantah pernyataan tersebut, karena menurutnya, pernyataan pihak Pansus DPRK Pidie itu tidak sesuai fakta, dan pihaknya merasa sangat dirugikan atas pernyataan yang berdampak negatif itu. Apalagi pernyataan yang disampaikan anggota Pansus V DPRK Pidie, Tgk Fakhrurrazi SHI ini, disiarkan melalui media massa dan dimuat Serambi seminggu lalu.

“Selama ini kami sudah berupaya keras membenahi Puskesmas Batee ini. Baik pelayanan, infrasruktur, sanitasi air, dan kantin telah ditata dengan baik. Karena itu saya sangat keberatan dengan tudingan Pansus tersebut,” ujar dr Marzuki, kemarin.

Dalam berita yang dimuat Serambi pada Selasa (22/1), penilaian terhadap kondisi fasilitas Puskesmas Batee itu disampaikan Tgk Fakhrurrazi SHI saat membacakan hasil Pansus V di Kantor DPRK Pidie. Ia menyebutkan, pihaknya menemukan gedung Puskesmas tersebut tidak terurus, dengan kondisi atap bocor dan plafon rusak.

Terkait hal ini, dr Marzuki menantang anggota Pansus untuk membuktikan tudingan tersebut. “Kondisi atap Puskesmas bocor dan tidak terurus ini, mungkin temuan Pansus V di Puskesmas lain dan bukan di Puskesmas Batee. Karena atap Puskesmas Batee tidak bocor, dan silakan datang saat hujan untuk membuktikan apakah atap Puskesmas ini bocor atau tidak,” kata dr Marzuki dengan nada kesal.

Kekesalannya ini karena upaya yang ia lakukan bersama staf Puskesmas selama ini, menjadi tidak berarti. Padahal sejumlah inovasi untuk memerbaiki kualitas layanan terus dilakukannya, seperti memanfaatkan gudang yang tak terpakai untuk dijadikan ruang pelayanan dalam mendukung program Promosi Kesehatan (Promkes) bagi pasien lanjut usia (lansia). “Program Promkes di Puskesmas ini adalah upaya kami dalam meningkatkan kualitas layanan kepada warga, khususnya terkait prilaku hidup bersih dan sehat,” ungkapnya, sambil meminta anggota dewan lebih objektif dalam memberi penilaian terhadap kinerja pemerintah.

Marzuki menambahkan, upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas Batee yang dilakukan selama ini, sebenarnya telah berdampak positif. Hal ini bisa diukur dengan indikator jumlah pengunjung, yang meningkat dari sebelumnya 150 pasien per hari, kini menjadi 200 pasien per hari.

Selain itu, pola penanganan medis oleh dua dokter umum, satu dokter gigi, 115 tenaga bakti, 24 bidan, dan 40 petugas kesehatan berstatus PNS, menurutnya juga sudah sangat maksimal. Sehingga ia berharap anggota dewan tidak sembarangan melempar tudingan.

Panitia Khusus (Pansus) V DPRK Pidie yang baru melakukan peninjauan lapangan, dalam berita Serambi seminggu lalu, mengkritik fasilitas gedung dan alat medis di Puskesmas Delima, Puskesmas Padang Tiji, Puskesmas Batee, dan Puskesmas Muara Tiga (Laweung).

Anggota Pansus V DPRK Pidie, Tgk Fakhrurrazi SHI yang membacakan hasil Pansus V di Kantor DPRK Pidie, Senin (22/1) menyebutkan, pihaknya menemukan gedung Puskesmas tidak terurus, dengan kondisi atap bocor dan plafon rusak.

Menurutnya, buruknya kualitas sarana kesehatan akan berdampak pada terganggu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. “Terlebih saat musim penghujan, hal ini akan membuat warga tak nyaman berobat di Puskesmas. Padahal, untuk memperbaiki atap bocor dan plafon rusak, tidak membutuhkan dana yang besar,” ujarnya.

Tak hanya itu, peralatan medis di fasilitas kesehatan itu juga jauh dari standar kesehatan, dan suplai air bersih di Puskesmas juga sering macet. “Kami menemukan empat bangunan Puskesmas tidak terurus. Kami khawatir, jika persoalan ini tidak ditangani serius, akan berdampak pada terganggunya pelayanan kesehatan kepada warga di empat kecamatan tersebut,” ujarnya.

Pernyataan ini sebenarnya tidak menyebut secara spesifik bahwa atap yang bocor itu terjadi di Puskesmas Batee. Namun, merupakan penilaian umum atas keempat puskesmas yang dikunjungi Pansus V DPRK Pidie. Akan tetapi, penilaian umum ini malah bisa diartikan bahwa kondisi keempat puskesmas itu mengalami kerusakan yang sama, yakni atap bocor, plafon rusak, sanitasi buruk dan kondisi lainnya yang disamaratakan. Hal inilah yang memicu protes, karena anggota Pansus V, Tgk Fakhrurrazi SHI tidak merincikan kondisi masing-masing Puskesmas yang bisa saja berbeda antara satu dengan lainnya.(naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help