Dua Alumnus MUQ Jadi Imam di Arab

Dua alumnus Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air Banda Aceh, lolos seleksi menjadi imam, muazin, dan musyrif

Dua Alumnus MUQ  Jadi Imam di Arab
MUZAKIR Abdurrahman (kanan) dan Munawir Darwis saat mengikuti seleksi di Jakarta beberapa waktu lalu.IST 

BANDA ACEH - Dua alumnus Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Pagar Air Banda Aceh, lolos seleksi menjadi imam, muazin, dan musyrif, untuk Uni Emirat Arab (UEA). Dua alumnus MUQ itu yakni Muzakir Abdurrahman asal Aceh Timur dan Munawir Darwis yang tercatat sebagai imam Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Informasi tersebut diperoleh Serambi kemarin, dari dokumen pengumuman yang dikeluarkan Direktur Keagamaan Islam Kementerian Agama RI di Jakarta, tertanggal 1 Februari 2018, kedua qari Aceh itu lolos seleksi bersama 14 imam lainnya dari seluruh Indonesia, dan akan berangkat ke Uni Emirat Arab (UEA) pada April 2018.

Muzakir Abdurrahman yang dihubungi Serambi, Jumat (2/2) mengatakan, proses seleksi tersebut dilakukan melalui Kementerian Agama per 11 Januari lalu. Seleksi dimulai di daerah asal calon imam pada awal Januari 2018. “Di Aceh, ada 20 peserta yang dites oleh ustaz Amin Chusaini dan ustaz Zulfikar. Keduanya merupakan hafiz asal Aceh,” ujarnya.

Lolos di Aceh, Muzakir dan Munawir berhak ke seleksi tahap selanjutnya yang digelar di Hotel Millenium Tanah Abang, Jakarta, pada akhir bulan lalu. Di sana, mereka juga berhasil lolos dalam tes yang dilakukan Badan Auqaf Negara Uni Emirat Arab.

“Materi yang dites mencakup hafalan Quran, bahasa Arab, dan membaca kitab. Alhamdulillah, saya dan Munawir Darwis berhasil lolos,” kata Muzakir, dan menyebut seleksi imam itu diikuti 400 peserta dari seluruh Indonesia. Disebutkan, panitia mensyaratkan para peserta bisa menghafal Alquran minimal 10 juz, mampu berbahasa Arab, dan bisa membaca literatur Arab secara baik.

Menurutnya, ke-16 imam termasuk dirinya akan dikontrak pihak UEA selama dua tahun dan bisa diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi. Terkait posisi apa yang akan ditempatinya, Muzakir mengaku akan ditentukan setelah enam bulan pertama. “Enam bulan pertama ini masa penentuan, apakah saya akan ditugasi untuk menjadi imam, muazin (imam pengganti), atau musyrif (pembimbing),” jelasnya.

Sekaligus Duta Indonesia
PADA bagian lain, Muzakir Abdurrahman mengatakan bahwa selain menjadi imam, mereka juga dipercayakan sebagai duta Indonesia yang bertugas meningkatkan hubungan bilateral antarnegara. Dia bersyukur dan mengapresiasi UEA yang telah memercayakan imam asal Indonesia untuk memimpin shalat di banyak masjid di sana. “Padahal negeri lain juga menyumbang banyak hafiz kelas dunia. Menurut saya kepercayaan ini harus dijaga,” katanya.

Muzakir menambahkan, program pengiriman imam yang hafiz ke luar negeri merupakan program penguatan dakwah oleh Kementerian Agama RI. Dikatakan, tahun lalu tercatat sebanyak 14 imam, muazin, dan musyrif dari Indonesia yang diberangkatkan ke UEA.(fit)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved