Opini

Menuju Kebangkitan Asia

PARUH kedua abad 20 hingga memasuki abad 21, kita memasuki era baru di mana terjadi pergeseran arah perkembangan

Menuju Kebangkitan Asia
AP
Cina menyatakan telah mengambil langkah untuk mengurangi produksi baja di tengah melemahnya ekonomi dunia. 

Oleh Rian F. Syafruddin

PARUH kedua abad 20 hingga memasuki abad 21, kita memasuki era baru di mana terjadi pergeseran arah perkembangan negara-negara di dunia. Sejak masa kolonialisme konsentrasi politik dan ekonomi dunia berada di Barat, namun pada era ini negara-negara Asia telah meraih capaian yang mengesankan. Perubahan signifikan dicapai oleh Jepang diikuti oleh Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, Singapura, dan kemudian diikuti Cina yang diprediksi akan menjadi raksasa ekonomi dunia pada 2020 mengalahkan Amerika Serikat.

Kishore Mahbubani, profesor di Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore dalam karyanya Can Asians Think (2009) menulis tentang fenomena kebangkitan negara-negara Asia dan membandingkannya dengan negara-negara Barat. Ia mengajukan pertanyaan, mampukah Asia menyaingi Barat?

Menyikapi perkembangan ekonomi negara-negara di dunia, Mahbubani mengungkapkan bahwa Inggris butuh waktu 58 tahun (sejak 1780), AS 47 tahun (sejak 1839), dan Jepang 33 tahun (sejak 1880-an) untuk menggandakan output ekonomi mereka. Diikuti oleh Indonesia butuh waktu 17 tahun, Korea Selatan 11 tahun, dan Cina 10 tahun dalam mencapai kemajuan ekonomi hingga ke tahap sekarang.

Mahbubani menjelaskan bahwa “keajaiban ekonomi negara-negara Asia” tumbuh lebih cepat dan konsisten dibandingkan dengan kelompok regional negara-negara lain di dunia sejak 1960 hingga 1990. Pertumbuhan per kapita rata-rata negara-negara tersebut mencapai 5,5%, mengalahkan performa negara-negara Amerika Latin dan Sub-Sahara Afrika. Capaian ini bukan hanya sebatas keberuntungan, melainkan cerminan kecerdasan dan kerja keras, di mana ledakan ekonomi ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Performa mengagumkan
Apabila kita melihat ke negara-negara Asia Timur, kemajuan yang dicapai serta rasa percaya diri yang dimiliki oleh negara-negara di kawasan tersebut didorong oleh capaian performa akademik yang mengagumkan, baik di universitas luar negeri maupun dalam negeri. Pada masa ini, banyak mahasiswa terbaik yang dihasilkan oleh universitas di AS berasal dari Asia. Lebih dari setengah mahasiswa asing di AS (dengan total 500.000 mahasiswa) berasal dari Asia. Perusahaan-perusahaan multinasional; bank, firma konsultan hingga perusahaan teknologi informasi turut merekrut dan melatih talenta-talenta berbakat dari Asia.

Lalu apakah kini Asia sudah dapat dianggap sejajar dengan negara-negara Eropa dan Amerika Utara? Beberapa negara Asia telah mencapai standar taraf kehidupan yang tinggi, namun di beberapa negara Asia lain pula, beberapa permasalahan terjadi seperti korupsi oleh elite yang korup, oligarki, serta belum tercapainya tata kelola pemerintahan yang baik. Namun, bukan semestinya tata kelola pemerintahan yang baik harus mengikuti nilai-nilai Barat dengan prasyarat demokrasi liberal. Asia punya caranya sendiri. Ambil contoh Cina dan Singapura yang tidak menerapkan demokrasi liberal, namun tata kelola pemerintahan dijalankan dengan sistem meritokrasi.

Pada masa awal modernisasi di negara-negara bekas kolonial, tokoh-tokoh Asia seperti Jawaharlal Nehru (1889-1964) dan Sun Yat Sen (1866-1925) menganggap bahwa cara untuk mengejar ketertinggalan adalah mengikuti Barat. Namun, kini Asia tak lagi melihat Barat sebagai role model.

Ada sebuah semangat baru di Asia untuk menghubungkan kembali dirinya dengan masa lalu, setelah ketersinambungan ini terputus sejak masa colonial dan dominasi pandangan dunia Barat. Sebuah upaya untuk menemukan keseimbangan antara dunia global yang terkoneksi di era teknologi dengan akar dan kesadaran tetang identitas nenek moyang mereka. Sebuah upaya untuk mendefiniskan identitas personal, sosial dan nasional yang sejalan dengan bangkitnya rasa percaya diri (self-esteem) dalam percaturan di ranah global.

Semangat baru yang muncul di Asia harus direspons secara positif oleh Indonesia. Sudah saatnya Indonesia yang secara global sudah mencapai tahapan yang baik dalam hal-hal tertentu, untuk membenahi persoalan-persoalan lain seperti masalah kesenjangan sosial dan ekonomi, kemiskinan, pelayanan publik dan jaminan sosial, ketersediaan lapangan kerja dan yang lainnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help