Home »

Opini

Opini

Kalheuh Pajoh Bu?

UREUNG Aceh, dalam tradisi menikmati makanan terdapat istilah pajoh bu beuleu-leu, engkot beu cut cut

Kalheuh Pajoh Bu?
Pengungsi etnis Rohingya asal Negara Bruma Myanmar antrean mengambil makanan sahur untuk berpuasa di posko utama penampungan sementara Desa Blang Ado, Kuta Makmur, Aceh Utara, Aceh, Minggu (21/6). Sebanyak 1.759 orang pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang tersebar di lima lokasi penampungan di Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa dan Aceh Tamiang menunggu untuk diverifikasi maupun. ANTARA FOTO/Rahmad 

(Mengulik Kebiasaan ‘tidak Sehat’ Pola Makan Orang Aceh)

Oleh Cut Eka Zuliyanti

UREUNG Aceh, dalam tradisi menikmati makanan terdapat istilah pajoh bu beuleu-leu, engkot beu cut cut (makan nasi banyak-banyak, makan ikan sedikit). Sebab ada anggapan jika mengonsumsi banyak ikan, maka anak akan cacingan, sehingga yang dipahami anak-anak bahwa makanan itu hanya nasi, jadi jika belum makan nasi, sama artinya dengan belum makan. Di lingkungan masyarakat Aceh, ada sebuah pertanyaan yang rutin kita dengar sehari-hari, kalheuh pajoh bu?

Jika pertanyaan tersebut dilontarkan pada orang Aceh yang telah menyantap mie, misalkan, maka jawabannya adalah belum. Karena yang dimakan adalah mie, bukan nasi. Bukan nasi, artinya bukan makan. Apalagi di Aceh, ada yang namanya bu beungoh (sarapan pagi), bu cot uroe (makan siang), dan bu malam (makan malam). Kalau tidak bersentuhan dengan nasi rasanya tidak sah, walaupun sudah menghabiskan 2 bungkus roti, 1 mangkok bakso, dan sepiring mie, tetap saja nasi menjadi santapan yang akan terasa salah jika dilewatkan.

Hal tersebut tidak salah, karena sumber energi manusia berasal dari karbohidrat yang memang banyak terdapat dalam nasi. Sayangnya, kebutuhan karbohidrat tubuh untuk dibuat menjadi energi, terkadang tidak sebesar asupan kita pada umumnya. Banyak orang sering makan nasi dalam jumlah yang berlebihan, justeru membuat tubuh kelebihan karbohidrat dan hal ini tidak baik bagi tubuh. Belum lagi kebanyakan orang Aceh makan nasi dalam porsi banyak, ditambah dengan Mie Aceh yang terkenal kelezatannya.

Sayangnya setelah menikmati makanan yang banyak karbohidratnya, tidak diikuti dengan konsumsi sayur-mayur dan buah-buahan. Makanan yang dimakan bersama nasi, seperti kuah atau ikan juga dimasak dengan menggunakan santan. Bagi orang Aceh, makanan berlemak menjadi favorit saat menyantap nasi. Misalnya kari kambing, kari dan gulai bebek, gulai ayam, gulai telur, gulai otak, sie reuboh, bahkan sayuran kita pun mengandung santan dan lemak, semisal pliek-u. Kerupuk andalan Aceh yang kerap kita konsumsi juga mengandung kadar purin tinggi, yakni kerupuk mulieng.

Ditambah lagi dengan kebiasaan orang Aceh yang doyan minum teh atau kopi dengan rasa yang sangat manis. Orang Aceh biasa minum dengan rasa manis yang sangat kental. Dengan keberadaan warung kopi yang begitu banyak, maka memberikan kesempatan pada orang-orang untuk selalu menghabiskan waktu di warung kopi. Setiap ada pertemuan atau pembicaraan dilakukan di warung kopi, saat itu mereka mengkonsumsi berbagai macam kue dan minuman. Manis, manis, dan manis.

Diabetes mengancam
Dengan pola makan yang demikian, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016, hampir 500.000 orang (9,8%) dari total penduduk Aceh yang berjumlah 5.096.248 jiwa mengalami diabetes mellitus (DM) atau kencing manis. Angka ini berada di atas rata-rata Nasional yang jumlahnya hanya 5,8%, sehingga Aceh berada di peringkat 5 terbanyak mengalami penyakit diabetes, setelah Maluku di urutan pertama dan tiga provinsi lain.

Di samping itu, kata dr Hendra, angka prediabetes juga tinggi di Aceh, yaitu 14,5%. Prediabetes adalah istilah untuk tahap penanda awal dari penyakit diabetes tipe II, ketika level gula darah mulai melebihi batas normal. Namun, belum terlalu tinggi untuk dapat dikategorikan sebagai penyakit DM tipe II. DM adalah penyakit di mana kadar gula di dalam darah tinggi, karena tubuh tak dapat melepaskan atau menggunakan insulin. Insulin adalah hormon yang dibuat oleh pankreas, merupakan zat utama yang bertanggung jawab dalam mempertahankan kadar gula darah (Serambi, 17/4/2017).

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menyebutkan, prevalensi penderita DM di Aceh mencapai 8,7% dan merupakan tertinggi secara Nasional. Pada 2011 menurut survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI, Aceh masuk dalam daftar 9 besar daerah Indonesia yang penduduknya banyak menderita penyakit DM. Diperkirakan jumlahnya mencapai 417.600 penderita atau sekitar 8,7% dari total penduduk Aceh.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help