Opini

Merayakan Kesia-siaan

Dari segi gerakan, tarian anak-anak belia itu tidak artistik dan ritmis. Mungkin memang tidak dipersiapkan, hanya

Merayakan Kesia-siaan
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Bappeda Aceh Singkil, menggelar Musrembang rancangan RPJM 2017-2022 di aula Bappeda setempat di Singkil, Jumat (15/12/2017). 

Oleh Teuku Kemal Fasya

TERPAKU saya --dengan paku-paku yang menancap di pikiran dan perasaan-- ketika melihat video WhatsAap acara ulang tahun keponakan di Jakarta. Acara ulang tahun anak umur sembilan tahun itu diisi dengan acara joget-joget tak menentu.

Dari segi gerakan, tarian anak-anak belia itu tidak artistik dan ritmis. Mungkin memang tidak dipersiapkan, hanya sekedar loncat-locat. Yang membuat acara semakin sengak karena melihat polah pemandu acara, seorang remaja yang bergaya keperempuan-puanan, yang mengebor bokongnya di depan anak-anak SD. Bagi dia mungkin lucu dan “seksi”. Namun menurut saya memuakkan dan konyol.

Anak-anak itu tidak bersalah. Orang tuanyalah mendesain acara. Komunitas kelas menengah tanggung kadang suka melakukan kegiatan --pesta atau liburan-- berdasarkan sejarah orang-orang di sekitar mereka. Dalam istilah Homi K Bhaba, pakar kajian poskolonial, mereka melakukan mimicry - “pembeoan” (dari kata burung beo) dari komunitas kaum sosialita dan kelas menengah ekonomi. Kalau belum boros, foya-foya, dan memuncakkan pada kenikmatan egoistik, belum bahagia. Fenomena ini menunjukan banyak perilaku yang tidak disadari tujuan dan manfaatnya.

Tiba-tiba saya ingat ini buku yang saya beli di India beberapa tahun lalu. Penulisnya filsuf Inggris, Bertrand Russel. Ia banyak mengkaji fenomena masyarakat modern dengan cara pandang tajam. Dalam In Praise of Idleness (1935), ia menyebutkan ada racun modernitas di kalangan masyarakat kontemporer, yaitu ketakbertujuan dan ketumpulan nalar ketika bertindak. Masyarakat semakin suka pada hal yang sia-sia yang dianggapnya memberikan kebahagiaan dan kenikmatan.

Modernitas tidak membuka pemikiran kreatif dan beragam, sebaliknya membentuk kultur seragam (homogeneity) yang tumpul, lemah refleksi, bermain-main, dan individualistik. Jika diringkas dalam pucuk kesimpulan, modernitas membangun masyarakat yang kejam, serakah, konservatif, dan boros (ineffecient). Kita semakin jauh dari pemikiran kontempatif dan semakin dekat dengan kemalasan, kesia-siaan. Satan finds some mischief for idle hands to do. Iblis menemukan praktik kenakalannya dalam tindakan yang sia-sia.

Sejarah menjauh
Kiranya fenomena dalam keluarga keponakan saya itu tepat juga melihat fenomena pemerintahan Aceh saat ini. Sedikit kilas balik, pemerintahan Irwandi Jusuf - Nova Iriansyah sempat disambut penuh gempita ketika memenangkan Pilkada Serentak 2017. Itu tak lain karena publik Aceh gemas pada pemerintahan sebelumnya.

Jika mau direfleksikan dalam sebuah frasa, kemenangan IrNo itu tak lain karena masyarakat Aceh ingin segera lepas dari pola politik petahana, dan ingin mengulang nostalgia pemerintahan pertama Irwandi yang “sukses”. Publik pun menunggu dengan seksama tanpa protes ketika Irwandi membentuk “tim bayangan” Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) yang terdiri dari para akademisi, aktivis sosial, politikus, dan tim sukses yang dibiayai sebuah LSM asing.

Namun seperti judul buku Russell, dokumen RPJMA itu tidak pernah diketahui publik. Di situlah sikap pesimisme mulai muncul. Saya dan beberapa teman mencoba meminta dokumen yang disusun dalam waktu dua bulan itu kepada tim. Dengan pelbagai alasan, kelompok masyarakat sipil di luar tidak pernah mendapatkan secuil pun narasi, kalimat, atau frasa dari dokumen itu. Seperti kisah dalam novel Edgar Alan Poe, The Purloined Letter, naskah yang dicari-cari itu bisa jadi tidak ada.

Sebenarnya mengharapkan pemerintahan IrNo saat ini menyusun konsep canggih dalam RPJMA juga kesia-siaan. Mengutip kalimat dari seorang pengamat politik Nasional, jika RPJM berhasil diwujudkan, berarti daerah itu sudah sampai ke surga. Secara empiris, hampir semua perencanaan pembangunan meleset target di dunia empiris. Tidak mungkin mengeksekusi semua puisi indah itu. Yang mungkin hanya memilih beberapa yang bisa diprosakan di dalam pembangunan dan pemerintahan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help