Opini

Shalat Gerhana, Upaya Islam Melawan Mitologi

RABU, 31 Januari 2018 terjadi suatu peristiwa penting. Pada hari tersebut bulan menunjukkan tiga fenomena sekaligus

Shalat Gerhana, Upaya Islam Melawan Mitologi
Capture
Gerhana Bulan Total 31 Januari 

Oleh Mizaj Iskandar

RABU, 31 Januari 2018 terjadi suatu peristiwa penting. Pada hari tersebut bulan menunjukkan tiga fenomena sekaligus, supermoon, blue moon, dan gerhana bulan. Ketiga fenomena tersebut sering disebut oleh NASA sebagai fenomena super blue blood moon.

Gerhana merupakan satu peristiwa alam yang sangat sering dijadikan objek mitologi oleh suku-bangsa kuno. Menurut keyakinan suku Inca, gerhana terjadi karena Jaguar telah memakan matahari atau bulan. Jika yang dimakan adalah matahari maka terjadilah gerhana matahari dan jika yang dimakan adalah bulan, terjadilah gerhana bulan. Seperti yang diilustrasikan dalam film Apocalypse.

Tidak jauh berbeda dari keyakinan suku Inca, masyarakat Tiongkok kuno meyakini waktu terjadinya gerhana sebagai seburuk-buruknya waktu untuk keluar dari rumah. Dalam keyakinan mereka gerhana terjadi karena naga menelan matahari atau bulan. Sebagai bentuk antisipatif, biasanya masyarakat Tiongkok kuno membakar petasan untuk menakut-nakuti naga. Di jawa, fenomena gerhana selalu dikaitkan dengan mitos ibu hamil harus masuk dalam kolong tempat tidur untuk menghindari kesialan.

Islam dan gerhana
Mitos-mitos yang berkaitan dengan gerhana ternyata juga menyelimuti bangsa Arab pra-Islam (Jahiliyah). Setidaknya ini ditunjukan oleh cerita-cerita yang terdapat dalam hadis Nabi saw. Dalam Sahih Bukhari diriwayatkan bahwa ketika Ibrahim putera Rasulullah meninggal dunia pada tahun 8 H, masyarakat Madinah kala itu mengaitkan kematian tersebut dengan peristiwa gerhana matahari yang terjadi di hari yang sama dengan kematian Ibrahim.

Rasulullah yang mendengarkan berita ini kemudian menunjukkan sikap ketidaksukaannya, sehingga mendorong beliau untuk meluruskan prasangka sebagian sahabatnya itu. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, “sesungguhnya tidaklah terjadi gerhana matahari atau bulan disebabkan kematian atau lahirnya seseorang dari kalian, melainkan keduanya tanda-tanda kebesaran Allah, barangsiapa yang melihatnya hendaklah dia mengerjakan shalat.”

Dari hadis di atas setidaknya dapat ditarik beberapa kesimpulan. Pertama, dimasa hidupnya, Rasulullah hanya mengalami sekali peristiwa gerhana, yaitu gerhana matahari; kedua, gerhana tersebut terjadi pada tahun 8 H; ketiga, pada saat itu juga pertama sekali shalat gerhana dilakukan; keempat, shalat gerhana yang dilakukan oleh Nabi sebagai respon terhadap kesalahpahaman sementara sahabat terhadap peristiwa gerhana dan kelima, respon tersebut mengandung upaya melawan mitologi (demitologi) yang jamak diyakini saat itu.

Praktik shalat gerhana ini dikemudian hari diformalisasikan oleh para ulama mazhab fikih sebagai salah satu ibadah sunnah dalam Islam. Tidak ada yang keliru dengan formalisasi ini, tetapi yang dikhawatirkan kemudian adalah terjebaknya umat Islam dalam menjalankan formalitas shalat gerhana tanpa mampu menangkap esensi atau substansi dari shalat itu sendiri, yaitu mendemitologikan sesuatu selain Allah (tauhid).

Maraknya mitos
Maraknya mitologi di tengah-tengah umat Islam akhir-akhir ini merupakan antitesis dari kebermaksudan disyariatkannya shalat gerhana. Masih segar diingatan kita ketika seorang Mubaligh percaya begitu saja jika peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh merupakan azab Tuhan untuk Aceh, atau penumbangan pohon-pohon cemara di lingkungan masjid karena diyakini sebagai Pohon Natal-nya umat Kristiani, dan “Perda Ngangkang” yang dikeluarkan Wali Kota Lhoksemawe.

Dalam saripati ajaran Islam sikap beragama yang mengangkangi akal dikecam keras. Dalam sebuah hadis Nabi saw bersabda, la dina liman la ‘aqla lahu (tidak ada agama kecuali bagi orang yang berakal). Begitupun dalam teologi Kristen, ditemukan semangat yang sama, Fides Quaerens intellectum (iman menuntut nalar yang mendalam). Bahkan seorang pejuang kemerdekaan India, Mahatma Gandhi pernah berkata, faith must be enforced by reason. When faith becomes blind it dies (iman harus ditegakkan dengan akal. Bila iman menjadi buta maka dia mati).

Kata-kata bijak klasik ini dipandang penting untuk direproduksi ulang, mengingat adanya gerakan dari segelintir masyarakat yang memiliki semangat tinggi di dalam beragama tanpa dibarengi dengan kekuatan nalar dalam berpikir (raghabah fi al-din ma’a al-juhli fih). Dalam islamic studies, sikap beragama seperti itu dapat menyebabkan penyimpangan-peyimpangan dalam beragama. Dalam konteks ini, penyimpangan tersebut mengambil bentuk dua: Pertama, mendewakan mitologi dalam tataran masyarakat awam, dan; Kedua, melahirkan fanatisme dalam tataran elite atau pengambil kebijakan (stakeholder).

Setidaknya tiga kasus di atas mencerminkan apa yang dikatakan tadi. Tsunami sebagai azab dan penumbangan pohon cemara merupakan mitos berlebihan yang dihasilkan dari sikap semangat beragama buta yang tidak diiringi daya intelektualitas yang baik. Sedangkan “Perda Ngangkang” menunjukkan fanatisme pengambil kebijakan untuk menghasilkan aturan yang “seolah-olah” islami.

Gerhana dan begitu juga kejadian-kejadian alam yang lain merupakan fenomena alam biasa yang bisa diprediksi dan dijelaskan secara ilmiah. Oleh karena itu, sayang jika fenomena alam langka ini dinikmati dengan cara-cara berbau mitos. Sebagai gantinya, cara-cara edukatif yang dibalut dalam nuansa relegius bisa menjadi opsional bagi yang ingin menikmati peristiwa alam yang terakhir terjadi 150 tahun yang lalu itu. Semoga!

* Dr. Mizaj Iskandar, Lc., LL.M., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (Ikat) Aceh. Email: mizaj.iskandar.usman@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help