Opini

Polisi-polisi Allah

DALAM literatur peradaban Islam dikenal istilah tentara Allah. Sejak kecil kita sering mendengar kisah pasukan bergajah

Polisi-polisi Allah
Polisi mengamankan belasan wanita pria (waria) yang bekerja di salon Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye dan Lhoksukon, Aceh Utara 

Oleh Amiruddin

DALAM literatur peradaban Islam dikenal istilah tentara Allah. Sejak kecil kita sering mendengar kisah pasukan bergajah. Allah Swt mengirim burung Ababil untuk menghancurkan pasukan Abrahah yang berhasrat merobohkan Kakbah. Ababil adalah burung perkasa yang mampu menerbangkan batu dari neraka untuk menyerang Abrahah dan pasukannya. Peristiwa tersebut dimaknai sebagai tentara Allah yang ingin menyelamatkan Baitullah dan umat Islam dari kekejaman raja zalim. Allah pun telah menerangkannya dalam Surat al-Fiil yang sering kita baca dalam shalat.

Allah Swt, Sang Penguasa alam. Semua yang ada di langit dan bumi bisa menjadi tentaranya. Malaikat menjadi tentara Allah di langit dan bumi. Semut menjadi tentara Allah di bumi ketika Nabi Ibrahim as dibakar hidup-hidup. Dan angin menjadi tentara Allah untuk mengahancurkan kaum yang zalim.

Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu bala tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Ahzab: 9).

Tentara Allah
Setiap orang yang punya niat untuk menyelamatkan agama Allah, untuk mengajarkan agama Allah, dan menumpas segala kemungkaran yang bertentangan dengan hukum Allah, maka mereka termasuk bagian dari tentara-tentara Allah.

Akhir-akhir ini Aceh, bahkan Indonesia dihebohkan dengan sosok Kapolres Aceh Utara, AKBP Ahmad Untung Suarianata yang bercita-cita menumpas kebatilan di wilayah hukumnya, khususnya penumpasan abang-abang waria. Bahasa lain bisa dikatakan Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT), walau beda tipis.

Patut diacungi jempol atas kebijakan Kapolres Aceh Utara disaat Mahkamah Konstitusi seakan melegalkan LGBT dan kumpul kebo. Sebab persoalan LGBT di Indonesia sedang menjadi tolak tarik oleh pemerintah. Sebagian mereka mendukung dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM). Dan sebagian besar lainnya menolak LGBT dengan dalih haram dan HAM pula. Pro-kontra tersebut membuat masyarakat normal semakin resah, sebab LGBT menjadi satu dari ratusan penyakit masyarakat. Nyatanya polisi di Indonesia sulit menertibkan LGBT dengan alasan tidak ada aturan yang melarang komunitas LGBT.

Sejatinya, instansi kepolisian ada UU No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Polisi punya tugas dan kewenangan tertentu sebagaimana dalam Pasal 14 poin c, “membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan”. Lebih lanjut dalam Pasal 15 poin c disebutkan, “mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat”.

Makna ini sangat umum, kalau dilenturkan bisa jadi LGBT dikategorikan sebagai tindakan yang super meresahkan masyarakat. Disamping itu sangat bertentangan dengan hukum Allah. Faktanya, penyakit masyarakat yang setiap hari ditegakkan oleh polisi adalah perjudian, narkoba dan miras. Belum merambah pada mengamankan dan membina pelaku LGBT.

Dasar hukum tersebut seyogianya sudah cukup bagi Satuan Polisi Republik Indonesia untuk menertibkan prilaku menyimpang kaum LGBT dan waria di Tanah Air. Khusus di Aceh, polisi dan polisi syariat atau Wilayatul Hisbah (WH) mempunyai payung hukum yang lebih kuat untuk menertibkan waria dan LGBT. Dalam Qanun Aceh No.6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah, banyak menyinggung persoalan LGBT. Lesbian dan gay semakna dengan liwath dan musahaqah.

Dalam pasal umum ayat (28) disebutkan, Liwath adalah perbuatan seorang laki-laki dengan cara memasukkan zakarnya kedalam dubur laki-laki yang lain dengan kerelaan kedua belah pihak. Berikutnya ayat (29); Musahaqah adalah perbuatan dua orang wanita atau lebih dengan cara saling menggosok-gosokkan anggota tubuh atau faraj untuk memperoleh rangsangan (kenikmatan) seksual dengan kerelaan kedua belah pihak.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help