Mihrab

Masjid Teureubue dan Gerakan Sedekah

BEDANYA Masjid Baitussa’adah Teureubue, Kecamatan Mutiara, dengan masjid-masjid lain di Pidie adalah program

Masjid Teureubue dan Gerakan Sedekah
MASJID Baitussa'addah Teureubue, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, Rabu (31/1).

BEDANYA Masjid Baitussa’adah Teureubue, Kecamatan Mutiara, dengan masjid-masjid lain di Pidie adalah program unggulannya, Gerakan Sedekah Seribu Sehari (G3S). Murni sumbangan jamaah.

Menurut Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Baitussa’adah Teureubue, Tgk Fikri SPd, G3S sudah berjalan sejak 2017. Caranya, jamaah masjid Baitussa’adah, membawa pulang satu kotak amal ke rumah masing-masing. Setelah sampai satu bulan kotak amal beserta isi tabungannya, diserahkan kepada pengurus Baitussa’adah bidang Maslahat untuk Ummat (dibentuk tahun 2017). Dari seluruh jamaah yang membawa pulang kotak amal, per bulan rata-rata terkumpul Rp7.000.000 (relatif). Namun Januari 2018 mencapai Rp20.000.000, baik dari celengan jamaah maupun jamaah yang menyalurkannya melalui rekening masjid.

Uang yang relatif besar itu lalu digunakan untuk kegiatan sosial, yang dikhususkan bagi para yatim dan dhuafa. Dengan harapan warga yang terbantu terlepas dari belenggu kesusahan. Hingga saat ini, sudah ada pengadaan kursi roda bagi anak disabilitas. Sudah terbeli dan disalurkan sebanyak lima unit.

Dana G3S juga digunakan bagi merehab rumah dhuafa. Baru terealisasi satu unit. Targetnya 4 unit per tahun. Dana bantuan G3S bisa juga digunakan menurut permintaan lapangan. Boleh untuk biaya kursi roda maupum dana pendidikan. Diperuntukkan pula untuk kunjungan jamaah setempat yang sakit.

Ramah disabilitas
BKM Baitussa’adah, juga peduli kaum disabilitas. Buktinya masjid juga menyediakan kursi roda dan tongkat kepada jamaah disabilitas. Bahkan, dibangun pula tangga khusus bagi kaum disabilitas saat menunaikan shalat. Ini artinya Masjid Baitussa’addah Teureubue, berempati atau ramah disabilitas bukan? Tapi jangan salah, fasilitas tersebut dibiayai oleh masjid, bukan dari sumber G3S.

Hal lain yang menjadi ciri khas Baitussa’addah yang ber-AC dan CCTV ini adalah sumbangan jamaah setiap Jumat. Jamaah yang datang bisa menikmati makanan jajanan, minuman jus, dan buah-buahan gratis. Lagi-lagi bukan dari dana G3S.

“Kalau sedekah dari warga hampir setiap hari mengalir ke masjid ini, baik dalam bentuk barang maupun uang. Kita disini mengelola sedekah dari warga untuk masjid secara cepat. Artinya sumbangan itu tidak menumpuk,” tegas Tgk Fikri, kepada Serambi Mihrab, Rabu (31/1).

Penggerak
Nun tahun tahun 1978 Baitussa’adah didirikan. Tgk H Abdullah Ujong Rimba lah penggerak utamanya. Saat itu, ia bersama masyarakat menggalang dana. Abdullah pun rela mewakafkan tanahnya untuk masjid. Ketika memasuki masjid ini Anda akan melihat dua makam berada di halaman depan Baitussa’adah. Tak lain, itu pusaranya Tgk H Abdullah Ujong Rimba dan isterinya Hj Habsah.

Tahun 2015, masa dr Zaini Abdullah alias Abu Doto, menjabat Gubernur Aceh, masjid diperluas lagi. Masjid di pinggir jalan nasional Beureunuen-Tangse, Pidie ini (sekitar satu kilometer dari jalan Banda Aceh-Medan), memang kian dilengkapi fasilitasnya. Namun tetap membutuhkan uluran tangan umat. “Saat ini, yang masih kurang di Masjid Baitussa’addah Teureubue adalah tempat wudhuk dan parkir. Untuk tempat wudhuk kita masih sangat darurat. Berharap adanya bantuan dari pemerintah, agar memudahkan jamaah saat mengambil air sembahyang,” harap Tgk Fikri, bagi masjid yang menggelar pengajian pada malam Kamis, Jumat, dan Sabtu dengan pemateri dari Banda Aceh, Pidie, dan Pidie Jaya ini.(muhammad nazar)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help